INDUSTRY.co.id - Jakarta, Didukung penuh oleh Danantara sebagai pemegang saham utama, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) memasuki babak baru transformasi korporasi yang ditandai dengan penguatan tata kelola, restrukturisasi organisasi, hingga reorientasi model bisnis. 

Serangkaian pembenahan yang dilakukan secara bertahap mulai menunjukkan hasil positif, tercermin dari peningkatan kinerja operasional maupun proyeksi keuangan sepanjang Semester I Tahun 2026.

Transformasi tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang perusahaan. 

Berawal dari PT Indra Karya (Persero) yang didirikan melalui PP Nomor 57 Tahun 1961 sebagai perusahaan jasa konsultan konstruksi, entitas ini kemudian bertransformasi menjadi PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) berdasarkan PP Nomor 3 Tahun 2025 dengan mandat baru di sektor perkebunan kelapa sawit tanpa meninggalkan kompetensi konsultansi konstruksi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Peran perusahaan semakin strategis setelah terbitnya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 yang memberikan penugasan kepada Agrinas Palma untuk memimpin pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional sekaligus mendukung pembangunan melalui jasa konsultan konstruksi pada berbagai proyek strategis negara.

Dalam menjalankan mandat tersebut, Agrinas Palma kini mengelola skala usaha yang jauh lebih besar. Perusahaan menerima pengelolaan lahan seluas 4,1 juta hektare hasil penugasan Satgas PKH serta mengoperasikan 23 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi dan kawasan timur Indonesia. 

Dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.380 ton per jam dan dukungan lebih dari 22.600 tenaga kerja, perusahaan memperkuat posisinya sebagai salah satu instrumen strategis pemerintah dalam pengembangan industri sawit nasional.

Selain mengelola perkebunan dari hulu hingga hilir, Agrinas Palma tetap mempertahankan lini bisnis jasa konsultan konstruksi yang berperan mendukung pembangunan infrastruktur strategis secara aman, efisien, dan berkelanjutan.

Kontribusi Agrinas Palma tidak berhenti pada pengelolaan perkebunan. Perusahaan diposisikan sebagai penggerak program Swasembada Pangan dan Energi Nasional melalui pengembangan sektor on farm dan off farm yang mengedepankan kemitraan Triple Helix, yakni sinergi antara pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat dan petani.

Pada sektor off farm, perusahaan membangun kolaborasi dengan kementerian dan lembaga pemerintah dalam aspek regulasi, didukung pembiayaan dari Danantara, Himbara, dan BPDP, serta memperkuat hilirisasi melalui kemitraan strategis bersama PT Pertamina (Persero). 

Sementara pada sektor on farm, Agrinas Palma mengembangkan pola kemitraan dengan petani, koperasi sawit, dan mitra korporasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Implementasi strategi tersebut diwujudkan melalui enam proyek prioritas yang menjadi fondasi pengembangan bisnis perusahaan. 

Program tersebut meliputi pengembangan perkebunan sawit seluas 400 ribu hektare, reaktivasi fasilitas biodiesel berkapasitas 600 ribu ton per tahun, pengembangan lahan singkong seluas 300 ribu hektare, pembangunan dua pabrik bioetanol berkapasitas masing-masing 300 KLPD, pengembangan jagung seluas 250 ribu hektare, serta pengembangan kedelai hingga 400 ribu hektare.

Untuk memastikan seluruh agenda transformasi berjalan optimal, Agrinas Palma menjalankan enam langkah strategis yang berorientasi pada peningkatan daya saing perusahaan. 

Langkah tersebut meliputi optimalisasi penjualan CPO melalui mekanisme lelang KPBN guna memperoleh harga yang kompetitif dan transparan, penerapan digital farming sebagai fondasi operasional berbasis data, implementasi Integrated Procurement System (IPS) untuk memperkuat tata kelola pengadaan, penguatan kemitraan bersama koperasi petani, penerapan Good Agricultural Practice (GAP) guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, serta restrukturisasi organisasi yang lebih lincah dengan penyederhanaan struktur kantor pusat dari 43 menjadi 34 divisi.

Berbagai langkah transformasi tersebut diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perusahaan sepanjang 2026. 

Pendapatan usaha diperkirakan mencapai Rp12,99 triliun atau meningkat sekitar 291 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp4,46 triliun. 

Laba bersih diproyeksikan menembus Rp4,05 triliun atau tumbuh sekitar 140 persen, sementara EBITDA diperkirakan mencapai Rp4,65 triliun atau meningkat sekitar 161 persen dibandingkan tahun 2025.

Di sisi operasional, volume produksi diproyeksikan melonjak dari 1,959 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 4,03 juta ton pada 2026, atau tumbuh sekitar 205 persen. 

Proyeksi tersebut menjadi indikator bahwa transformasi yang dijalankan tidak hanya memperkuat fondasi bisnis perusahaan, tetapi juga memperbesar kontribusi Agrinas Palma Nusantara dalam mendukung ketahanan pangan, hilirisasi industri, dan kemandirian energi nasional.