INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menggelar pertemuan dengan Direktur Utama PalmCo pada Senin (31/8/2026). Pertemuan tersebut membahas strategi transformasi PalmCo agar mampu berkembang menjadi salah satu pemain global dalam industri minyak kelapa sawit.
PalmCo selama ini berperan memenuhi kebutuhan minyak kelapa sawit di pasar domestik. Namun, perusahaan kini mulai mengubah arah bisnis dengan memperluas penetrasi ke pasar internasional dan meningkatkan kapasitas ekspor.
Dony mengatakan, transformasi PalmCo merupakan bagian dari upaya Danantara mendorong perusahaan-perusahaan di bawah ekosistemnya menjadi tolok ukur bagi perusahaan lain, termasuk sektor swasta.
“Satu lompatan besar buat saya ya dari cara kita mengelola PalmCo. Yang pertama bahwa memang kan pemerintah dan khususnya melalui Danantara ingin semua perusahaan di Danantara itu harusnya menjadi benchmark buat yang lain, perusahaan-perusahaan swasta khususnya,” kata Dony.
Menurut dia, PalmCo memiliki kapasitas yang cukup besar sehingga perlu melakukan transformasi bisnis secara bertahap. Salah satu fokus utama yang kini didorong adalah mengoptimalkan kelebihan produksi setelah kebutuhan domestic market obligation (DMO) terpenuhi untuk meningkatkan ekspor.
“Karena dengan kapasitas yang kita miliki, karena itu kita kan harus bertransformasi satu-persatu. Menurut saya PalmCo ini kan salah satu yang diharapkan,” ujarnya.
Dony menjelaskan, PalmCo telah memiliki roadmap untuk mengembangkan bisnis dari yang sebelumnya lebih banyak berorientasi pada pasar dalam negeri menjadi perusahaan yang memiliki penetrasi lebih kuat di pasar ekspor.
“Nah ini kan kita sudah menunjukkan, sudah jelas ya roadmap kita ke depan, yang dulunya kita semua majority adalah di dalam negeri sekarang kita ingin kita penetrasi ke ekspor,” kata dia.
Kelebihan produksi setelah pemenuhan DMO akan menjadi salah satu sumber untuk meningkatkan ekspor PalmCo. Langkah tersebut disebut sebagai tahap awal dalam transformasi bisnis perusahaan.
“Dari kelebihan DMO yang kita miliki kita bisa ekspor itu tahap satu,” ujar Dony.
Tidak berhenti pada ekspor produk mentah atau setengah jadi, PalmCo juga menyiapkan langkah lanjutan dengan membangun fasilitas refinery di luar negeri. Strategi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi biaya sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi kompetitor global.
“Kedepannya kita mau bangun refinery di luar sehingga kita nanti bisa menjadi refined palm oil,” kata Dony.
Pengembangan refinery di luar negeri dinilai dapat membuat PalmCo lebih dekat dengan pasar tujuan ekspor. Dengan demikian, perusahaan diharapkan mampu menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing ketika berhadapan langsung dengan pemain industri sawit internasional.
Saat ini PalmCo telah mengekspor minyak kelapa sawit ke sejumlah negara, di antaranya India, China, serta beberapa negara di Eropa. Ekspansi tersebut menjadi pijakan awal bagi perusahaan untuk memperbesar kontribusinya di pasar global.
Di sisi lain, aktivitas ekspor PalmCo juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara. Dari kegiatan ekspor tersebut, negara disebut memperoleh pemasukan pajak hingga sekitar Rp500 miliar.
Transformasi PalmCo ini menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional. Dengan kombinasi ekspansi ekspor dan pembangunan refinery di luar negeri, PalmCo diarahkan tidak hanya menjadi pemasok kebutuhan domestik, tetapi juga mampu bersaing sebagai perusahaan sawit berorientasi global.