INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menilai industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih memiliki ruang pertumbuhan di pasar global seiring pulihnya permintaan dunia dan meningkatnya kebutuhan terhadap produk tekstil berkelanjutan. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila pelaku industri mampu memperkuat rantai pasok, mempercepat modernisasi produksi, serta meningkatkan daya saing melalui dukungan pembiayaan ekspor.

Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan global terhadap produk tekstil hulu, seperti benang, kain tenun, dan kain rajut, mulai menunjukkan tren pemulihan sepanjang 2025. Meski demikian, industri TPT Indonesia masih menghadapi persaingan ketat dari China, India, dan Vietnam yang terus memperkuat posisi mereka di pasar ekspor.

Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI Anton Herdianto mengatakan daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini masih ditopang produk finished fabric yang berkontribusi sekitar 74% terhadap total ekspor TPT nasional. Menurutnya, keberhasilan meningkatkan ekspor tidak hanya bergantung pada produsen garmen, tetapi juga pada kekuatan rantai pasok dari hulu hingga hilir.

"Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia," ujar Anton dalam LPEI Export Forum (LEF) Bandung bertema Membangun Rantai Pasok Garmen yang Kompetitif dan Berkelanjutan untuk Pasar Global.

Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan ekspor tekstil nasional tumbuh sekitar 2%-3,2% pada 2026, meningkat dari realisasi pertumbuhan saat ini sebesar 1,3%. Pada 2027, laju pertumbuhan diperkirakan kembali menguat menjadi 3,5%-4%, didorong oleh membaiknya prospek ekonomi global, potensi penurunan suku bunga internasional, serta meningkatnya permintaan produk tekstil berkelanjutan, terutama di segmen premium.

Anton menilai Indonesia memiliki keunggulan berupa biaya tenaga kerja yang kompetitif dan struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Namun, tantangan ke depan adalah meningkatkan produktivitas, memperbarui teknologi produksi, dan memenuhi standar keberlanjutan yang kini menjadi syarat utama di pasar ekspor.

Untuk mendukung transformasi tersebut, LPEI menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan ekspor, mulai dari pembiayaan pra dan pascapengapalan, Trade Credit Insurance (TCI), Marine Cargo Insurance, hingga layanan trade finance. Langkah ini juga sejalan dengan arahan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mendorong revitalisasi industri tekstil dan alas kaki melalui penyediaan pembiayaan yang terjangkau guna memperbarui mesin produksi dan meningkatkan daya saing global.

"Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global," kata Anton.

Direktur Utama PT Ungaran Sari Garments, Maniwanen, mengatakan fasilitas yang diberikan LPEI telah membantu perusahaan menjaga kelancaran aktivitas ekspor sekaligus memperkuat mitigasi risiko perdagangan internasional.

"Fasilitas LPEI sangat membantu operasional ekspor kami. Selain mengurangi beban pembiayaan, produk asuransinya juga memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko sehingga kami lebih percaya diri dalam memperluas pasar ekspor," ujarnya.

Melalui penguatan pembiayaan, modernisasi industri, dan kolaborasi antara pemerintah, LPEI, serta pelaku usaha, industri TPT diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan memperbesar kontribusinya terhadap ekspor nasional di tengah persaingan perdagangan global yang semakin ketat.