Industri Baja Nasional Butuh Investasi USD 14 Miliar

Oleh : Ridwan | Jumat, 18 Mei 2018 - 16:30 WIB

Industri Besi dan Baja (Ist)
Industri Besi dan Baja (Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri besi baja nasional membutuhkan total investasi senilai US$ 14 miliar hingga 2025. Investasi itu dibutuhkan untuk membangun fasilitas smelter industri besi baja dengan total kapasitas 14 juta ton.

“Kebutuhan crude steel (baja kasar) dalam 10 tahun ke depan naik hampir 2 kali lipat menjadi 19,12 juta ton. Untuk memenuhi permintaan tersebut, dibutuhkan investasi untuk pembangunan smelter baru dengan nilai total US$ 14 miliar,” kata Kepala Sub Direktorat Industri Logam Non-Fero Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi di Jakarta, Jumat (17/5/2018).

Andi mengungkapkan, peningkatan kapasitas produksi besi baja akan dilakukan secara bertahap. Pada 2015, pabrik milik PT Krakatau Posco direncanakan mulai berproduksi dengan kapasitas 3 juta ton crude steel. 

Selain itu, lanjutnya, akan ada peningkatan kapasitas produksi dari pabrik milik PT Krakatau Steel sebesar 1 juta ton crude steel. Dua tambahan ini akan meningkatkan kapasitas produksi domestik menjadi 10,84 juta ton.

Pada 2020, tambah Andi, bakal ada penambahan kapasitas sebesar 4 juta ton. Tambahan kapasitas ini berasal dari perluasan pabrik Krakatau Posco tahap II (3 juta ton) dan pengolahan produk yang dihasilkan PT Jogja Magasa Iron (1 juta ton).

“Tahun 2025, ditargetkan tambahan produksi 6 juta ton untuk memenuhi kebutuhan crude steel yang diperkirakan mencapai 19,12 juta ton,” ujar dia.

Andi melanjutkan, pihaknya meminta produsen besi baja untuk mengoptimalkan penggunaan bahan baku dalam negeri dalam memenuhi permintaan baja di pasar dalam negeri. Setidaknya, dibutuhkan bahan baku bijih besi sebanyak 250 juta ton dan pasir besi sebesar 110 juta ton untuk memenuhi permintaan produk besi baja pada 2025.

“Sementara itu, total kebutuhan energi untuk membangun fasilitas smelter industri besi baja dengan total kapasitas 14 juta ton pada 2025 adalah sebesar 1.174 megawatt,” jelas Andi.

Menurut Andi, industri besi baja di Indonesia masih menjanjikan pertumbuhan yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari konsumsi baja per kapita yang masih rendah. 

Hal senada diungkapkan Vice President Head of Market Research & Development PT Krakatau Steel Tbk Bimakarsa Wijaya yang mengungkapkan bahwa konsumsi baja per kapita Indonesia relatif rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia. 

"Pada 2013, konsumsi baja Indonesia hanya 52 kilogram (kg) per kapita, jauh di bawah Thailand yang sebanyak 253 kg per kapita, Malaysia 330 kg per kapita, dan Singapura 879 kg per kapita,” ujar dia.

Menurut Bimakarsa, kebutuhan baja nasional akan terus meningkat, dan ketergantungan terhadap produk impor juga semakin tinggi. Industri baja domestik harus tumbuh dan berkembang agar ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi. 

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, nilai impor produk besi baja pada 2013 mencapai US$ 12,59 miliar, lebih tinggi dari nilai ekspor yang hanya US$ 1,91 miliar.

Sementara itu, utilisasi industri ini masih cukup rendah, di kisaran 68%. Tercatat, jumlah perusahaan besi baja yang beroperasi di Indonesia pada 2013 sebanyak 352 perusahaan, dengan jumlah tenaga kerja 114.596 orang. 

Menurut Bima, industri ini mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi pada 2013, yakni sebanyak 10,74%. Total investasi yang masuk pada 2013 sebesar Rp 55,8 triliun. Sebanyak US$ 3,57 miliar dalam bentuk penanaman modal asing (PMA) dan Rp 21,89 triliun berupa penanaman modal dalam negeri (PMDN).

“Industri baja merupakan industri strategis dan merupakan industri ketahanan nasional, mengingat peran dan fungsinya dalam mendukung industri konstruksi-infrastruktur, manufaktur, dan pertahanan,” kata Bimakarsa.

Dia memprediksi, Indonesia akan menjadi pasar baja Asean terbesar, mengingat tingkat pertumbuhan ekonomi, geografi, dan infrastruktur. National interest (kepentingan nasional) terhadap industri baja nasional perlu mendapatkan perhatian lebih, mengingat kondisi yang berkembang dan persaingan global saat ini. 

Bimakarsa menambahkan, road map pertumbuhan industri baja nasional harus memerhatikan struktur fundamental, proyeksi supply demand, kapasitas, dan teknologi.

“Pembangunan industri baja dalam negeri sebaiknya diarahkan untuk lebih ditujukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasar domestik. Konsumsi baja tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi 84-100 kg per kapita,” tutup dia.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Tulisan curhat Beny Cokro

Minggu, 23 Februari 2020 - 15:40 WIB

Tulisan Tangan Beredar, Benny Tjokro: Jangan Demi Gengsi Pimpinan BPK RI & Kejagung Mengorbankan Hanson

Tolong BPKRI dan Kejagung periksa juga pembelian saham langsung maupun lewat manajer manajer investasi tahun 2006-2016. Siapa aja yang buat lubang awal Jiwasraya. BPK RI tolong jangan memaksakan…

Pembangunan Jalan Tol

Minggu, 23 Februari 2020 - 15:07 WIB

Seksi 4 Jalan Tol Banda Aceh-Sigli Ditargetkan Rampung Sebelum Idul Fitri 2020

Presiden menilai pembebasan lahan pembangunan jalan tol pertama di Aceh tersebut berjalan dengan sangat baik sehingga diharapkan pekerjaan konstruksi dapat selesai sesuai target pada 2021.

Sriwijaya Air (foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 23 Februari 2020 - 15:00 WIB

Dukung Industri Pariwisata, Sriwijaya Air Reoperate Flight Jakarta – Belitung PP

Pantai Tanjung Kelayang, Pantai Tanjung Tinggi, Museum Kata Andrea Hirata dan Danau Kaolin merupakan deretan destinasi wisata terbaik yang ada di Belitung. Belum lagi bila ditambahkan dengan…

Qlue hadir di Kota Tomohon

Minggu, 23 Februari 2020 - 14:48 WIB

Qlue Rambah Kota Tomohon Hadirkan Berbagai Solusi Smart City

Hadirnya Qlue di Tomohon akan memperkuat Tomohon Smart City untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan warga

Ketua Adara, Nurjanah Hulwani kiri

Minggu, 23 Februari 2020 - 14:45 WIB

Deklarasi Forum Ormas dan Lembaga Perempuan Indonesia untuk Palestina

Di tahun 2020 ini, Adara Relief International telah berkiprah selama 12 tahun dalam misi kemanusiaan dengan fokus membantu perempuan dan anak Palestina.