INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Kesulitan mendapatkan keturunan bukanlah perjalanan yang mudah bagi setiap pasangan. Di balik harapan untuk memiliki buah hati, ada berbagai pertanyaan, kecemasan, hingga tekanan emosional yang kerap harus dihadapi.
Sayangnya, isu kesuburan atau infertilitas masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka di tengah masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Stomp & Stride menghadirkan acara eksklusif bertajuk “Tentang Kesuburan, Tentang Anda: Memahami Kesuburan & Menentukan Langkah”. Acara ini menjadi ruang edukasi sekaligus dukungan bagi pasangan yang tengah menghadapi tantangan dalam memperoleh kehamilan.
Melalui sesi interaktif bersama pakar fertilitas, kegiatan ini mengajak masyarakat memahami persoalan kesuburan secara lebih terbuka, menghilangkan stigma, serta mengenali berbagai pilihan penanganan medis yang tersedia.
"Di era modern, kita perlu semakin berani membuka percakapan soal fertilitas. Semakin banyak yang memahami, semakin banyak pula pasangan yang bisa menemukan solusi yang tepat. Kami berharap sesi ini menjadi ruang yang aman dan langkah awal untuk membawa lebih banyak harapan bagi mereka yang sedang berjuang," ujar Ivon Thomas, perwakilan Stomp & Stride selaku penyelenggara acara.
Salah satu persoalan yang masih sering muncul dalam pembahasan infertilitas adalah anggapan bahwa kesulitan mendapatkan keturunan sepenuhnya disebabkan oleh pihak perempuan.
Padahal, faktor penyebab infertilitas sangat beragam dan dapat berasal dari kedua belah pihak. Karena itu, pemeriksaan kesuburan seharusnya dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap perempuan maupun laki-laki.
Untuk memberikan pemahaman medis yang lebih komprehensif, Stomp & Stride berkolaborasi dengan GenPrime Everlink Fertility Centre Kuala Lumpur, Malaysia.
Sesi utama menghadirkan Dr. Mathi Arasu Muthusamy, Medical Director sekaligus Fertility Specialist yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang kedokteran reproduksi.
Dalam pembahasan bertajuk “Memahami Infertilitas dan IVF”, Dr. Mathi Arasu membagikan wawasan mengenai penyebab infertilitas, pilihan perawatan kesuburan, hingga perkembangan teknologi reproduksi berbantu, khususnya In Vitro Fertilisation (IVF) atau bayi tabung.
Salah satu mitos yang masih berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa program bayi tabung merupakan pilihan terakhir yang harus dihindari karena prosesnya dianggap menakutkan dan rumit. Dr. Mathi Arasu menegaskan bahwa IVF merupakan salah satu metode perawatan medis yang telah teruji dan dapat menjadi pilihan penanganan bagi pasangan dengan kondisi tertentu.
"IVF bukan sekadar jalan terakhir, namun ini adalah perawatan medis teruji yang sangat membantu, terutama bagi pasangan dengan masalah seperti tuba tersumbat, PCOS, atau infertilitas yang belum terjelaskan," jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemeriksaan faktor kesuburan pria. Menurutnya, hampir 40 persen kasus infertilitas dipengaruhi oleh faktor pria.
Dengan demikian, kesuburan bukan semata-mata tanggung jawab perempuan. Kedua pasangan perlu menjalani evaluasi medis dan mendapatkan dukungan yang setara agar penyebab kesulitan hamil dapat diketahui secara lebih akurat.
Perkembangan teknologi kedokteran reproduksi turut menghadirkan berbagai pilihan perawatan yang semakin personal. Pendekatan medis kini dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Dalam sesi tersebut, Dr. Mathi Arasu turut memperkenalkan sejumlah inovasi dalam dunia fertilitas, di antaranya:
• Ovarian PRP: pendekatan yang ditujukan untuk membantu menangani kondisi tertentu terkait fungsi ovarium.
• Embryo Glue: media transfer embrio yang dirancang untuk mendukung proses implantasi embrio.
• ERA (Endometrial Receptivity Analysis): pemeriksaan untuk mengevaluasi kesiapan lapisan rahim dalam menerima embrio.
• PGT (Preimplantation Genetic Testing): pengujian genetik pada embrio untuk mengidentifikasi kelainan kromosom atau genetik tertentu sebelum transfer embrio, sesuai jenis pemeriksaannya.
Teknologi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam penanganan kasus fertilitas tertentu, termasuk pada perempuan berusia di atas 35 tahun maupun pasangan yang memiliki riwayat keguguran berulang.
Meski demikian, pemilihan metode perawatan tetap perlu mempertimbangkan kondisi medis, hasil pemeriksaan, serta rekomendasi dokter spesialis fertilitas.
Selain perkembangan teknologi medis, gaya hidup sehari-hari juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan reproduksi.
Dr. Mathi Arasu mengingatkan bahwa kebiasaan merokok, obesitas, dan stres yang tidak terkelola dapat berdampak terhadap kesehatan reproduksi, termasuk kualitas sel telur dan sperma.
Karena itu, pasangan yang sedang merencanakan kehamilan disarankan mulai menerapkan sejumlah kebiasaan sehat, seperti berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, dan mengelola stres dengan baik.
Tak kalah penting, perjalanan menjalani program kehamilan, terutama IVF, juga dapat memberikan tekanan emosional tersendiri.
Ketidakpastian hasil perawatan, proses pemeriksaan, hingga harapan yang besar untuk mendapatkan keturunan dapat memengaruhi kondisi psikologis pasangan. Oleh sebab itu, dukungan emosional dan perhatian terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan kesuburan.
Menutup sesi edukasi, Dr. Mathi Arasu menyampaikan pesan penyemangat kepada pasangan yang sedang berjuang mendapatkan keturunan.
Ia mengingatkan agar pasangan tidak terlalu lama menunda konsultasi medis ketika menghadapi kesulitan memperoleh kehamilan. Semakin dini penyebab infertilitas diketahui, semakin cepat pula pasangan dapat mempertimbangkan pilihan penanganan yang sesuai.
"Infertilitas bukanlah akhir dari perjalanan, dan ini hanyalah sebuah tantangan di tengah jalan. Jangan menunda terlalu lama untuk mencari bantuan medis. Dengan sains modern, sebagian besar pasangan bisa mencapai impian menjadi orang tua. Jangan pernah kehilangan harapan—impian kehadiran buah hati Anda mungkin selangkah lebih dekat dari yang Anda kira," ungkapnya.