INDUSTRY.co.id - KARAWANG — Citanusa Group mulai memetik hasil dari strategi menjaga kepastian pembangunan proyek properti. Pengembang tersebut resmi melakukan serah terima perdana Grahayana Homes di pusat Kota Karawang, Jawa Barat, Jumat (22/8/2026), dengan seluruh unit pada fase pertama diserahkan sesuai jadwal yang dijanjikan.
Capaian tersebut mencatat tingkat ketepatan serah terima 100%. Di tengah masih maraknya persoalan perumahan mangkrak di sejumlah daerah, termasuk Karawang, kepastian waktu pembangunan menjadi salah satu faktor yang semakin diperhitungkan konsumen sebelum membeli rumah.
Direktur Grahayana Homes Nerisa Arviana mengatakan, serah terima merupakan tahapan penting yang menentukan keberhasilan sebuah proyek hunian. Menurut dia, ukuran keberhasilan pengembang tidak semata-mata dilihat dari kemampuan menjual unit, tetapi juga dari kesanggupan merealisasikan janji hingga rumah dapat dihuni konsumen.
“Bagi kami, serah terima bukan sekadar menyerahkan kunci. Di balik setiap kunci ada kepercayaan konsumen yang harus kami jaga. Karena itu, kami ingin memastikan bahwa apa yang kami janjikan sejak awal dapat kami wujudkan, mulai dari proses pembangunan hingga rumah benar-benar siap untuk ditempati,” ujar Nerisa.
Dia menyebut ketepatan waktu serah terima fase pertama bukan sekadar capaian sesaat. Menurutnya, hasil tersebut ditopang perencanaan pembangunan, pengawasan konstruksi, serta manajemen proyek yang disiplin dan telah menjadi bagian dari budaya kerja Citanusa Group selama lebih dari 30 tahun.
Kepastian tersebut menjadi semakin relevan lantaran pasar perumahan masih dibayangi persoalan proyek mangkrak. Berdasarkan data Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Karawang, sebanyak 65 dari 473 perumahan yang terdata di wilayah tersebut masuk kategori terlantar karena ditinggalkan pengembang.
Kondisi itu membuat calon pembeli rumah dituntut lebih selektif. Selain mempertimbangkan lokasi dan harga, konsumen perlu melihat rekam jejak pengembang, legalitas proyek, kemampuan pendanaan, serta kepastian pembangunan sebelum mengambil keputusan pembelian.
Nerisa mengatakan Grahayana Homes sejak awal dirancang dengan memperhatikan aspek legalitas, konstruksi dan pendanaan agar pembangunan dapat berjalan sesuai rencana.
“Kami selalu memastikan dari awal bahwa perizinan proyek aman dan lengkap. Selain itu, manajemen proyek juga kami jaga dengan baik, baik dari segi konstruksi di lapangan maupun dari sisi pendanaan, agar setiap tahapan pembangunan bisa berjalan sesuai rencana hingga rumah siap diserahkan kepada konsumen,” ujarnya.
Di sisi lain, prospek properti Karawang masih mendapat sokongan dari aktivitas investasi dan industrialisasi yang kuat. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Karawang mencatat realisasi investasi mencapai Rp11,38 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut menempatkan Karawang sebagai daerah dengan realisasi investasi tertinggi kedua di Jawa Barat.
Industri pengolahan masih menjadi sektor terbesar dengan nilai investasi Rp8,08 triliun. Sektor informasi dan komunikasi menyusul dengan Rp1,5 triliun, sementara real estat berada di posisi ketiga dengan realisasi Rp1,25 triliun.
Masuknya real estat dalam tiga besar sektor investasi menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan industri Karawang turut menciptakan kebutuhan terhadap hunian. Arus investasi berpotensi mendorong urbanisasi dan meningkatkan kebutuhan tempat tinggal bagi pekerja maupun masyarakat yang mengikuti perkembangan ekonomi kawasan.
“Masuknya real estat sebagai salah satu sektor investasi terbesar di Karawang menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pasar properti di sini masih tinggi. Tapi kepercayaan itu harus dijaga dengan bukti. Serah terima tepat waktu ini adalah cara kami menunjukkan bahwa investasi masyarakat di sektor real estat Karawang berada di tangan yang tepat,” kata Nerisa.
Grahayana Homes sendiri mengusung konsep hunian modern tropis dan berada sekitar satu menit dari Jalan Tuparev, salah satu pusat perdagangan di Kota Karawang. Proyek ini menawarkan tiga tipe rumah, yakni Alaya dengan luas tanah 60 meter persegi dan luas bangunan 36 meter persegi, Denaya dengan luas tanah 72 meter persegi dan luas bangunan 59 meter persegi, serta Kaanti dengan luas tanah 88 meter persegi dan luas bangunan 90 meter persegi.
Harga hunian dipasarkan mulai dari kisaran Rp600 jutaan hingga Rp1 miliaran, dengan skema cicilan mulai sekitar Rp3 jutaan per bulan. Selain rumah tapak, kawasan tersebut juga dilengkapi ruko dengan harga mulai Rp900 jutaan.
Citanusa Group menyatakan serah terima akan dilanjutkan untuk unit-unit pada fase berikutnya dengan standar ketepatan waktu yang sama. Bagi pengembang, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat reputasi di tengah persaingan pasar properti Karawang yang semakin berkembang.
Dengan investasi industri yang terus mengalir dan sektor real estat yang ikut mencatatkan nilai investasi signifikan, peluang pasar hunian di Karawang memang masih terbuka. Namun, bagi pengembang, pertumbuhan pasar tersebut kini tidak cukup hanya dijawab dengan penjualan. Kepastian rumah benar-benar berdiri dan dapat diserahterimakan tepat waktu menjadi taruhan utama untuk merebut kepercayaan konsumen.