Kementan Kawal Gerakan Pengendalian Spodoptera Frugiperda

Oleh : Wiyanto | Rabu, 29 Januari 2020 - 15:24 WIB

Petani jagung
Petani jagung

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Bulan Januari ini merupakan masa panen jagung di Kabupaten Gowa. Aktivitas memetik jagung yang telah menguning terlihat di berbagai wilayah. Tak terkecuali di Desa Sengka, Kecamatan Bontonompo Selatan. Panen kali ini terasa berbeda dengan panen tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya serangan hama baru yang menyerang tanaman jagung di Kab. Gowa.

Koordinator POPT Kab. Gowa, Nur Aisah membenarkan hal tersebut. “Tanaman jagung di wilayah kami biasanya diserang oleh ulat, tapi bukan hama ini. Biasanya hama yang menyerang adalah Spodoptera litura. Sementara serangan pada bulan Oktober ini bukan spesies yang biasanya, melainkan spesies hama baru”.

Ketika petani mendapati tanaman jagungnya terserang hama, umumnya ia pergi ke kios pertanian untuk membeli racun, pestisida kimia sintetis. Dengan bekal insektisida seadanya, petani menyemprot jagungnya dengan harapan hama akan mati. Namun ternyata yang didapat tidak sesuai dengan bayangan. Hamanya masih hidup dan tanaman semakin rusak parah. Beruntungnya di masa keputusasaan itu, petani menceritakan apa yang ia alami kepada petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) setempat.

Petugas POPT segera melaksanakan monitoring lapangan di lokasi kejadian, serta memberikan rekomendasi tindakan yang perlu dilakukan. Nur Aisah menyampaikan “Hasil monitoring dan identifikasi kami menyatakan bahwa hama baru ini adalah Spodoptera frugiperda. Meskipun baru pertama kali ditemukan disini, tetapi serangannya sudah menyebar di beberapa kecamatan di Kab. Gowa, yaitu Kec. Bontonompo Selatan, Biringbulu dan Somba Opu. Dengan tingkat serangan dan populasi yang sudah tinggi di lapangan, maka perlu dilakukan gerakan pengendalian (gerdal)”.

Gerdal dilaksanakan dengan kerjasama antara pemerintah dan petani, dimana Pemerintah menyediakan bahan pengendali berupa insektisida sesuai rekomendasi, sementara petani menyediakan waktu dan tenaganya untuk melaksanakan gerdal. Gerdal dimulai dengan bimbingan teknis singkat tentang jenis hama yang menyerang serta teknik pengendalian yang tepat. Pengendalian UGF dilaksanakan dengan menyemprotkan insektisida langsung pada gulungan daun muda, karena ulat/larva UGF bersembunyi didalamnya. Teknik ini menjadi kunci keberhasilan gerdal UGF di lapangan.

Hasil pengamatan OPT pasca gerdal menunjukkan bahwa populasi hama turun secara nyata, diikuti dengan tanaman jagung yang tumbuh kembali dengan tunas-daun baru. Selain itu, gerdal yang dilaksanakan juga berfungsi menghilangkan sumber inokulum UGF bagi tanaman jagung di sekitarnya yang berjumlah 300 ha. Dengan demikian, amanlah hamparan jagung sekeliling dari serangan UGF.

Perkembangan tanaman jagung pasca gerdal cukup menggembirakan. Tanaman mampu pulih, tongkol muncul dan mulai terisi. Hal ini memberikan harapan baru bagi petani Sengka dimana pada awalnya telah kehilangan harapan panen. Rumbu merasa senang karena meskipun tanaman jagungnya habis-habisan terserang hama UGF, ternyata masih bisa panen! “Alhamdulillah saya bisa panen. Walaupun hasil yang didapat agak sedikit turun, tapi ternyata tanaman saya masih bisa panen”, tuturnya.

Petani Sengka, Rumbu menyatakan kegembiraannya bahwa kegiatan gerdal memberikan dampak positif bagi berkurangnya populasi hama UGF. “Dengan adanya Gerdal ini, saya dan petani lainnya merasa tertolong karena masih bisa merasakan panen padahal sebelumnya kami sudah pasrah tanaman jagung kami tidak bisa selamat dari serangan hama ini” ujar Rumbu.

Berkat gerdal yang dilaksanakan bulan Oktober lalu, Rumbu yang memiliki lahan seluas 0,2 ha saat ini bisa panen jagung dengan hasil 1.300 kg pipil kering. Sementara pada musim sebelumnya dimana tidak ada serangan hama UGF, panen mencapai 1.450 kg. Meskipun susut sekitar 10%, ia merasa senang karena masih bisa panen. Gerdal memberikan harapan pagi petani agar tetap mendapatkan hasil di saat panen nantinya, meskipun terserang hama.

Pada kesempatan yang terpisah, Deddy Ruswansyah (Kasubdit Teknologi Pengendalian OPT – Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan) menyatakan perlunya melaksanakan monitoring dini. “Semakin dini pengamatan dilakukan, maka hama tanaman akan lebih cepat dideteksi. Dengan demikian maka tindakan pengendalian dapat dilaksanakan lebih awal dengan teknik pengendalian yang sesuai,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Deddy menyampaikan kunci keberhasilan gerdal sebisa mungkin memenuhi unsur 6 TEPAT (Tepat sasaran, jenis, dosis, cara, waktu dan mutu). Karena gerdal merupakan kegiatan massal, maka hendaknya dilaksanakan dalam hamparan yang luas secara bersamaan dalam satu waktu sehingga gerdal yang dilakukan memberikan hasil yang optimal.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Kemendag di Sidney Australia

Minggu, 16 Februari 2020 - 22:05 WIB

Mengintip Nutrisoy dan ITI, Industri Tahu Tempe dan Kayu Karya Diaspora Indonesia di Sydney Australia

Pangsa pasar Nutrisoy saat ini 90 persen dipasarkan di Australia. Sedangkan 10 persennya adalah untuk ekspor tujuan Selandia Baru, Kaledonia Baru, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Nutrisoy memproduksi…

Indonesia - Australia

Minggu, 16 Februari 2020 - 21:28 WIB

Dari Sidney, Kemendag Bawa Potensi Dagang Senilai USD 2,4 Juta

Sydney, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Dody Edward dan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo mengikuti rangkaian Forum Bisnis Indonesia-Australia…

Pintu Air Pasar Kordon Buahbatu

Minggu, 16 Februari 2020 - 19:44 WIB

Podomoro Park Perbaiki Pintu Air Pasar Kordon Buahbatu

Meskipun tidak separah tahun lalu, tingginya curah hujan di awal tahun 2020 membuat beberapa wilayah di Bandung tergenang banjir. Normalisasi Sungai Citarum oleh Satgas Citarum Harum, serta…

Bambang Soesatyo Ketua DPR RI (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 16 Februari 2020 - 19:00 WIB

Penggeledahan Kasus Jiwasraya-Asabri, Ini Pendapat Ketua MPR RI

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi Jaksa Agung yang menetapkan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto sebagai tersangka baru kasus korupsi di tubuh PT Asuransi Jiwasraya. Dengan…

Prabowo Subianto dan Jokowi

Minggu, 16 Februari 2020 - 19:00 WIB

Survei Membuktikan, Menhan Prabowo Subianto Menteri Paling Meroket Kinerjanya

Lembaga survei Indo Barometer merilis tingkat popularitas dan kinerja para menteri dalam 100 hari kerja pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin