INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak mentah bergerak bearish pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Pasar minyak mendapat tekanan dari perkembangan diplomasi untuk mengakhiri konflik Iran serta sinyal pembukaan kembali Selat Hormuz secara sementara. Di saat yang sama, lonjakan stok minyak mentah Amerika Serikat berdasarkan laporan American Petroleum Institute (API) semakin memperbesar tekanan terhadap harga.
Perkembangan negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik menjadi sentimen utama yang meredam kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Para pejabat Pakistan pada Selasa menyatakan telah terjadi kemajuan signifikan dalam pembicaraan tingkat tinggi yang bertujuan mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran.
Pembicaraan tersebut berlangsung pada Senin di Teheran dan melibatkan Kepala Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Syed Asim Munir serta Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi. Pertemuan itu berfokus pada sejumlah langkah untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut, membuka kembali Selat Hormuz, serta mempercepat pengakhiran konflik.
"Pembicaraan itu berlangsung pada hari Senin di Teheran antara kepala angkatan darat Pakistan, Field Marshal Syed Asim Munir, dan Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi," demikian tulis keterangan tersebut.
Harapan meredanya konflik juga diperkuat kesepakatan Iran dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz untuk sementara waktu. Seorang pejabat Iran pada Selasa mengatakan kedua negara sepakat melanjutkan negosiasi selama beberapa bulan ke depan guna menemukan solusi permanen atas pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut.
Kesepakatan tersebut mencakup pembentukan koridor navigasi sementara untuk mengatur lalu lintas kapal serta pelaksanaan proyek pembersihan ranjau dari selat. Potensi kembali normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi sentimen negatif bagi harga minyak karena mengurangi premi risiko pasokan yang sebelumnya menopang pasar.
Tekanan juga datang dari Amerika Serikat. Laporan terbaru API menunjukkan persediaan minyak mentah AS bertambah 4,2 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus 2026. Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan peningkatan sekitar 1,9 juta barel.
Kenaikan stok yang lebih besar dari perkiraan mengindikasikan permintaan minyak yang relatif lesu di pasar AS. Kondisi tersebut menjadi sinyal tambahan bagi pasar bahwa fundamental permintaan belum cukup kuat untuk menopang harga minyak dalam jangka pendek.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu laporan persediaan resmi pemerintah AS yang akan dirilis Energy Information Administration (EIA) pada Rabu malam. Data EIA menjadi perhatian karena berpotensi mengonfirmasi atau justru membantah gambaran pasokan yang tercermin dalam laporan API.
Di tengah sentimen bearish tersebut, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan dihantam rudal tak dikenal pada Selasa dan mengalami kerusakan hingga tidak dapat beroperasi.
Menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), insiden tersebut terjadi sekitar 9 mil laut di timur laut Ash Shishah, Oman. Gangguan terhadap kapal tanker tersebut menunjukkan bahwa risiko keamanan di jalur pelayaran kawasan masih dapat menjadi faktor penahan penurunan harga minyak.
Namun, untuk sementara pasar tampaknya lebih menitikberatkan pada prospek deeskalasi konflik dan membaiknya akses pelayaran melalui Selat Hormuz. Jika proses negosiasi berlanjut positif dan pembukaan selat berjalan sesuai rencana, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut karena risiko gangguan pasokan semakin berkurang.
Dari sisi teknikal, harga minyak berpotensi menghadapi resistance terdekat di level US$83 per barel. Sebaliknya, apabila muncul katalis negatif yang memperkuat tekanan jual, harga berpotensi bergerak turun dan menguji support di level US$78 per barel.
Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek akan ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni perkembangan negosiasi Iran, realisasi pembukaan Selat Hormuz, dan data stok minyak AS versi EIA. Jika ketiganya memberikan sinyal bearish, ruang koreksi harga minyak akan semakin terbuka.