INDUSTRY.co.id - Jakarta,  Guna mendukung pencapaian tahun ini, PT Timah (Persero) Tbk akan anggarkan belanja modal selama 2017 sekitar Rp2,65 triliun.

Pada 2017, Timah menargetkan produksi bijih timah, produksi logam, dan penjualan masing-masing sebanyak 30.000 ton. Hal ini tentunya didukung dengan rencana perseroan melalui peningkatan kapasitas produksi baik penambangan maupun peleburan.

Ditahun lalu, produksi bijih perseroan sebanyak 24.121 ton atau lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya sekitar 26.361 ton. Produksi logam timah juga mengecil atau menjadi 23.756 metrik ton per akhir 2016 dari 27.431 metrik ton pada tahun sebelumnya.

Hal serupa juga terlihat dari penjualan logam timah yang tercatat hanya sebanyak 26.677 metrik ton pada 2016 dari 30.087 metrik ton per akhir 2015.

Kendati kinerja operasional perseroan menurun, namun kinerja keuangan berhasil ditingkatkan dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sekitar 148% atau menjadi Rp251,97 miliar per akhir 2016 dari tahun sebelumnya hanya Rp101,56 miliar.

Hal ini didukung dengan meningkatnya pendapatan sekitar 1,37% atau menjadi Rp6,97 triliun selama 2016 dari tahun sebelumnya Rp6,87 triliun. Bahkan beban pokok pendapatan berhasil ditekan sekitar 5,09% atau menjadi Rp5,87 triliun.

"Hal ini tentunya berkat strategi bisnis yang baik di tengah fluktuasi pasar komoditas, serta strateegi operasi dalam memeroleh bijih timah dengan biaya yang kompetitif," kata Sekretaris Perusahaan Sutrisno S Tatetdagat Selasa (28/2/2017).

Untuk menambah masa hidup perusahaan, ia menegaskan Timah akan fokus pada penemuan cadangan baru. Per 31 Desember 2016, jumlah cadangan Timah sebanyak 335.909 ton di mana 79% ata 264.806 ton berada di laut dan 21% atau 71.103 ton di darat.

Adapun jumlah sumberdaya Timah pada periode yang sama adalah 737.545 ton, di mana sekitar 33% di darat dan 67% di laut. (Hry/ Imq)