INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Prof. Yudi Utomo Imardjoko, Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir, tampil sebagai pembicara di Pameran Air, Energi, Teknologi dan Lingkungan ke-28 (WETEX) 2026 yang diselenggarakan oleh Dubai Electricity and Water Authority (DEWA) di Dubai World Trade Centre, 20-22 Oktober 2026.

WETEX adalah pameran terbesar di kawasan dan salah satu pameran spesialis terkemuka di dunia di bidang energi, air, pembangunan hijau, transformasi digital, AI, dekarbonisasi, mobilitas hijau dan kota berkelanjutan. Tahun ini diikuti oleh 3.000 perusahaan dari 60 negara, 13 paviliun internasional, 60 sponsor dan 23 mitra, dengan 119 seminar spesialis.

Prof. Yudi berbicara di panel "Powering Tomorrow's Infrastructure: Energy for Industry, Cities and Digital Growth" bersama perwakilan dari Thailand, Togo, Rwanda, UAE, dan Rosatom, membahas infrastruktur tangguh rendah karbon untuk masa depan.

WETEX diselenggarakan atas arahan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UAE dan Penguasa Dubai, dan di bawah naungan Yang Mulia Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, Ketua Dewan Energi Tertinggi Dubai.

Yang Mulia Saeed Mohammed Al Tayer, MD dan CEO DEWA dan Founder dan Chairman WETEX, mengatakan, WETEX mencerminkan visi berwawasan ke depan dari Yang Mulia Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden UAE, dan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, untuk memanfaatkan inovasi dan teknologi global terdepan, termasuk transformasi digital, kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur pintar, guna memperkuat keberlanjutan dan ketahanan sektor air dan energi sekaligus mendorong aksi iklim.

Prof. Yudi memaparkan tonggak bersejarah yang baru ditandatangani pada 16 Oktober di Moskow, yakni Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) 200 MW PLTN Terapung antara PT Pembangkit Listrik Nuklir dan Rosatom - ekspor listrik dari Floating Power Unit pertama di dunia untuk Halmahera Utara, Maluku Utara. Model sepenuhnya B2B, tanpa membebani APBN.

Paparan tersebut mendapat apresiasi luas dan tepuk tangan meriah. Delegasi Thailand, Togo, Rwanda dan UAE ingin belajar sejarah tentang bagaimana kesepakatan ini bisa terstruktur.

Sebagai tindak lanjut, perwakilan dari Togo secara resmi mengundang delegasi Indonesia untuk hadir sebagai pembicara di konferensi energi mereka di Togo guna berbagi model tersebut dengan negara-negara pesisir Afrika.

"Dunia butuh listrik andal rendah karbon untuk infrastruktur masa depan - untuk industri, kota, dan pertumbuhan digital. Apa yang kami tandatangani bersama Rosatom minggu lalu bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk model global baru. Kami bekerja tanpa suara, menghadirkan energi bersih untuk rakyat," ujar Prof. Yudi.