Polemik RUU HIP Di Bulan Pancasila

Oleh : Rahmad, M.Pd. | Jumat, 19 Juni 2020 - 08:54 WIB

Rahmad, M.Pd.
Rahmad, M.Pd.

INDUSTRY.co.id - Sejak disahkan secara konstitusional pada 18 Agustus 1945, Pancasila dapat dikatakan sebagai dasar (falsafah) negara, panangan hidup, ideology nasional dan ligatur (pemersatu) dalam perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia (Yudi Latif, 2011:41).

Pancasila sebagai satu-satunya ideologi atau sebagai dasar negara telah ditegaskan oleh Presiden ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui UU nomor 12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. Kedudukan Pancasila dapat dilihat pada pasal 2 dalam Undang-undang tersebut yaitu Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum.

Hal tersebut juga bersesuaian dengan TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 (juncto TAP MPR No.V/MPR/1973, juncto TAP MPR No.IX/MPR/1978) yang menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia (Kurnisar, 2011).

Hal yang menjadi perhatian bersama adalah adanya Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang telah disahkan sebagai salah satu RUU inisiatif DPR dalam rapat paripurna yang digelar pada 12 Mei 2020.

RUU tersebut ternyata mendapat respon yang beragam dari masyarakat, ada yang kencang menolak, bersikap hati-hati atau malah mendukung RUU tersebut. RUU ini mendapat dukungan sepenuhnya dari 7 fraksi di DPR sebelum disahkan sebagai inisiatif dewan dalam Rapat Paripurna pada 12 Mei 2020. Ketujuh fraksi tersebut (cnnindonesia.com) adalah F-PDI Perjuangan, F-PG, F- PGerindra, F-PNasdem, F-PKB, F-PAN, dan F-PPP).  

Hal yang menjadi pemicu polemik tersebut bermuara pada dua masalah utama yaitu pada pasal 7 terkait intisari atau “pemerasan” Pancasila menjadi trisila dan ekasila serta tidak dimuatnya TAP MPRS XXV/1966 tentang larangan komunisme/marxime sebagai konsideren RUU tersebut.

Hal ini tentu menjadi kontroversi karena komunisme, marxisme, dan leninisme masih dianggap sebagai paham atau aliran yang berbahaya. Bahkan terkait pelarangan tersebut dapat dikatakan final karena berdasarkan TAP MPR Nomor I Tahun 2003 disebutkan bahwa tidak ada ruang hukum untuk mengubah atau mencabut TAP MPRS XXV Tahun 1966.

Ketiadaan TAP MPRS XXV/1966 tersebut bahkan memunculkan prasangka yang “tidak baik” dari organisasi yang memposisikan diri pada pihak yang kontra dengan pembahasan RUU tersebut. Beberapa pihak yang menyorot secara tajam RUU HIP antara lain adalah Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan PP ISNU yang tidak sepakat dan minta agar RUU tersebut dibatalkan.

MUI bahkan mengatakan unsur-unsur dalam RUU HIP mengaburkan dan menyimpang dari makna Pancasila, salah satunya bagian Trisila dan Ekasila yang dinilai sebagai upaya memecah Pancasila. Muhammadiyah bahkan memandang RUU itu tidak urgent, bahkan beberapa pasal berpotensi menimbulkan kontroversi dan bertentangan dengan UUD 1945.

Selanjutnya organisasi yang juga mempertanyakan esensi RUU ini adalalah Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) yang menyatakan,bahwa RUU HIP dapat memunculkan potensi penafsiran tunggal Pancasila, yang tentu dikhawatirkan akan bertentangan dengan semangat dan dinamika kehidupan berbangsa saat ini. 

Konsep Pancasila, trisila kemudian ke ekasila kalau kita lihat secara historis merupakan pemikiran Soekarno dalam proses rapat BPUPKI yang kemudian secara konstitusional memutuskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara pada rapat PPKI pada tanggal 18 Agustus yang bersepakat bahwa asas atau ideologi negara adalah Pancasila bukan yang trisila atau ekasila dan hal tersebut telah bersifat final. Jadi sejatinya pemikiran Soekarno terkait, merupakan fakta historis tetapi tentu tidak menjadi sebuah definisi tunggal terkait Pancasila.

RUU tersebut memang masih berada di DPR dan belum dibicarakan apalagi sah menjadi UU. Tetapi besarnya harapan publik agar Pemerintah dan DPR memperhatikan kekhawatiran bahkan penolakan yang ada di masyarakat terkait RUU tersebut tidak dapat dikesampingkan.

Kita ketahui bersama bahwa DPR memiliki fungsi legislasi yang salah satunya adalah menyusun dan membahas Rancangan Undang-Undang (RUU). DPR juga mempunyai hak inisiatif, yaitu hak untuk mengajukan usul terhadap rancangan Undang-Undang untuk dibahas bersama pemerintah. Kita tentu menghormati fungsi dan hak yang dimiliki DPR sesuai amanat konstitusi yang berlaku.

Pada sisi lain kita tentu harus bahagia melihat bahwa di Indonesia fungsi kontrol masyarakat sejatinya telah berjalan dengan baik, bahwa ada kritik terhadap suatu produk hukum yang belum disahkan menjadi gambaran bahwa masyarakat kita memang telah mampu untuk menjadi pengawas lembaga negara agar dapat melihat suasana psikologis masyarakat yang memang tidak menginginkan adanya kekuatan baik dari dalam ataupun luar untuk yang menghancurkan ideologi Pancasila yang dipandang sebagai ideology yang paling tepat bagi bangsa Indonesia.

Terbukanya suasana demokrasi ini juga tentu menjadi sebuah gambaran bahwa semokrasi di negara kita telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Perbedaan pendapat tentu menjadi ciri lain bahwa demokrasi kita telah berjalan cukup baik, namun yang memang sangat penting adalah bahwa masyarakat memang tidak menginginkan adanya kesempatan sekecil apapun yang apat membahayakan ideologi negara ini, dan semoga DPR pun menyikapi saran bahkan kritik ini dengan arif.
  

Oleh : Rahmad, M.Pd.
Dosen IAIN Palangka Raya

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

29 Tahun Tupperware

Minggu, 12 Juli 2020 - 22:10 WIB

Berkat Inovasi Produk, Tupperware Tetap Menjadi Kesayangan 'Mama' Selama 29 Tahun

Di Indonesia, tepat 29 tahun yang lalu Tupperware hadir di tengah masyarakat, ya! 29 tahun, sebuah perjalanan yang tidak singkat bagi sebuah merek untuk dapat terus eksis dan di cintai, terlebih…

Eksotisme Goa-Goa Pangandaran, Seiring Wista Seru di Era New Normal

Minggu, 12 Juli 2020 - 21:15 WIB

Eksotisme Goa-Goa Pangandaran, Seiring Wisata Seru di Era New Normal

Wisata seru di era new normal, Anda bisa mencoba menelusuri jejak zaman prasejarah lewat goa-goa Pangandaran, Jawa Barat, yang eksotis.

Bijak dan Cerdas Siaran Melalui Sosial Media

Minggu, 12 Juli 2020 - 20:17 WIB

Keluarga Bisa Jadi Pintu Masuk Untuk Literasi Digital

Jakarta-Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran belum juga kelar. Banyak pihak menyarankan supaya inisiatif dilakukan di tingkat masyarakat.

Penampakan group musik Weird Genius di Times Square AS

Minggu, 12 Juli 2020 - 20:10 WIB

Muncul di Times Square, Group Musik Asal Indonesia Ini Bikin Masyarakat AS Mabuk Kepayang

Weird Genius, sebuah grup musik yang digawangi Reza Arap, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu, mengumumkan sebuah kabar gembira bagi penggemar mereka. Belum lama ini dikabarkan jika karya mereka mendapat…

PLUT Jembrana

Minggu, 12 Juli 2020 - 19:45 WIB

Meski Baru 'Seumur Jagung', PLUT Jembrana Berhasil Dorong UMKM Sekitar Naik Kelas

Usia Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Jembrana, Bali masih seumur bayi, satu tahun. Walaupun baru lahir, PLUT Jembrana mampu menorehkan berbagai jejak untuk mengembangkan UMKM…