INDUSTRY.co.id - BOGOR - Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji terus terang soal narasi deindustrialisasi yang berkembang selama ini. Menurutnya, narasi tersebut perlu diluruskan karena kondisi industri nasional tidak seburuk persepsi yang beredar di publik.
Hal itu disampaikan Sarmuji dalam acara Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).
Sarmuji mengatakan, persoalan utama bukan hanya pada capaian kinerja, tapi juga pada cara pemerintah mengomunikasikannya. Kinerja pemerintah, kata dia, tidak hanya diukur dari data statistik, tapi juga dari persepsi masyarakat.
Ia mencontohkan, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional pada kuartal III/2026 mencapai 19,22 persen, naik dari sebelumnya 19,07 persen. Pertumbuhan industri pengolahan pada periode yang sama mencapai 5,87 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen.
"Jadi kalau ada persepsi kemarin-kemarin Indonesia gelap, sebenarnya tidak gelap. Hanya saja orang yang bertugas untuk menghadirkan cahaya, enggak tahu mungkin belum pakai baterai," ujar Sarmuji.
Soal Metode Pencatatan BPS
Sarmuji juga menyoroti perubahan metode pencatatan BPS pada 2010. Saat itu, klasifikasi sektor ekonomi berubah dari 9 menjadi 17 sektor, sehingga sejumlah subsektor yang sebelumnya masuk industri pengolahan kemudian dicatat sebagai sektor tersendiri.
Perubahan itu, menurutnya, membuat kontribusi industri pengolahan terlihat turun sekitar 4 poin persentase. Jika dihitung dengan klasifikasi lama, kontribusinya seharusnya mencapai sekitar 23,22 persen, bukan 19,22 persen.
"Termasuk juga narasi-narasi tentang deindustrialisasi, barangkali karena kitanya yang kurang untuk menyampaikan data-data atau rasionalisasi terhadap keadaan yang sebenarnya," kata Sarmuji.
IKI dan PMI Menguat
Sarmuji juga menyebut kinerja industri tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 53,77 pada Oktober 2026. Sementara PMI manufaktur Indonesia pada bulan yang sama berada di level 54.
Menurutnya, kedua indikator itu menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap sektor manufaktur nasional.
Meski demikian, Sarmuji menegaskan Kemenperin tidak hanya ingin menyampaikan capaian positif. Pemerintah juga berkomitmen memperkuat fundamental industri lewat komunikasi langsung dengan pelaku usaha dan asosiasi.
"Dan kami berkomitmen terus untuk terus-menerus berkomunikasi dengan pelaku industri, dengan asosiasi, supaya kami tahu benar persoalan yang dihadapi," paparnya.