INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Preferensi hunian generasi muda mulai bergeser. Gen Z dan Milenial kini tak lagi sekadar mencari tempat tinggal yang terjangkau, tetapi menginginkan hunian yang fleksibel, strategis, lengkap fasilitas, sekaligus mampu menunjang mobilitas dan gaya hidup.
Pergeseran tersebut tercermin dari tren penghuni co-living yang semakin menghindari komitmen sewa jangka panjang. Berdasarkan temuan Cove, hampir 60% penghuni dari kelompok Gen Z dan Milenial pada 2026 berencana tinggal dalam periode 1–3 bulan. Porsi tersebut meningkat 32 poin persentase dalam tiga tahun terakhir.
Sebaliknya, minat untuk menetap selama satu tahun atau lebih turun 22 poin persentase dalam periode yang sama. Menariknya, perubahan tersebut tidak terutama didorong oleh tekanan pendapatan. Mayoritas penghuni Cove masih memiliki pendapatan di kisaran Rp10 juta, relatif sama dengan tahun sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan perubahan perilaku generasi muda dalam memilih tempat tinggal. Mereka cenderung menginginkan fleksibilitas untuk berpindah mengikuti peluang karier, perubahan kebutuhan maupun preferensi personal.
“Hari Perumahan Nasional kembali mengingatkan kebutuhan generasi muda yang amat spesifik untuk hunian. Sebanyak 95 persen penghuni Cove saat ini merupakan Gen Z dan Milenial, dan bagi mereka hunian yang layak tidak hanya sekedar kamar yang cukup untuk tidur, namun sebuah hunian yang dapat mendukung mobilitas, gaya hidup, dan pergeseran preferensi mereka yang cenderung dinamis,” ungkap Dian Paskalis, Country Director of Growth and VP of Online Marketing, Cove.
Di tengah harga rumah yang terus menjadi tantangan bagi masyarakat perkotaan, model hunian sewa seperti kost dan co-living semakin relevan bagi generasi produktif yang membutuhkan mobilitas tinggi. Namun, standar yang dicari juga ikut meningkat.
Cove mencatat, terdapat tiga pertimbangan utama Gen Z dan Milenial ketika memilih hunian pada 2026. Sebanyak 79% responden mengutamakan fasilitas kamar pribadi yang lengkap. Faktor berikutnya adalah kedekatan dengan kantor dan transportasi umum yang dipilih 52% responden, disusul fasilitas bersama seperti gym, rooftop, dan kolam renang sebesar 51%.
Dengan demikian, hunian bagi generasi muda bukan lagi sebatas ruang untuk tidur. Mereka menginginkan konsep tempat tinggal yang mampu menggabungkan kebutuhan istirahat, produktivitas, mobilitas dan rekreasi dalam satu ekosistem.
Faktor lokasi bahkan menjadi salah satu aspek yang mengalami penguatan paling signifikan. Dalam tiga tahun terakhir, pertimbangan lokasi meningkat lebih dari 20 poin persentase. Jakarta Selatan menjadi kawasan yang paling diminati dengan porsi 64%, disusul Jakarta Pusat 43% dan Jakarta Barat 35%.
Menariknya, mayoritas penghuni Cove tahun ini justru bukan pendatang dari luar Jabodetabek. Sebanyak 51% penghuni telah tinggal di wilayah Jabodetabek sebelumnya. Kondisi tersebut mengindikasikan semakin rendahnya toleransi generasi muda terhadap waktu tempuh perjalanan yang panjang.
Di sisi lain, persoalan kualitas bangunan masih menjadi ganjalan besar dalam pasar hunian sewa. Sebanyak 52% Gen Z dan Milenial yang sebelumnya mencari hunian lain mengaku membatalkan niat tinggal karena menemukan kondisi kebersihan dan perawatan gedung yang buruk.
Keluhan tersebut mencakup bangunan yang terlihat kotor dan tua, fasilitas kamar yang tidak terawat hingga sirkulasi udara yang buruk. Setelah faktor kebersihan dan perawatan, kelengkapan fasilitas menjadi keluhan terbesar berikutnya dengan porsi 43%.
Kebutuhan seperti area parkir, koneksi Wi-Fi stabil untuk bekerja dan lift pada gedung bertingkat yang sebelumnya dianggap sebagai nilai tambah dalam hunian sewa konvensional, kini mulai bergeser menjadi standar yang diharapkan generasi muda.
Perubahan preferensi tersebut menjadi sinyal bagi pelaku bisnis properti bahwa pasar hunian generasi muda tidak cukup digarap dengan menawarkan harga sewa kompetitif. Pengembang dan operator hunian dituntut menghadirkan produk yang lebih adaptif terhadap mobilitas, kebutuhan digital, akses transportasi serta gaya hidup penghuninya.
Pada akhirnya, pertumbuhan model co-living tidak semata-mata mencerminkan keterbatasan kemampuan membeli rumah. Fenomena ini juga menunjukkan perubahan cara Gen Z dan Milenial memandang tempat tinggal: dari aset yang harus ditempati dalam jangka panjang menjadi layanan yang harus mampu mengikuti ritme kehidupan mereka yang semakin dinamis.