Ketika Investor Wait & See Menanti Hasil Pemilu 2019

Oleh : Ahmad Fadli | Senin, 15 April 2019 - 19:42 WIB

Pemilu 2019(Foto Dok Industry.co.id)
Pemilu 2019(Foto Dok Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id, Jakarta -Pemilihan umum di Indonesia tinggal menghitung hari. Hampir seluruh aspek di negeri ini menantikan hajatan besar politik itu, termasuk dunia investasi. 

Investor diprediksi sedang mencermati penyelenggaraan pemilu Indonesia. Menurut Bank Commonwealth dari sisi data historis menunjukkan dalam tiga penyelenggaraan Pemilu terakhir, enam bulan setelah Pemilu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan return positif. 

Pemilu yang umumnya disertai dengan pertumbuhan ekonomi umumnya akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Oleh karena itu Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang.

Banyak faktor yang membuat pemilu memberikan efek tersendiri. Sejak Maret 2019, Investor global kembali melihat emerging market sebagai tujuan investasi, seiring dengan data indikator ekonomi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Tiongkok. 

Perlambatan pertumbuhan ekonomi negara maju tersebut disebabkan oleh keyakinan pelaku usaha yang melemah, ekspor yang menurun, masalah Brexit yang masih belum selesai di Eropa, dan belum meredanya ketegangan hubungan dagang antara AS dan Tiongkok.

Selain itu, perundingan perang dagang kembali menjadi sentimen yang menggerakkan pasar keuangan selama Maret 2019. Setelah sebelumnya diharapkan akan dapat diselesaikan di bulan Maret 2019.

Sementara dari Eropa, pemerintah Inggris masih belum mendapatkan kesepakatan dengan parlemen Inggris mengenai kelanjutan Brexit. Di bulan Maret lalu, The Federal Reserve (The Fed) melakukan pertemuan yang membahas mengenai penetapan suku bunga acuan AS. 

Sesuai dengan ekspektasi pasar, Federal Reserve (The Fed) Bank Central Amerika Serikat (AS), kembali menahan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR). Selain itu, The Fed memberikan sinyal tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini. 

Hal ini menunjukkan bahwa The Fed menyadari adanya perlambatan perekonomian dunia, dan The Fed juga mengkoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2019 dari 2,3% ke 2,1%.

Wait and see

Di April 2019, investor asing akan mencermati pemilu di Indonesia. Ada beberapa kemungkinan investor asing akan coba mengambil langkah awal terlebih dahulu atau mungkin juga masih wait and see hingga hasil pemilu keluar.

Berdasarkan data historis di tiga pemilu sebelumnya, pasar saham Indonesia menghasilkan return yang positif dalam jangka waktu 6 bulan setelah pelaksanaan Pemilu. 

Enam bulan setelah Pemilu 2004, IHSG naik sebesar 41%, sementara di 2009 enam bulan setelahnya naik sebesar 25%, dan di 2014 IHSG mencatatkan return sebesar 4%.

"Dalam menentukan apakah pasar saham suatu negara akan positif atau tidak, data historis memang dapat dijadikan acuan, namun ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti hasil laporan keuangan emiten, fundamental ekonomi, serta iklim investasi suatu negara," kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya dalam keterangan tertulisnya.

Sementara pasar saham Indonesia tercatat mengalami kenaikan di Maret 2019 sebesar 0,39% setelah sebelumnya terkoreksi pada bulan Februari 2019. Di April, menjelang Pemilu, investor asing kembali melirik Indonesia. 

Bank Commonwealth pun masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama karena potensi imbal hasilnya yang lebih menarik dibandingkan reksa dana lainnya.

Ivan melanjutkan, laporan keuangan emiten Indonesia sepanjang 2018 juga masih tercatat positif. Kemudian, secara fundamental, ekonomi Indonesia juga masih masuk kategori baik, ditambah dengan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga iklim ekonomi yang kondusif adalah bahan bakar untuk pertumbuhan ekonomi 2019 yang diprediksi ada di kisaran 5,0%-5,4%. 

"Dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang umumnya bergerak positif ke pertumbuhan pasar saham, untuk investasi yang sifatnya jangka menengah-panjang (minimal 1 tahun), kami lebih melihat reksa dana saham sebagai pilihan utama dengan mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio. Karena di tahun 2019 ini, potensi kenaikan saham lebih menarik dibandingkan dengan aset kelas lainnya," tambah Ivan. 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Orang Utan

Senin, 23 Mei 2022 - 11:00 WIB

Program Konservasi Orangutan TPA Turunkan Potensi Konflik Antara Orangutan-Manusia Hingga 98,5%

Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia atau International Day for Biological Diversity diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Mei. Sebagai negara yang dikaruniai alam subur dan memiliki keanekaragaman…

Kementerian Kesehatan Arab Saudi bersama Binawan Merekrut 220 Perawat Indonesia

Senin, 23 Mei 2022 - 10:53 WIB

Kementerian Kesehatan Arab Saudi bersama Binawan Merekrut 220 Perawat Indonesia, Ini Syaratnya

Kementerian Kesehatan Arab Saudi membuka kembali kesempatan untuk perawat Indonesia untuk bisa bekerja di Arab Saudi. Tahun ini Binawan dipercaya kembali untuk menjadi mitra kerja MOH dalam…

Komunitas The Famous Club Laksanakan Senam Bersama

Senin, 23 Mei 2022 - 10:41 WIB

Komunitas The Famous Club Laksanakan Senam Bersama

Senam pagi merupakan suatu aktifitas fisik yang perlu diadakan untuk menjaga kebugaran jasmani. Gerakan-gerakan senam pagi bermanfaat untuk melatih otot-otot pada tubuh, melancarkan peredaran…

Tarak Mehta, Presiden ABB Motion

Senin, 23 Mei 2022 - 10:30 WIB

ABB Global Survei Ungkap Upaya Percepatan Efisiensi Energi Oleh Industri Global

Industri global menunjukkan intensifikasi percepatan investasi efisiensi energi di lima tahun ke depan dalam rangka mewujudkan target Nol Emisi, menurut sebuat survei terbaru, The Energy Efficiency…

Kota Tokyo, Jepang. (Foto Ist)

Senin, 23 Mei 2022 - 10:15 WIB

Bulan Depan Jepang akan Menggandakan Batas Kedatangan Luar Negeri

Bulan depan Jepang akan menggandakan batas kedatangan luar negeri menjadi 20.000 per hari, kata juru bicara pemerintah pada Jumat (20/5/2022).