INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak mentah kembali menguat pada pembukaan perdagangan Senin (31/8/2026), bertahan di atas level US$80 per barel. Penguatan harga minyak dipicu kembalinya konfrontasi Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah jeda serangan selama beberapa pekan, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz. Juru bicara Komando Pusat AS Tim Hawkins menyampaikan serangan tersebut pada Minggu. Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap dua pangkalan militer AS di Yordania, menurut laporan media Iran pada Senin.

Eskalasi tersebut menjadi konfrontasi langsung pertama AS dan Iran setelah jeda serangan beberapa minggu. Pasar minyak langsung merespons dengan meningkatkan premi risiko karena konflik berpotensi mengganggu jalur pengiriman minyak utama yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar global.

Risiko gangguan semakin terlihat dari aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, jumlah kapal yang melintasi selat tersebut turun menjadi hanya lima kapal per hari sepanjang akhir pekan. Penurunan lalu lintas terjadi setelah meningkatnya serangan terhadap kapal yang melewati jalur strategis tersebut.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Minggu juga melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal ketika melintasi Selat Hormuz menuju kawasan Teluk pada Sabtu. Insiden tersebut menjadi serangan ketiga di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.

Situasi ini menjadi perhatian serius pasar mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Setiap gangguan yang menghambat pergerakan kapal tanker berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan harga minyak global.

Selain risiko geopolitik, sentimen bullish minyak turut diperkuat potensi pengetatan sanksi AS terhadap Iran. Departemen Keuangan AS kemungkinan mengumumkan sanksi sekunder baru setiap pekan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran, dengan sektor perbankan menjadi salah satu sasaran awal.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyerukan kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 untuk memutus hubungan ekonomi dengan Iran atau menghadapi risiko terkena sanksi sekunder.

Langkah tersebut berpotensi mempersempit ruang perdagangan Iran sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap aliran ekspor minyak negara tersebut. Bagi pasar, risiko sanksi menjadi faktor yang semakin penting di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, pasokan minyak melalui Selat Hormuz saat ini belum sepenuhnya kembali ke level sebelum konflik. Goldman Sachs memperkirakan total ekspor minyak mentah dan produk minyak yang melewati jalur tersebut telah meningkat menjadi sekitar 15 juta hingga 16 juta barel per hari.

" Meskipun angka tersebut masih 7 hingga 8 juta barel di bawah tingkat sebelum konflik, namun jauh melampaui titik terendah sebesar 5 juta hingga 6 juta barel per hari yang tercatat pada bulan Maret," ungkap Goldman Sachs.

Pergerakan tersebut menunjukkan adanya pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan risiko pasokan. Apabila eskalasi kembali meningkat dan aktivitas pelayaran semakin terganggu, pasar berpotensi kembali memperhitungkan lonjakan premi risiko minyak.

Dari sisi teknikal, harga minyak masih memiliki peluang melanjutkan penguatan apabila sentimen geopolitik tetap memburuk. Resistance terdekat berada di level US$88 per barel.

Namun, apabila muncul katalis negatif, termasuk meredanya ketegangan AS-Iran atau membaiknya kembali arus pengiriman melalui Selat Hormuz, harga minyak berpotensi terkoreksi menuju level support US$83 per barel.

Dengan demikian, arah harga minyak pada awal pekan ini tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan pasokan, tetapi juga oleh perkembangan konflik AS-Iran dan sejauh mana eskalasi tersebut mengganggu jalur energi global. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial yang dapat menentukan apakah reli harga minyak di atas US$80 per barel berlanjut atau kembali kehilangan tenaga.