INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pasar valuta asing memasuki awal pekan dengan pergerakan yang relatif terbatas. Dolar AS masih menjadi pusat perhatian setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran 57%–57,5%. Ekspektasi tersebut berpotensi menjaga daya tarik dolar AS, terutama jika data ekonomi Amerika yang akan dirilis pekan ini menunjukkan ketahanan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah mata uang utama masih berupaya memanfaatkan konsolidasi dolar AS. Namun, ruang penguatan mata uang seperti poundsterling, euro, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru tetap terbatas lantaran pasar harus menghadapi risiko perubahan kebijakan moneter The Fed.
Pada perdagangan awal pekan, GBPUSD menguat tipis ke sekitar 1,3543 setelah terkoreksi cukup tajam pada Jumat. Penguatan poundsterling masih terbatas karena pasangan ini belum mampu membangun momentum bullish yang kuat dan masih berada dalam fase koreksi setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Februari.
Poundsterling mendapat dukungan dari komitmen pemerintah Inggris untuk menjaga disiplin fiskal menjelang penyampaian Anggaran Musim Gugur pada 28 Oktober. Namun, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi perubahan ekspektasi kebijakan moneter.
Pasar bahkan telah menggeser perkiraan kenaikan suku bunga Bank of England berikutnya ke 2027 dari sebelumnya diperkirakan terjadi pada akhir 2026. Sebaliknya, komentar hawkish Warsh meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga AS pada September.
"Perbedaan ekspektasi kebijakan tersebut berpotensi menjaga daya tarik dolar AS," demikian tercermin dalam prospek GBPUSD. Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah juga berpotensi memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. GBPUSD saat ini memiliki support di area 1,3500 dan resistance di 1,3600.
Sementara itu, EURUSD bergerak menguat ke sekitar 1,1591 pada awal perdagangan sesi Asia. Penguatan euro terjadi ketika dolar AS mulai kehilangan sebagian momentumnya meskipun Warsh memberikan sinyal hawkish dengan menegaskan bahwa The Fed masih perlu bertindak apabila tekanan inflasi belum menunjukkan penurunan yang meyakinkan menuju target.
Dari Eropa, perhatian investor tertuju pada rilis awal inflasi Jerman. Inflasi tahunan Jerman diperkirakan meningkat menjadi 2,9% pada Agustus dari 2,8% pada Juli, sedangkan inflasi berdasarkan Harmonised Index of Consumer Prices (HICP) diproyeksikan mencapai 3%.
Jika realisasi inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan kebijakan European Central Bank (ECB) berpotensi meningkat dan memberikan tambahan tenaga bagi euro. Pandangan tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Isabel Schnabel mengenai meningkatnya risiko inflasi.
"Data yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan ECB dan memberikan dukungan bagi Euro," demikian prospek EURUSD. Secara teknikal, support berada di 1,1550 dan resistance di 1,1630.
Dari kawasan Asia-Pasifik, AUDUSD bergerak terbatas dengan penguatan tipis ke sekitar 0,7166. Sentimen dolar Australia memperoleh sedikit dukungan dari perbaikan moderat aktivitas manufaktur China.
PMI Manufaktur NBS China meningkat menjadi 49,8 pada Agustus dari 49,2 pada Juli dan sedikit di atas ekspektasi 49,7. Namun, angka tersebut masih berada di bawah level 50 yang menandakan sektor manufaktur China masih berada dalam fase kontraksi.
Di dalam negeri Australia, tekanan inflasi juga menjadi perhatian. Indeks inflasi TD-MI meningkat menjadi 4,8% secara tahunan pada Agustus dari 4%, meskipun secara bulanan mengalami perlambatan menjadi 0,5%.
Meski demikian, penguatan AUDUSD berpotensi menghadapi batasan dari sisi eksternal. "Arah kebijakan The Fed masih menjadi faktor penting bagi pergerakan pasangan ini," terutama setelah probabilitas kenaikan suku bunga AS pada September meningkat menjadi sekitar 57,5%. AUDUSD memiliki support di 0,7130 dan resistance di 0,7200.
Tekanan serupa membayangi NZDUSD. Pasangan ini menguat tipis ke sekitar 0,5912 setelah sebelumnya tertekan selama dua sesi berturut-turut. Dolar Selandia Baru mendapat dukungan terbatas dari perbaikan PMI Manufaktur China, tetapi sentimen tersebut belum cukup untuk mengubah gambaran fundamental secara signifikan.
Dari dalam negeri, keyakinan bisnis Selandia Baru justru melemah. Indeks Keyakinan Bisnis ANZ turun menjadi 53,7 pada Agustus dari 56,1, sedangkan Prospek Aktivitas turun menjadi 48,2.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) sebesar 25 basis poin masih menjadi penopang bagi NZD. Namun, potensi penguatan NZDUSD tetap terbatas selama dolar AS mendapatkan dukungan dari ekspektasi pengetatan The Fed.
"Potensi penguatan NZDUSD tetap terbatas karena dolar AS mendapat dukungan dari pernyataan hawkish Kevin Warsh yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September." Support NZDUSD berada di 0,5880 dan resistance di 0,5950.
Di pasar Jepang, USDJPY bergerak melemah tipis ke sekitar 159,82, tetapi masih bertahan dekat level psikologis 160,00 sekaligus level tertinggi satu bulan yang dicapai pada Jumat.
Yen masih menghadapi tekanan dari kekhawatiran kondisi fiskal Jepang dan kebijakan pemerintah yang cenderung ekspansif. Pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menilai pergerakan yen masih terkendali juga meredam spekulasi mengenai potensi intervensi bersama Jepang dan AS.
Selisih suku bunga masih menjadi persoalan utama bagi yen. Meski Bank of Japan telah menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,00% dan pasar masih memperkirakan peluang kenaikan berikutnya pada September, suku bunga The Fed yang berada di kisaran 3,5%–3,75% membuat selisih imbal hasil kedua negara tetap lebar.
Kondisi tersebut membuat strategi carry trade berbasis yen masih menarik dan berpotensi membatasi penguatan yen dalam jangka pendek. USDJPY memiliki support di 159,50 dan resistance di 160,00.
Berbeda dengan yen, franc Swiss masih memperoleh dukungan kuat dari statusnya sebagai aset safe haven. USDCHF bergerak melemah ke sekitar 0,8085 seiring penguatan franc Swiss dan konsolidasi dolar AS.
"Franc Swiss masih memperoleh dukungan dari permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar." USDCHF juga tengah memasuki fase koreksi setelah mencapai level lebih tinggi pada pekan sebelumnya. Support terdekat berada di 0,8045, sedangkan resistance berada di 0,8120.
Sementara itu, penguatan dolar Kanada membuat USDCAD turun ke sekitar 1,3891. CAD memperoleh katalis dari kenaikan harga minyak mentah setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat menyusul serangan terhadap target militer.
Sebagai salah satu eksportir minyak utama dunia, Kanada cenderung diuntungkan ketika harga minyak meningkat. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memperkuat CAD terhadap dolar AS.
Namun, ruang pelemahan USDCAD tetap dibatasi sikap hawkish The Fed. Warsh menegaskan bank sentral masih perlu mengambil langkah lebih lanjut apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang meyakinkan.
Data ekonomi Kanada yang dalam beberapa pekan terakhir relatif lebih kuat dari perkiraan juga memberikan dukungan bagi CAD, meski sebagian penguatan dinilai sudah tercermin dalam harga. Fokus berikutnya akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS dan Kanada pada Jumat.
Secara teknikal, USDCAD memiliki support di 1,3850 dan resistance di 1,3950.
Secara keseluruhan, arah pasar valuta asing pekan ini akan sangat ditentukan oleh tarik-menarik antara ekspektasi suku bunga The Fed, data tenaga kerja AS, perkembangan inflasi Eropa dan Australia, serta risiko geopolitik. Pernyataan hawkish Warsh telah mengembalikan isu kenaikan suku bunga AS ke radar investor, sehingga setiap data ekonomi yang memperkuat ketahanan ekonomi Amerika berpotensi kembali mengangkat dolar AS dan menekan mata uang utama lainnya.