INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak bergerak terkoreksi pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Tekanan datang dari meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah setelah Iran dan Oman mencapai sejumlah kesepakatan terkait pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Juru bicara Garda Revolusi Iran Hossein Mohebi mengatakan Teheran dan Oman telah mencapai sejumlah kesepakatan, termasuk mekanisme pembagian pendapatan yang diperoleh dari pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz.

Berdasarkan pengaturan yang diusulkan, kapal komersial yang memasuki Teluk Arab akan melintasi perairan Iran. Sementara kapal yang keluar akan menggunakan rute yang sebagian melewati perairan Iran dan Oman. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa potensi kesepakatan tersebut tidak mencakup kapal militer.

Perkembangan ini menjadi katalis negatif bagi harga minyak karena berpotensi mengurangi risiko gangguan distribusi minyak melalui salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Tekanan juga datang dari Arab Saudi. Saudi Aramco dilaporkan menawarkan tambahan minyak mentah untuk dimuat di luar Selat Hormuz pada September. Langkah tersebut dilakukan setelah Aramco menjual sedikitnya 4 juta barel minyak ke China pada bulan ini.

Aramco bahkan disebut telah menawarkan minyak kepada pembeli Asia selama dua pekan berturut-turut melalui mekanisme transfer antarkapal di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab, dan Sohar, Oman. Kedua lokasi tersebut berada di luar Selat Hormuz sehingga memungkinkan pengiriman minyak tanpa bergantung sepenuhnya pada jalur tersebut.

Aramco sebelumnya telah menjual sedikitnya 4 juta barel minyak mentah kepada PetroChina dan Sinochem pada pekan lalu. Tambahan pasokan dari produsen minyak terbesar Arab Saudi ini berpotensi meningkatkan ketersediaan minyak di pasar Asia sekaligus menekan harga.

Di sisi lain, sentimen bullish masih datang dari Rusia. Kilang minyak NORSI, yang merupakan kilang terbesar keempat sekaligus produsen bensin terbesar kedua di Rusia, menghentikan aktivitas pengolahan minyak pada Rabu setelah terkena serangan drone Ukraina.

Tiga sumber industri mengatakan penghentian tersebut dilakukan menyusul kerusakan akibat serangan. Lukoil sebagai pemilik kilang belum memberikan kepastian mengenai waktu perbaikan maupun kapan operasional kembali normal.

Gangguan terhadap kapasitas pengolahan minyak Rusia berpotensi mengurangi pasokan produk olahan di pasar global. Namun, sentimen tersebut masih tertahan oleh perkembangan geopolitik lain yang menunjukkan potensi eskalasi perang Rusia-Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin disebut mengisyaratkan rencana untuk meningkatkan eskalasi konflik setelah perundingan damai menemui jalan buntu. Putin juga menegaskan tidak akan mengakhiri perang hanya karena tekanan ekonomi akibat sanksi maupun serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan jaringan logistik Rusia.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga minyak masih menghadapi tekanan. Harga minyak berpotensi menguji level resistance terdekat di US$84 per barel. Apabila katalis negatif kembali menguat, harga minyak berpeluang turun menuju level support di US$79 per barel.

Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada perkembangan Selat Hormuz, kebijakan pasokan Saudi, serta dampak serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Sentimen dari Timur Tengah cenderung menekan harga, sementara gangguan pasokan dari Rusia menjadi faktor penahan koreksi.