INDUSTRY.co.id - SEMARANG – Pemerintah mengoptimalkan peran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8%. Kawasan tersebut diproyeksikan menyumbang pertumbuhan sebesar 0,5% hingga 1% melalui penguatan hilirisasi industri, substitusi impor, dan peningkatan efisiensi investasi.
Strategi tersebut dibahas dalam Forum Investasi Jawa Tengah pada Jumat (23/10), dengan menghadirkan Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK Bidang Fasilitasi dan Kemudahan, Budi Santoso. Pemerintah mendorong KEK tidak sekadar menjadi lokasi penanaman modal, tetapi juga pusat penciptaan nilai tambah dan penguatan industri domestik.
Budi menyampaikan, hingga kuartal II-2026, Indonesia memiliki 25 KEK yang beroperasi dengan akumulasi investasi mencapai Rp368 triliun. Untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian, pemerintah mengarahkan pengembangan kawasan pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi, terutama industri hilir.
Fokus pengembangan tidak lagi terbatas pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga mencakup pembangunan industri turunan atau downstream. Strategi ini diharapkan memperkuat rantai pasok domestik, meningkatkan produktivitas industri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Selain industri manufaktur, pemerintah turut memprioritaskan pengembangan KEK Kesehatan. Keberadaan KEK Sanur di Bali diharapkan memperkuat layanan medis berstandar internasional di dalam negeri, sekaligus menekan aliran devisa yang selama ini keluar karena masyarakat Indonesia menjalani pengobatan di luar negeri.
“Kehadiran KEK Kesehatan, seperti KEK Sanur yang menyediakan fasilitas kesehatan dan tenaga medis bertaraf internasional, diharapkan menjadi solusi efektif bagi pelayanan medis berkualitas di dalam negeri,” ujar Budi.
Pengembangan sektor kesehatan juga berpotensi menarik investasi baru dan mendorong pertumbuhan industri pendukung, mulai dari fasilitas medis hingga berbagai layanan penunjang kesehatan. Dengan demikian, kontribusi KEK diharapkan meluas dari sektor industri pengolahan ke sektor jasa strategis.
Dari sisi produktivitas modal, pemerintah menyoroti capaian Incremental Capital Output Ratio (ICOR) KEK Kendal sebesar 2, jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di kisaran 6. ICOR merupakan indikator yang menggambarkan kebutuhan tambahan modal untuk menghasilkan tambahan output ekonomi. Secara umum, nilai ICOR yang lebih rendah menunjukkan penggunaan modal yang lebih efisien.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator potensi KEK Kendal dalam mendorong output ekonomi dengan kebutuhan modal yang relatif lebih rendah. Efisiensi investasi dinilai penting untuk meningkatkan daya saing kawasan, terutama ketika pemerintah berupaya memperbesar kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tingkat regional, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang juga menjadi kontributor penting bagi realisasi investasi Jawa Tengah. Kedua daerah tersebut masing-masing mencatatkan investasi sebesar Rp6,56 triliun dan Rp6,11 triliun, sehingga masuk dalam lima daerah dengan realisasi investasi terbesar di provinsi tersebut.
Realisasi itu memperlihatkan potensi KEK Kendal dan KEK Industropolis Batang dalam menarik penanaman modal serta memperkuat basis industri di Jawa Tengah. Keberadaan kawasan industri diharapkan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, termasuk melalui peningkatan aktivitas usaha dan penciptaan lapangan kerja.
Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol. (Purn.) Drs. Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pengembangan kawasan industri menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kawasan industri penting untuk pertumbuhan ekonomi baru. Di Jawa Tengah sekarang pertumbuhan ekonomi sudah 5,80% atau di atas rata-rata nasional,” ucap Luthfi.
Ke depan, optimalisasi KEK akan diarahkan untuk memperkuat hilirisasi, meningkatkan substitusi impor, mengembangkan sektor jasa strategis, serta memperbaiki efisiensi penggunaan modal. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing kawasan sekaligus memperbesar dampak investasi terhadap perekonomian nasional.
Bagi pemerintah, tantangan pengembangan KEK bukan hanya meningkatkan nilai investasi yang masuk, melainkan memastikan modal tersebut menghasilkan kegiatan ekonomi produktif, memperkuat keterkaitan industri dalam negeri, dan menciptakan kesempatan kerja.
Forum Investasi Jawa Tengah menjadi wadah untuk memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam mengoptimalkan potensi kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Acara tersebut turut dihadiri Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sudaryanto.