Highlights

  • LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
  • Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
  • Henry Hub turun 2,70% ke US$2,95/MMBtu pada perdagangan Kamis, terendah dalam sepekan akibat pemulihan produksi dan tambahan stok yang lebih besar dari ekspektasi
  • TTF Eropa menguat 1,57% ke €98,11/MWh pada penilaian 28 Oktober, kembali menjadi level tertinggi dalam 30 hari terakhir
  • JKM Asia memecahkan rekor lagi ke US$32,45/MMBtu pada penilaian 29 Oktober, naik 1,98% dalam sehari dan menorehkan rekor tertinggi 12 bulan yang baru
  • Aramco CP November resmi diumumkan naik: propana US$720/MT (+5,9%) dan butana US$780/MT (+6,8%), kenaikan bulan keempat berturut-turut

Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ

Harga LPG Subsidi Hari Ini 30 Oktober 2026

Harga LPG 3 kg hari ini, Jumat (30/10/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.

Jenis LPGHarga di PangkalanHarga di PengecerKeterangan
LPG 3 kg (Subsidi)Rp19.000Rp22.000Tetap (HET)

Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.

Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)

PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:

ProdukHarga per 29 OktoberHarga per 30 OktoberPerubahan
Bright Gas 5,5 kgRp107.000Rp107.000Tidak berubah
Bright Gas 12 kgRp230.000Rp230.000Tidak berubah

Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.

Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia

Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per Oktober 2026:

WilayahBright Gas 5,5 kgBright Gas 12 kg
Jawa, Bali, NTBRp107.000Rp230.000
Sumatera (kecuali Bangka Belitung), Sulawesi Tengah dan SelatanRp111.000Rp232.000
Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi Utara dan TenggaraRp114.000Rp240.000
Tarakan dan sekitarnyaRp124.000Rp267.000
Maluku dan PapuaRp134.000Rp287.000
Batam (Kawasan Perdagangan Bebas)Rp100.000Rp209.000

Wilayah Maluku dan Papua mencatat harga Bright Gas termahal dengan selisih Rp27.000 per tabung untuk ukuran 5,5 kg dibanding wilayah Jawa karena ongkos distribusi kepulauan. Sebaliknya, kawasan perdagangan bebas Batam mencatat harga paling rendah di Rp100.000 (5,5 kg) dan Rp209.000 (12 kg). Masyarakat dapat membeli Bright Gas melalui agen resmi, pangkalan, atau aplikasi MyPertamina untuk memastikan keaslian produk.

Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub

Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, jatuh ke level US$2,95 per MMBtu pada perdagangan Kamis (29/10/2026), turun 2,70% dalam sehari menurut data CFD TradingEconomics per 29 Oktober 2026, dan menjadi level terendah dalam sepekan. Pelemahan dipicu pemulihan produksi domestik dan tambahan stok yang lebih besar dari ekspektasi, yang melebihi dukungan dari aktivitas ekspor LNG yang menguat, meski harga masih berada di atas level terendah dua tahun yang sempat tersentuh pada awal pekan ini. Secara bulanan harga kini turun 2,51% dan secara tahunan masih turun 25,42%.

IndikatorNilaiKeterangan
Henry Hub (29 Oktober)US$2,95/MMBtuTerendah dalam sepekan
Perubahan Harian-US$0,08-2,70%
Proyeksi EIA 2026US$3,67/MMBtuRata-rata tahunan

Faktor pendukung datang dari sisi ekspor: aliran gas (feedgas) ke sembilan terminal ekspor LNG utama AS naik ke rata-rata sekitar 19,1 bcfd pada dua pekan terakhir, dengan rata-rata 18,5 bcfd sepanjang Oktober, naik dari 17,9 bcfd pada September. Namun prakiraan suhu lebih hangat dari normal hingga 13 November menekan permintaan gas pemanas. Produksi gas Lower 48 telah pulih ke sekitar 113,3 bcfd, meningkatkan ketersediaan pasokan domestik. Data EIA menunjukkan inventaris gas alam AS naik 80 Bcf pekan lalu, lebih tinggi dari ekspektasi pasar 75 Bcf dan mempercepat dari tambahan 77 Bcf pekan sebelumnya, dengan total stok mencapai 3,724 triliun kaki kubik, 3,8% di bawah level setahun lalu namun 1% di atas rata-rata lima tahun. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, sementara model makro Trading Economics memperkirakan harga berada di sekitar US$2,77 per MMBtu pada akhir kuartal ini dan US$3,38 dalam 12 bulan ke depan.

TTF Eropa dan JKM Asia

Title Transfer Facility (TTF) di Belanda menguat ke level €98,11 per MWh pada penilaian 28 Oktober 2026, naik 1,57% dalam sehari dari penilaian sebelumnya di €96,59, dan kembali menjadi level tertinggi dalam 30 hari terakhir menurut data EnergyRiskIQ. Sementara itu, Japan Korea Marker (JKM) untuk pasar Asia memecahkan rekor lagi, melonjak ke US$32,45 per MMBtu pada penilaian 29 Oktober 2026, naik 1,98% dalam sehari dari US$31,82 pada penilaian 28 Oktober, sekaligus menorehkan rekor tertinggi 12 bulan yang baru. Secara mingguan JKM naik 5,67%, bulanan 27,23%, dan dibanding setahun lalu melonjak 188,54%, karena pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China tetap berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin.

Benchmark Gas AlamHargaPerubahanKawasan
Henry HubUS$2,95/MMBtu-2,70%Amerika Utara
TTF€98,11/MWh+1,57%Eropa (Belanda)
JKMUS$32,45/MMBtu+1,98%Asia (Jepang-Korea)

TTF kini berada di puncak rentang 30 hari €72,20-98,11 per MWh dengan rata-rata €84,20 per MWh. Data CFD TradingEconomics untuk instrumen yang berbeda menunjukkan level yang sebanding di €98,32/MWh pada 29 Oktober 2026, turun 2,01% dalam sehari, karena instrumen dan tanggal penilaian yang berbeda dengan penilaian pasar EnergyRiskIQ yang menjadi rujukan utama, serta harga bulanan naik 35,88% dan tahunan melonjak 213,40%. Komentar pasar TradingEconomics menyebut harga gas Eropa mendekati level €100 per MWh, tertinggi sejak Desember 2022, karena musim pemanasan mendekat dengan persediaan yang lebih rendah dari biasanya. Di Asia, JKM tetap berada jauh di atas level Henry Hub, menandakan Asia membayar premium tinggi untuk kargo spot. Katalis utamanya tetap sama: kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama di tengah pasokan global yang ketat dan level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun. Harga minyak mentah Brent sendiri bertahan di sekitar US$114,34 per barel di tengah harapan damai Amerika Serikat-Iran.

Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP

Saudi Aramco resmi menetapkan Contract Price (CP) untuk November 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, menandai kenaikan bulan keempat berturut-turut. Kenaikan mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan persaingan memperebutkan kargo LNG menjelang musim dingin. Pengumuman dirilis pada 29 Oktober 2026.

ProdukCP Oktober 2026CP November 2026Perubahan
Propana (C3)US$680/MTUS$720/MT+US$40 (+5,9%)
Butana (C4)US$730/MTUS$780/MT+US$50 (+6,8%)

Kenaikan CP November didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta persaingan memperebutkan kargo menjelang musim dingin yang juga mengerek benchmark gas alam global. Butana naik lebih tinggi (+6,8%) dibanding propana (+5,9%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang bertahan di sekitar US$114,34 per barel, kenaikan CP beruntun ini menambah tekanan biaya bagi importir LPG di Asia, termasuk Indonesia yang harga LPG non-subsidinya mengikuti formula berbasis CP Aramco.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam

Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:

  • Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China masih agresif mengamankan kargo menjelang musim dingin. JKM memecahkan rekor lagi ke US$32,45 per MMBtu pada penilaian 29 Oktober, kini naik 5,67% dalam sepekan, 27,23% dalam sebulan, dan 188,54% dibanding setahun lalu. Aramco pun menaikkan CP November untuk bulan keempat berturut-turut.
  • Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun mendorong TTF menguat ke €98,11 per MWh, tertinggi dalam 30 hari. Cuaca ekstrem tetap menjadi risiko utama pasar.
  • Perkembangan geopolitik Timur Tengah: Harapan damai Amerika Serikat-Iran menahan premium risiko pengiriman dengan harga minyak mentah Brent bertahan di sekitar US$114,34 per barel, meski harga gas alam tetap didorong permintaan musim dingin.
  • Cuaca hangat dan shale gas AS: Prakiraan suhu lebih hangat dari normal hingga 13 November masih menekan permintaan gas pemanas Amerika Serikat; Henry Hub jatuh 2,70% ke US$2,95 per MMBtu ke level terendah dalam sepekan. Produksi gas Lower 48 yang pulih ke sekitar 113,3 bcfd dan tambahan stok 80 Bcf menambah tekanan ke bawah.
  • Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam

Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?

Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.

Mengapa harga Bright Gas tetap sama di Oktober?

Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.

Mengapa harga JKM Asia terus memecahkan rekor tertinggi 12 bulan?

JKM melonjak 1,98% ke US$32,45/MMBtu pada penilaian 29 Oktober 2026, mencetak rekor tertinggi 12 bulan yang baru setelah menembus US$32,28 pekan ini. Harga kini naik 5,67% dalam sepekan, 27,23% dalam sebulan, dan 188,54% dibanding setahun lalu karena kompetisi memperebutkan kargo LNG antara Asia dan Eropa menjelang musim dingin, ditambah level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun.

Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?

Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.

Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?

Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.

Key Takeaways

  • LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
  • Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
  • Henry Hub turun 2,70% ke US$2,95/MMBtu ke level terendah dalam sepekan, tertekan pemulihan produksi domestik dan tambahan stok yang lebih besar dari ekspektasi
  • TTF menguat 1,57% ke €98,11/MWh (tertinggi 30 hari); JKM memecahkan rekor lagi ke US$32,45/MMBtu, rekor tertinggi 12 bulan yang baru
  • Aramco CP November resmi naik: propana US$720/MT dan butana US$780/MT, kenaikan bulan keempat berturut-turut yang menekan biaya impor LPG Asia

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.

Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra