INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kekhawatiran banyak pihak terkait potensi masalah yang timbul pada tahun politik 2018 dan 2019 dan mengganggu stabilitas ekonomi, tidak akan terjadi selama tidak terjadi kekacauan atau 'chaos', kata seorang ekonom.

Advertisement

"Terkait masalah politik, selama tidak terjadi 'chaos', tidak apa-apa. Seperti pada 1998 di mana ekonomi betul-betul hancur. Selama tidak 'chaos', tidak akan buat pertumbuhan ekonomi kita minus atau kontraksi," kata ekonom senior dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Toni A Prasetiantono dalam Dialog Akhir Tahun dan Temu Media "Outlook Pembangunan 2018: Tantangan di Tahun Politik" di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (18/12/2018)

Menurut Toni, baik pemilihan kepala daerah (pilkada) ataupun pemilihan presiden (pilpres) tidak akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian domestik.

Advertisement

Ia mencontohkan pada 2009, pertumbuhan ekonomi memang sempat terganggu, namun bukan karena faktor pilpres saat itu melainkan akibat dampak dari krisis 'subprime morgage di AS' pada 2008.

Pada 2014, ekonomi sempat terpukul karena harga minyak yang terlalu tinggi sedangkan pemerintah tidak berani menaikkan harga BBM sehingga anggaran untuk subsidi terlalu besar dan memengaruhi 'confidence' terhadap anggaran itu sendiri.

Advertisement

"Tidak akan ada dampak negatif dari pilkada. Itu akan terkompensasi dengan aktivitas yang positif," ujar Toni kepada awak media.

Toni menuturkan, aktivitas positif sendiri artinya mau tidak mau pemerintah harus mengejar target-target yang telah dicanangkan dalam RPJMN 2015-2019. Pada dua tahun ke depan, pemerintah akan mati-matian menggenjot pembangunan di segala bidang, terutama infrastruktur.

Advertisement

Oleh karena itu, lanjut Toni, ia meyakini ekonomi pada 2018 masih akan tumbuh positif kendati akan sedikit berada di bawah target pertumbuhan ekonomi pemerintah 5,4 persen.

"Tahun depan saya tetap optimis, lebih mengarah ke 5,3 persen. Yang penting 'growing' dan 'survive' dulu karena sekarang lagi 'turbulence' dan banyak faktor ketidakpastian. Tahun ini maksimal 5,1 persen, ya sekitar 5,08 atau 5,09 persen. Tapi tahun depan, asal bisa positif, sudah lebih baik," ujar Toni.