INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Industri baja nasional berada di ujung tanduk. Lonjakan impor baja, terutama dari China, mengancam keberlangsungan produsen domestik.

Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (IISIA) mencatat impor baja hingga Agustus 2026 sudah menembus 7 juta ton. Angka itu hampir menyamai total impor sepanjang 2024 dan 2025 yang masing-masing 8 juta ton per tahun.

Ketua Umum IISIA Willgo Zainar menilai ancaman akan semakin besar. Kelebihan kapasitas baja dunia mencapai 640 juta ton, dengan 120 juta ton di antaranya berasal dari China.

Kondisi ini diperparah dengan hambatan perdagangan yang dihadapi China di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Akibatnya, limpahan produk berpotensi besar masuk ke Indonesia.

"Ada overproduksi baja dunia sekitar 640 juta ton dan 120 juta ton itu dari China sendiri, yang sekarang menghadapi trade barrier dengan Uni Eropa dan Amerika, tentunya akan masuk ke pasar Indonesia," kata Willgo.

Willgo meminta pemerintah memperkuat perlindungan melalui koordinasi Kementerian Perindustrian dengan kementerian dan lembaga terkait agar industri baja nasional tidak semakin terdesak.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry mengungkapkan kesenjangan kapasitas yang tidak seimbang. Kapasitas produksi China mencapai 1,2 miliar ton, jauh melampaui Indonesia yang hanya 18 juta ton.

"Impor pada tahun-tahun sebelumnya 8 juta ton per tahun. Sampai Agustus 2026 sudah 7 juta ton. Sampai akhir tahun tentu akan lebih banyak lagi," kata Ismail.

Menurut Ismail, derasnya impor membuat utilisasi industri baja nasional masih rendah, di kisaran 43-57 persen. Tekanan juga datang dari sisi energi.

"Industri baja nasional terancam gulung tikar akibat derasnya impor produk besi dan baja dari China. Di tengah lonjakan barang impor, utilisasi masih rendah, hanya 43-57 persen," ujarnya.

IISIA juga menyoroti keterbatasan pemanfaatan gas dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Industri baja hanya mampu menggunakan 60 persen dari kuota gas yang diperoleh karena pembatasan.

"Yang sekarang juga kami dapat kuota, tetapi hanya bisa kita gunakan hanya 60 persen saja dan kemudian dibatasi dengan kuota-kuota lainnya sehingga tidak bisa kita gunakan gas itu sebagai energi menggerakkan industri baja secara penuh," kata Ismail.