INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak mentah masih bergerak dalam tren bullish pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan energi setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta penegasan Teheran mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menjadi salah satu pemicu penguatan harga minyak. Ancaman tersebut muncul setelah AS dan Iran kembali terlibat konfrontasi secara langsung pada Minggu, yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Iran merespons dengan mempertegas sikapnya. Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin menyatakan Teheran akan memberikan respons tegas terhadap setiap agresi militer yang diarahkan ke negaranya.

Ketegangan juga merembet ke jalur pelayaran strategis. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim sebuah kapal tanker raksasa terbakar dan berhenti total setelah menghantam dua ranjau laut ketika mencoba melintasi rute tidak resmi di sebelah selatan Selat Hormuz.

IRGC memperingatkan kapal-kapal lain agar mematuhi aturan keamanan yang diberlakukan Iran. Teheran bahkan menegaskan bahwa kepatuhan terhadap peraturan dalam melintasi Selat Hormuz merupakan kewajiban mutlak.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian serius pasar minyak lantaran Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi yang sangat strategis. Setiap eskalasi keamanan yang berpotensi menghambat lalu lintas kapal dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan dan mendorong kenaikan premi risiko pada harga minyak.

Risiko geopolitik juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Perlawanan Nasional yang berpihak kepada pemerintah Yaman pada Senin menyatakan telah meningkatkan operasi untuk menghadapi ancaman Houthi. Operasi tersebut mencakup perlawanan terhadap drone di sekitar pulau-pulau yang dikuasai pemerintah serta pencegatan kapal layar tradisional yang membawa komponen drone canggih yang diduga ditujukan untuk kelompok yang didukung Iran.

Namun, sentimen positif dari risiko geopolitik masih mendapatkan penahan dari perkembangan konflik Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan telah melakukan pembicaraan rinci dan konstruktif dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Kedua pihak disebut tengah berupaya memfinalisasi jadwal kunjungan Witkoff dan Kushner ke Ukraina sebagai bagian dari upaya mendorong proses perdamaian untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Jika proses tersebut menghasilkan kemajuan konkret, risiko gangguan pasokan energi dari konflik tersebut berpotensi mereda dan menjadi katalis negatif bagi harga minyak.

Dengan kondisi tersebut, arah harga minyak dalam jangka pendek masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya hubungan AS-Iran dan situasi pelayaran di Selat Hormuz.

"Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$89 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$84 per barel," demikian analisis pasar.

Artinya, ruang penguatan harga minyak masih terbuka selama pasar melihat risiko eskalasi AS-Iran dan potensi gangguan lalu lintas di Selat Hormuz semakin besar. Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik dapat dengan cepat mengurangi premi risiko dan menekan harga kembali menuju area US$84 per barel.