INDUSTRY.co.id - KENDAL - Produk baja buatan Kendal, Jawa Tengah, berhasil menembus pasar internasional. PT Auri Steel Metalindo melakukan ekspor perdana produk jadi baja ringan ke Australia pada Jumat, 2 Oktober 2026, sebanyak 60.000 batang, dengan potensi ekspor 6.000 ton per tahun senilai Rp 132 miliar.
Ekspor perdana ini menjadi pencapaian penting bagi Auri Steel sekaligus mencatatkan perusahaan sebagai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pertama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal yang mengekspor produk jadi baja ke luar negeri.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengawal langsung pelepasan ekspor tersebut ke Melbourne, Australia. Langkah ini dinilai menjadi bukti industri logam nasional mampu memenuhi standar mutu tinggi pasar global.
Direktur Industri Logam, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Eko Agus Nugroho, mengatakan ekspor ini harus menjadi awal hubungan dagang jangka panjang, bukan sekadar seremoni.
"Ekspor perdana kali ini tentu patut kita syukuri. Namun, yang jauh lebih penting agar tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi ini menjadi sebuah awal dari hubungan perdagangan yang berkelanjutan dan berlangsung jangka panjang," kata Eko di Kabupaten Kendal, Jumat (2/10/2026).
Menurut Eko, capaian Auri Steel sejalan dengan visi pemerintah untuk mendorong industri manufaktur berorientasi ekspor, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta memperkuat daya saing industri logam nasional.
"Langkah ini menjadi gambaran bahwa ketika kapasitas dan kualitas industri nasional terus diperkuat, produk yang dihasilkan di dalam negeri memiliki peluang untuk semakin luas menjangkau pasar internasional," ujarnya.
Eko mengatakan pihaknya akan terus mendorong industri nasional untuk terus mampu meningkatkan kapasitas produksinya dan berdaya saing global.
Adapun terkait capain ekspor, multiflier effect yang tercipta cukup luar biasa signifikan. Ia menyebut satu kontainer ekspor manufaktur dapat menggerakkan rantai ekonomi yang panjang,
"Artinya, satu ekspor itu dapat menggerakkan banyak roda ekonomi. Semakin besar ekspor industri manufaktur nasional, tentu akan semakin luas pula dampaknya terhadap penguatan ekosistem industri dan perekonomian di Indonesia," terang Eko.
Executive Director Kawasan Industri Kendal, Juliani Kusumaningrum, menyebut pencapaian Auri Steel sebagai momentum penting bagi industri manufaktur bernilai tambah tinggi.
"Pencapaian hari ini merupakan buah dari kerja keras, komitmen terhadap kualitas, dan visi strategis Auri Steel. Terlebih lagi, PT Auri Steel Metalindo menjadi perusahaan PMDN pertama yang berhasil mengekspor produk jadi baja ke luar negeri. Selama ini, ekspor sektor baja Indonesia banyak didominasi bahan mentah atau setengah jadi," ujar Juliani.
Menurutnya langkah ini menunjukkan bahwa industri manufaktur dalam negeri memiliki daya saing global, standar mutu internasional, dan kapasitas untuk menembus pasar ekspor seperti Australia.
Sementara itu, Direktur Utama PT Auri Steel Metalindo, Stanislaus Auripallas Pramana, mengungkapkan kebanggaan karena produk yang diproduksi di Kendal kini digunakan masyarakat Australia.
Padahal, teknologi baja ringan sendiri sejatinya berasal dari Australia.
"Seluruh tim Auri Steel tentu bangga karena hari ini produk yang kami produksi di Kendal bisa sampai ke Australia. Ini menjadi pencapaian penting dan sekaligus membuktikan bahwa perusahaan PMDN di Indonesia dapat tumbuh dan membawa produk dalam negeri ke pasar internasional," ungkap Auripallas.
"Hari ini, produk yang kami produksi di Kendal akan menempuh perjalanan ribuan kilometer dan akan digunakan oleh masyarakat Australia. Pada produk-produk tersebut, terdapat sebuah identitas yang ingin terus kami bawa ke dunia, yaitu made in Indonesia. Kami ingin suatu hari nanti, produk buatan Indonesia dikenal bukan karena harganya yang murah melainkan karena kualitasnya yang terbaik," tuturnya.
Sebagai informasi, PT Auri Steel Metalindo didirikan pada 28 September 2016. Perusahaan mengawali usaha dengan memproduksi baja ringan dan atap galvalum untuk kebutuhan konstruksi dengan kapasitas sekitar 5 ton per hari. Secara bertahap, kapasitas meningkat hingga 120 ton per hari pada akhir 2022.
Perkembangan tersebut tercermin dari pertumbuhan skala usaha. Nilai investasi meningkat dari sekitar Rp 180 miliar menjadi Rp 1 triliun. Jumlah tenaga kerja juga tumbuh dari 7 orang pada 2016, menjadi 100 orang pada 2022, dan saat ini mencapai 480 orang, dengan target 1.500 orang pada 2028.