INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perdagangan timah melalui Jakarta Futures Exchange (JFX) menunjukkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026. Total volume perdagangan timah ekspor yang tercatat di bursa mencapai 4.210 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,06 triliun.

Aktivitas perdagangan bahkan meningkat tajam pada pekan terakhir Agustus, tepatnya periode 23–29 Agustus. Volume transaksi mencapai 1.405 lot, naik 65,29% dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level 850 lot. Nilai transaksinya turut meningkat 62,76%, dari Rp824,35 miliar menjadi sekitar Rp1,34 triliun.

Kenaikan aktivitas tersebut terjadi ketika harga timah justru mengalami koreksi. Harga rata-rata transaksi timah di JFX turun 1,54%. Pergerakan ini sejalan dengan harga rata-rata Tin Ingot di London Metal Exchange (LME) yang terkoreksi sekitar 1,20%, dari USD55.891 menjadi USD55.223 per ton.

Bagi JFX, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan timah di dalam negeri telah memiliki ekosistem yang relatif matang. Pasar fisik timah melalui bursa telah berjalan sejak 2019 dan dalam lima tahun pertama penyelenggaraannya, lebih dari 95% transaksi timah nasional tercatat melalui JFX.

Ekosistem tersebut juga telah melibatkan lebih dari 60 pelaku usaha aktif, termasuk pembeli dari berbagai negara.

Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya mengatakan pengalaman panjang dalam perdagangan timah dapat menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam menyiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS), yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.

“Sepanjang 2025, sekitar 99% transaksi timah nasional sudah dilakukan melalui JFX. Artinya, untuk timah kita sudah memiliki pasar yang berjalan, pelaku yang aktif, serta mekanisme perdagangan yang digunakan oleh industri. Fondasi seperti ini yang menurut kami dapat dimanfaatkan dan diperkuat untuk mempercepat kesiapan BMKS,” ujar Kanca.

Menurut dia, sejumlah fungsi yang dibutuhkan dalam perdagangan komoditas strategis melalui bursa sebenarnya telah berjalan dalam perdagangan timah. Mulai dari sistem perdagangan yang terhubung dengan proses kliring dan penyelesaian transaksi, pengawasan, hingga pelaporan.

Bursa juga telah mempertemukan produsen dan penjual dari Indonesia dengan pembeli domestik maupun internasional.

Karena itu, Kanca menilai infrastruktur serta ekosistem yang telah dibangun JFX dapat dimanfaatkan dalam pengembangan BMKS. Penyesuaian tetap diperlukan karena setiap komoditas memiliki karakteristik pasar yang berbeda.

“Dengan target BMKS beroperasi pada 2027, menurut kami yang terpenting adalah bagaimana kapabilitas yang sudah dimiliki Indonesia dapat langsung dimanfaatkan. Sistem, mekanisme, dan pelaku pasarnya sudah ada. Untuk timah bahkan sudah berjalan dalam skala yang sangat besar. Jadi JFX memiliki basis yang kuat untuk bergerak lebih cepat,” kata Kanca.

Bursa dan Pembentukan Harga Komoditas

Pengalaman perdagangan timah juga memberikan pelajaran penting mengenai fungsi bursa dalam membangun basis data pasar domestik.

Setiap transaksi yang berlangsung melalui bursa menghasilkan rekam jejak mengenai harga, volume, serta aktivitas pelaku pasar. Data tersebut dapat menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat proses pembentukan harga komoditas di Indonesia.

Hal ini menjadi semakin relevan dengan tujuan pengembangan BMKS untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas strategis.

Sebagai salah satu produsen utama berbagai komoditas dunia, Indonesia memiliki kepentingan agar kondisi pasokan dan permintaan domestik semakin tercermin dalam mekanisme pembentukan harga.

“Untuk timah, proses itu sebenarnya sudah mulai berjalan. Harga JFX sudah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan ketika pembeli melakukan transaksi timah Indonesia. Dengan pasar yang semakin dalam dan transaksi yang semakin kuat, basis kita untuk membangun harga referensi dari Indonesia juga akan semakin kuat,” ujar Kanca.

Di luar timah, aktivitas perdagangan komoditas multilateral di JFX juga tetap terjaga sepanjang Agustus. Dalam periode 1–29 Agustus 2026, total volume transaksi multilateral mencapai sekitar 105.686 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp22,09 triliun.

Olein menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan volume transaksi 77.533 lot dan nilai sekitar Rp8,64 triliun.

Pada pekan terakhir Agustus, harga rata-rata transaksi Olein di JFX naik 3,39% dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut sejalan dengan harga acuan FPOL di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) yang meningkat sekitar 4,51%, dari USD1.175 menjadi USD1.228 per ton.

Sementara itu, aktivitas perdagangan emas digital on-exchange juga meningkat pada periode 23–29 Agustus. Volume transaksi melonjak 191,25%, dari 0,80 menjadi 2,33, sedangkan nilai transaksi naik 195,14%, dari sekitar Rp2,02 juta menjadi Rp5,97 juta.

Perbedaan pola transaksi dan pergerakan harga di masing-masing komoditas, menurut Kanca, menunjukkan bahwa tidak ada satu mekanisme yang dapat diterapkan secara seragam untuk seluruh komoditas strategis.

Pengalaman JFX dalam mengembangkan berbagai pasar komoditas, lanjutnya, dapat menjadi modal untuk menentukan desain perdagangan yang paling sesuai ketika BMKS mulai dikembangkan.

“Setiap komoditas punya karakteristik yang berbeda. Mekanisme yang berhasil untuk satu komoditas belum tentu bisa diterapkan dengan cara yang sama pada komoditas lainnya. Kita harus memahami apa yang dibutuhkan penjual dan pembeli, kemudian membangun mekanisme yang sesuai dengan karakter pasar tersebut,” tutup Kanca.