INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga emas kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (31/8/2026). Harga emas dibuka melemah ke level US$4.456 per troy ons setelah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) berubah menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam pertemuan Jackson Hole.
Sikap Warsh yang dinilai lebih hawkish mendorong pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed masih membuka ruang untuk menaikkan suku bunga pada September. Perubahan ekspektasi tersebut menjadi tekanan baru bagi emas yang secara fundamental sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Setelah pidato Warsh, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat menjadi sekitar 57%. Kenaikan imbal hasil Treasury juga kembali memperbesar biaya peluang atau opportunity cost dalam memegang emas, mengingat logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.
"Pasar kini meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, sementara penguatan imbal hasil Treasury kembali meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan yield," demikian sentimen pasar yang tercermin dalam pergerakan harga emas.
Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada sejumlah indikator ketenagakerjaan AS yang berpotensi menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Data ADP, Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), hingga Nonfarm Payrolls (NFP) akan menjadi katalis penting bagi pasar pada pekan ini.
Konsensus saat ini memperkirakan perekonomian AS hanya menambah sekitar 50.000 pekerjaan pada Agustus dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Apabila realisasi data tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed berpotensi kembali menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih lemah dapat mengurangi ekspektasi pengetatan moneter dan kembali membuka ruang bagi emas untuk menguat. Dengan demikian, arah pasar emas dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada seberapa kuat sinyal yang diberikan data ekonomi AS terhadap keputusan The Fed.
Tekanan terhadap emas juga datang dari pasar energi. Eskalasi kembali konflik AS-Iran mendorong harga minyak, termasuk Brent, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut menciptakan situasi yang lebih kompleks bagi emas. Di satu sisi, meningkatnya risiko geopolitik dan inflasi biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, kenaikan harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi dan mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
"Tekanan inflasi dapat sekaligus mendorong The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama," menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan investor emas di tengah kembali meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan pasar keuangan AS.
Dari sisi teknikal, harga emas saat ini menghadapi support terdekat pada kisaran US$4.391 hingga US$4.325 per troy ons. Jika tekanan jual semakin kuat dan area tersebut gagal dipertahankan, harga emas berpotensi menguji support lebih dalam di sekitar US$4.140.
Sementara itu, ruang pemulihan harga masih menghadapi resistance pada kisaran US$4.576 hingga US$4.695. Apabila mampu menembus area tersebut, harga emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju resistance jangka menengah di sekitar US$4.880 per troy ons.
Dengan demikian, pasar emas memasuki pekan yang sarat katalis. Sikap hawkish The Fed, pergerakan yield Treasury, data tenaga kerja AS, serta perkembangan konflik AS-Iran akan menjadi faktor yang menentukan apakah emas mampu kembali menguat atau justru melanjutkan koreksi setelah reli panjang sebelumnya.