INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Biaya penataan ulang kantor atau office fit-out di kawasan Asia Pasifik terus mengalami peningkatan pada 2026. Keterbatasan tenaga kerja, tekanan harga material, hingga semakin kompleksnya sistem mekanikal, elektrikal, dan teknologi bangunan menjadi sejumlah faktor utama yang mendorong kenaikan biaya.

Temuan tersebut diungkap JLL (NYSE: JLL) melalui Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026. Laporan ini memetakan tren pasar serta berbagai faktor yang memengaruhi biaya penataan ulang kantor di 27 kota yang tersebar di 14 negara Asia Pasifik.

Laporan tersebut menjadi referensi bagi perusahaan dalam menyusun strategi belanja modal (capital expenditure/CAPEX), menentukan lokasi kantor, hingga merancang kebutuhan ruang kerja di tengah kondisi bisnis yang semakin kompleks.

Secara regional, rata-rata biaya office fit-out di Asia Pasifik mencapai US$1.550 per meter persegi, atau meningkat sekitar 2–5 persen secara tahunan.

Meski biaya mengalami kenaikan, terdapat perbedaan cukup besar antar kota. Jepang, Singapura, Australia, dan Selandia Baru tercatat memiliki biaya penataan ulang kantor yang relatif lebih tinggi.
Sebaliknya, India, Tiongkok, serta sejumlah negara di Asia Tenggara masih menawarkan biaya yang lebih kompetitif.

Martin Hinge, Executive Managing Director, Project & Development Services (PDS) JLL Asia Pacific, mengatakan perbedaan biaya tersebut menunjukkan pentingnya melihat kondisi pasar pada tingkat kota, bukan hanya berdasarkan rata-rata kawasan.

“Biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik menunjukkan variasi yang lebih beragam dibandingkan kawasan lain,” ujar Martin.

Menurutnya, tingginya biaya di sejumlah negara antara lain dipengaruhi keterbatasan tenaga kerja dan standar kualitas bangunan yang tinggi. Sementara di pasar lainnya, pergerakan nilai tukar turut memengaruhi tingkat biaya.

Di antara sejumlah kota besar Asia Tenggara, Jakarta memiliki biaya office fit-out yang lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.

Perbedaan tersebut memberikan gambaran bagi perusahaan yang tengah mempertimbangkan investasi maupun relokasi kantor di kawasan Asia Tenggara.

Rosari Chia, Head of Office Leasing Advisory, JLL Indonesia, menyebut Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara.

“Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar,” kata Rosari.

Dari sisi komponen biaya, laporan JLL juga menunjukkan bahwa layanan mekanikal dan elektrikal (M&E) menjadi penyumbang biaya terbesar untuk office fit-out di Indonesia. Posisi berikutnya ditempati pekerjaan konstruksi, sedangkan jasa profesional menjadi komponen dengan porsi biaya paling rendah.

Kondisi geopolitik global turut memberikan tekanan terhadap biaya proyek. Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, misalnya, berdampak terhadap volatilitas pasar energi global.

Situasi tersebut menjadi perhatian bagi Asia Pasifik karena kawasan ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, petrokimia, serta material yang membutuhkan energi besar dalam proses produksinya.

Tekanan harga baja dan tembaga juga menjadi perhatian utama pelaku industri. Berdasarkan laporan JLL, sebanyak 68 persen pemimpin fungsi biaya di Asia Pasifik menyebut harga baja dan tembaga sebagai salah satu kekhawatiran terbesar.

Keterbatasan tenaga kerja, penyesuaian harga berbasis risiko, serta meningkatnya margin kontraktor juga menjadi faktor yang membuat biaya office fit-out tetap berada dalam tekanan.

Selain harga material, fluktuasi nilai tukar menjadi faktor penting dalam penyusunan anggaran proyek.
Pergerakan kurs dapat menciptakan distorsi biaya yang cukup signifikan. Kondisi tersebut mendorong kontraktor menyesuaikan premi risiko dalam penawaran proyek.

JLL menilai perusahaan multinasional perlu menerapkan analisis dua mata uang atau dual-currency analysis. Strategi pengadaan juga perlu disesuaikan dengan kondisi pasar lokal untuk mengurangi risiko kesalahan dalam menyusun anggaran.

Daniel Malacchini, Head of Cost Advisory & Cost Management, Project & Development Services (PDS), Asia Pacific, JLL, mengatakan analisis berbasis kota semakin penting dalam menentukan keputusan investasi dan lokasi.

“Kami melihat, hal ini mendorong diskusi dengan banyak perusahaan yang mempertimbangkan dampak geopolitik dan akses terhadap rantai pasok saat mengevaluasi risiko biaya proyek serta upaya mitigasi yang diperlukan,” ujarnya.

Di tengah kenaikan biaya, aspek keberlanjutan justru semakin mendapatkan perhatian dalam proyek penataan ulang kantor. Laporan JLL mencatat 88 persen pasar di Asia Pasifik melaporkan peningkatan permintaan terhadap proyek sustainable fit-out. Selain itu, sebanyak 46 persen organisasi secara aktif menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi.

Tren tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak lagi hanya mengejar efisiensi biaya awal. Kinerja bangunan, efisiensi energi, ketahanan operasional, serta keberlanjutan mulai menjadi bagian penting dalam menentukan investasi ruang kerja.

Teknologi juga semakin dipandang sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko, bukan sekadar fasilitas tambahan bagi pekerja.

Bagi pelaku bisnis yang berencana membangun, merenovasi, atau merelokasi kantor, data biaya pada tingkat kota dapat menjadi dasar untuk menentukan anggaran, strategi pengadaan, desain ruang kerja, hingga pemilihan lokasi.