INDUSTRY.co.id - Jakarta, Hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi didorong menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi tawar petani sawit. 

Penguatan tersebut dinilai penting agar petani tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi turut mengambil bagian dalam pengelolaan usaha dari sektor hulu hingga hilir.

Hal itu disampaikan Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono saat menjadi pembicara sekaligus berdialog dengan peserta Seminar Nasional Optimalisasi dan Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, Selasa (11/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, Ferry didampingi Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah.

Menurut Ferry, koperasi sektor perkebunan memiliki posisi strategis untuk membangun rantai pasok sawit yang lebih kuat, efisien, dan berkelanjutan. 

Karena itu, koperasi perlu didorong untuk tidak berhenti pada aktivitas di sektor hulu, tetapi mulai mengembangkan usaha pengolahan hingga menghasilkan berbagai produk turunan sawit.

Koperasi, kata Ferry, dapat mengambil peran melalui pembangunan dan pengelolaan pabrik Crude Palm Oil (CPO), minyak goreng, maupun produk turunan lainnya.

“Koperasi didorong agar dapat mendirikan pabrik-pabrik CPO sendiri sehingga kebutuhan minyak goreng dan produk turunannya dapat dipenuhi secara mandiri oleh koperasi,” ujar Menteri Koperasi Republik Indonesia, Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si.

Penguatan hilirisasi tersebut juga dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan PT Agrinas Palma Nusantara serta dukungan akses pembiayaan dari LPDB Koperasi. 

Dengan skema tersebut, koperasi yang berada di sekitar kawasan perkebunan diharapkan mampu menjadi mitra utama dalam pengelolaan lahan, produksi, hingga pengolahan hasil perkebunan sawit.

Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi, Panel Barus, menegaskan bahwa transformasi koperasi dari sektor hulu menuju hilir menjadi langkah penting untuk memperbesar manfaat ekonomi yang diterima petani.

Koperasi, menurutnya, tidak semestinya hanya berfungsi sebagai pengelola kebun. Lebih jauh, koperasi dapat menjadi pemilik sekaligus pengelola fasilitas pengolahan CPO sehingga memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai bisnis sawit.

Sementara itu, Bupati Musi Banyuasin Toha Tohet berharap semakin banyak koperasi di daerahnya mengikuti keberhasilan KUD Sejahtera Banyuasin yang telah mampu membangun pabrik pengolahan CPO.

Keberadaan koperasi yang mampu mengelola usaha dari kebun hingga pabrik dinilai dapat menjadi contoh konkret bagi petani untuk melihat koperasi bukan sekadar wadah kelembagaan, melainkan sebagai instrumen penguatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

Pengembangan hilirisasi sawit berbasis koperasi pada akhirnya diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar di tingkat daerah. 

Petani tidak hanya memperoleh manfaat dari hasil produksi perkebunan, tetapi juga memiliki peluang untuk menikmati nilai ekonomi dari proses pengolahan dan produk turunannya.

Dengan penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, kemitraan, serta penguasaan industri pengolahan, koperasi diharapkan mampu bergerak lebih mandiri dan menjadi kekuatan ekonomi baru dalam ekosistem industri kelapa sawit.