INDUSTRY.co.id - Cikarang, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menyelenggarakan ASEAN-ID Academic Conference on the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) bekerja sama dengan President University. 

Konferensi yang berlangsung di Auditorium Charles Himawan, President University, Cikarang, Jawa Barat, ini digelar dalam rangka memperingati 50 tahun penandatanganan TAC.

Mengangkat tema “The 50 Year Journey of the TAC in ASEAN and Strengthening ASEAN Norms to Achieve the ASEAN Community Vision 2045,” konferensi membahas perjalanan TAC selama lima dekade serta relevansi prinsip-prinsipnya dalam memperkuat norma ASEAN dan menghadapi berbagai tantangan kawasan menuju ASEAN Community Vision 2045.

Konferensi ini dihadiri oleh sejumlah duta besar dan perwakilan negara-negara ASEAN serta negara mitra ASEAN di Jakarta, perwakilan Sekretariat ASEAN, Pusat Studi ASEAN dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, akademisi, dan para peneliti. Kehadiran para tokoh dan akademisi tersebut menjadikan konferensi sebagai ruang untuk bertukar perspektif sekaligus memperkuat jejaring dalam pengembangan kajian dan kerja sama ASEAN.

TAC Tetap Relevan di Tengah Perubahan Dunia

TAC ditandatangani di Bali pada 24 Februari 1976, ketika kawasan Asia Tenggara menghadapi berbagai tekanan, persaingan ideologi, dan warisan konflik. Lima puluh tahun kemudian, prinsip-prinsip yang terkandung dalam TAC, termasuk penghormatan terhadap integritas teritorial, non-intervensi, serta penolakan terhadap ancaman atau penggunaan kekuatan, tetap menjadi bagian penting dalam hubungan antarnegara di kawasan.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menekankan bahwa relevansi TAC justru semakin kuat di tengah lingkungan internasional yang semakin kompleks.

Dunia saat ini menghadapi persaingan geopolitik yang semakin tajam, meningkatnya penggunaan kekuatan, serta berbagai ancaman baru seperti serangan siber dan gangguan rantai pasok yang dapat memengaruhi stabilitas masyarakat. Dalam kondisi tersebut, TAC tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pencegahan konflik, tetapi juga sebagai landasan kerja sama di antara negara-negara pihak.

Lebih lanjut, Dirjen Ina menekankan bahwa keberadaan norma dan mekanisme saja tidak cukup. Tantangan utamanya adalah bagaimana instrumen yang telah tersedia dapat digunakan secara lebih efektif dan diterjemahkan menjadi kerja sama yang nyata.

“Sebuah tanda tangan memiliki nilai ketika diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Ujian sesungguhnya adalah apakah para pihak dapat menahan diri dan menyelesaikan perbedaan secara damai, menegakkan hukum internasional, serta menerjemahkan kerja sama yang efektif menjadi tindakan konkret,” ujar Dirjen Ina dikutip Senin (31/8/2026).

Pendidikan sebagai Penghubung Masyarakat ASEAN

Bagi President University, kerja sama ASEAN tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, tetapi juga dengan bagaimana masyarakat di kawasan dapat saling mengenal dan memahami. Dalam sambutannya, Handa Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., Rektor President University, menekankan pentingnya pendidikan dalam membangun hubungan antarmasyarakat ASEAN.

Selama hampir 25 tahun, President University telah menjadi bagian dari upaya tersebut dengan menghadirkan mahasiswa dari berbagai negara ASEAN ke lingkungan kampus. 

Saat ini, mahasiswa dari delapan dari 11 negara ASEAN telah atau sedang menempuh pendidikan di President University. Ke depan, President University juga terus membuka kesempatan bagi mahasiswa dari Kamboja, Laos, dan Singapura untuk menjadi bagian dari komunitas akademiknya.

“Kami percaya ASEAN hanya dapat terus berkembang dan tetap bersatu jika masyarakatnya saling memahami. Pendidikan merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Handa.

Komitmen tersebut semakin diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara President University dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam rangka kerja sama Pusat Studi ASEAN. PKS tersebut ditandatangani oleh Handa Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., Rektor President University, dan Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, yang menandai bergabungnya President University sebagai Pusat Studi ASEAN ke-70 di Indonesia.

Melalui kerja sama ini, President University semakin memperkuat perannya dalam pengembangan kajian ASEAN dan Asia Tenggara, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi penelitian, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi akademik mengenai isu-isu regional.

Memperkuat Peran Akademisi dalam Kerja Sama ASEAN

Pembahasan dalam konferensi juga menempatkan komunitas akademik sebagai bagian penting dalam menerjemahkan prinsip-prinsip TAC ke dalam konteks tantangan masa kini.

Dirjen Ina menekankan bahwa akademisi dan Pusat Studi ASEAN tidak cukup hanya menjelaskan isi TAC, tetapi juga perlu menghasilkan kajian yang dapat membantu melihat bagaimana TAC dapat diterapkan terhadap berbagai risiko dan tantangan kontemporer.

Konferensi ini menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkuat jejaring antara pemerintah, perguruan tinggi, dan Pusat Studi ASEAN. Kegiatan ini juga dihadiri oleh lebih dari 30 tamu internasional serta perwakilan dari lebih dari 10 Pusat Studi ASEAN di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yang semakin memperkaya perspektif mengenai kerja sama ASEAN. 

Kegiatan ini juga mendukung pengembangan kajian Asia Tenggara serta peningkatan kapasitas anggota Pusat Studi ASEAN dalam menyusun proposal penelitian dan proyek yang dapat mendukung kerja sama regional ASEAN.

Melalui ASEAN-ID Academic Conference, perjalanan 50 tahun TAC tidak hanya dilihat sebagai bagian dari sejarah hubungan antarnegara ASEAN, tetapi juga sebagai momentum untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat terus digunakan dalam menghadapi tantangan masa depan.