INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 79% menjadi Rp114,3 miliar hingga sembilan bulan pertama 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp63,9 miliar.
Peningkatan laba tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan, penguatan margin laba kotor, serta efisiensi operasional di tengah meningkatnya permintaan gas medis dan gas industri.
Berdasarkan laporan kinerja perseroan, pendapatan Samator Indo Gas mencapai Rp2,38 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 7,5% dibandingkan Rp2,21 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan volume penjualan serta permintaan dari sektor kesehatan dan industri.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor perseroan meningkat 11,2% menjadi Rp1,13 triliun. Capaian ini turut mengerek margin laba kotor menjadi 47,6%, dibandingkan 46% pada sembilan bulan pertama 2025.
Penguatan margin tersebut mencerminkan keberhasilan perseroan dalam mengendalikan biaya produksi, terutama melalui penurunan biaya listrik dan tenaga kerja per unit. Selain itu, penerapan teknologi seperti oxyfuel burner turut mendukung efisiensi penggunaan energi bagi pelanggan industri.
Kinerja operasional juga tercermin dari EBITDA yang tumbuh 10,7% menjadi Rp709,4 miliar, dibandingkan Rp640,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Margin EBITDA tercatat sebesar 29,9%. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan meningkat 12,4% menjadi Rp704,8 miliar setelah mengecualikan pos nonrutin bersih sebesar Rp4,6 miliar.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp110,3 miliar, melonjak 82% dibandingkan Rp60,6 miliar pada periode Januari-September 2025.
Selain pertumbuhan operasional, peningkatan laba juga ditopang penurunan beban keuangan bersih seiring berkurangnya saldo pinjaman serta optimalisasi pengelolaan kas perseroan.
Direktur Utama Samator Indo Gas, Rachmat Harsono, mengatakan peningkatan laba kotor dan EBITDA serta pertumbuhan laba bersih mencerminkan penguatan fundamental operasional perusahaan.
“Kinerja positif selama sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan ketahanan fundamental bisnis Samator Indo Gas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Di tengah pertumbuhan kinerja keuangan, Samator Indo Gas juga memperluas pengembangan solusi gas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus mendukung program nasional. Salah satunya melalui penerapan teknologi oxyfuel burner bagi industri kaca dan keramik yang menghadapi keterbatasan pasokan gas alam.
Perseroan juga memasok dry ice kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, perusahaan terus menjaga keandalan pasokan gas medis dan industri untuk sejumlah sektor, mulai dari kesehatan, manufaktur, pengolahan logam hingga elektronik. Upaya tersebut didukung penerapan standar keselamatan, kesehatan, dan lingkungan, termasuk pengujian hidrostatis terhadap seluruh tabung gas guna memastikan keamanan distribusi.
Strategi menjaga hubungan pelanggan juga menjadi salah satu penopang keberlanjutan pendapatan. Samator Indo Gas memperpanjang sejumlah kontrak jangka panjang dengan perusahaan penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Kontrak pasokan on-site, skema minimum take-or-pay, serta jaringan layanan kesehatan yang luas turut memberikan kepastian permintaan dan menopang stabilitas pendapatan perseroan.
Dari sisi struktur permodalan, kondisi keuangan Samator Indo Gas juga menunjukkan perbaikan. Rasio EBITDA terhadap beban bunga meningkat menjadi 3,1 kali dari sebelumnya 2,7 kali pada sembilan bulan pertama 2025.
Sementara itu, rasio utang bersih terhadap EBITDA turun menjadi 3,45 kali dari 3,94 kali. Perbaikan tersebut didukung pertumbuhan EBITDA, stabilitas arus kas operasional, serta upaya pengurangan utang.
Memasuki kuartal IV-2026, Samator Indo Gas optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan. Perseroan akan berfokus memenuhi peningkatan permintaan dari sektor kesehatan dan industri utama, menjaga efisiensi operasional, serta memperkuat kemitraan dengan pelanggan.
Selain itu, perusahaan berencana menambah kapasitas secara terukur dengan mengutamakan ekspansi berbasis kontrak guna menjaga kesinambungan pendapatan dan profitabilitas.