INDUSTRY.co.id - HONG KONG - CEO Huawei Electric Power Digitalization BU, David Sun, memaparkan visi baru industri ketenagalistrikan di tengah percepatan transisi energi global. Dalam forum Association of the Electricity Supply Industry of East Asia and Western Pacific (AESIEAP) CEO Conference 2026, ia menekankan bahwa sinergi antara kecerdasan buatan (AI) dan energi akan menjadi kunci masa depan kelistrikan.
Dalam presentasi bertajuk "AI and Energy Empowering Each Other, Intelligence Unlocking a New Future for Electric Power", Sun menyoroti jaringan tegangan rendah sebagai titik krusial yang selama ini luput dari perhatian.
Menurutnya, infrastruktur jaringan masih menjadi hambatan utama transisi energi. Hal ini pernah disinggung International Energy Agency (IEA) dalam pembukaan CIGRE Paris pada Agustus 2024. Persoalan paling mendasar, kata Sun, terletak pada pengelolaan dan transparansi jaringan tegangan rendah.
Saat ini, sekitar 700 juta orang di dunia belum memiliki akses listrik, termasuk hampir 50 juta orang di Asia. Di sisi lain, kapasitas terpasang PLTS atap atau PV terdistribusi di China diperkirakan menembus 1 miliar kilowatt pada 2030. Ketimpangan antara kebutuhan pemerataan akses dan ledakan energi terbarukan membuat manajemen jaringan tegangan rendah tak bisa lagi dikelola dengan cara lama.
Untuk menjawab kesenjangan yang telah berlangsung hampir satu abad itu, Sun mengusulkan enam kemampuan inti: kemampuan mengamati, mengukur, mengendalikan, menyesuaikan, memperdagangkan, dan melacak. Ini bukan sekadar peningkatan teknologi, melainkan perubahan cara produksi.
Arsitektur Terbuka Jadi Fondasi
Sun menilai, kemampuan profesional tetap penting, namun yang lebih utama adalah kemampuan mengorkestrasi berbagai kapabilitas secara cepat untuk mendukung bisnis dan pelanggan.
Fondasinya adalah jaringan komunikasi. Tanpa komunikasi, proses tidak berjalan. Karena itu, dua persoalan global harus diatasi bersamaan, yakni transparansi jaringan tegangan rendah dan konvergensi jaringan tegangan menengah.
Dari sisi arsitektur digital, ia mendorong desain yang berjenjang, terpisah, dan modular, dengan model kolaborasi cloud-edge-device yang fleksibel sesuai kebutuhan aplikasi dan data.
Dengan dukungan data berkualitas tinggi secara real-time, AI perlu diintegrasikan secara mendalam dalam seluruh proses ketenagalistrikan, mulai dari pengelolaan aset hingga layanan pelanggan.
AI Sudah Bekerja di Lapangan
Sun memaparkan sejumlah contoh penerapan nyata.
Di State Grid Corporation of China, kombinasi teknologi high-speed power line carrier (HPLC), model analisis anomali, dan agen AI untuk analisis susut jaringan (line loss) berhasil memangkas biaya tenaga kerja secara signifikan. Penerapan model marketing ontology juga memangkas waktu respons layanan pelanggan dari hitungan jam menjadi menit.
Di luar China, seperti di Brasil, penerapan platform manajemen microgrid dan pusat operasi dan pemeliharaan (O&M) terpadu meningkatkan akurasi prediksi beban listrik di level trafo distribusi.
Sementara untuk pekerjaan lapangan, integrasi headset VR, model AI kecil yang berjalan di perangkat (on-device), dan model besar berbasis cloud terbukti meningkatkan keselamatan dan kepatuhan prosedur kerja.
Menurut Sun, berbagai praktik ini membuktikan bahwa inovasi digital yang bertumpu pada data real-time mampu mendorong perusahaan listrik masuk ke fase baru yang lebih efisien.
Standar dan SDM Jadi Kunci
Agar pemanfaatan AI dan energi bisa saling menguatkan, Sun menekankan pentingnya standar yang sistematis, terbuka, konsisten, dan visioner. Ia mengusulkan kerangka tiga jenjang: "indikator–arsitektur–teknologi".
Standar tersebut, kata dia, harus menjadi acuan bagi pengembangan sumber daya manusia, transformasi digital, dan pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
Bersama sejumlah perusahaan terkemuka, Huawei mengembangkan program pengembangan SDM bertajuk "Wittgenstein Studio". Program ini dirancang untuk menurunkan hambatan digitalisasi dan mendorong setiap insinyur listrik menjadi "Mini-CEO" yang mampu menghadapi ketidakpastian.
"Industri ketenagalistrikan hanya dapat tumbuh berkelanjutan jika para insinyurnya menguasai teknologi digital dan AI, sekaligus tetap menjadi pakar industri," ujar Sun.
Huawei mendorong industri tidak berhenti pada peningkatan teknologi semata, melainkan melakukan transformasi ganda dalam cara produksi dan struktur talenta. Dengan arsitektur terbuka dan pemanfaatan AI dalam skala besar, sistem tenaga listrik baru yang transparan, cerdas, dan berkelanjutan dinilai akan lebih cepat terwujud.