INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis (27/8), dengan harga pembukaan mencapai US$4.603 per troy ons. Penguatan harga emas ditopang ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), di tengah meningkatnya perhatian terhadap risiko fiskal Amerika Serikat (AS) dan prospek pelemahan dolar AS dalam jangka panjang.
Namun, ruang penguatan emas masih dibayangi oleh tekanan inflasi AS. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Juli 2026 tercatat naik 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS karena inflasi yang masih tinggi dapat mendorong The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole. Pernyataan Warsh akan menjadi salah satu petunjuk penting bagi investor untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 36,5%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 72,7%.
Di tengah tarik-menarik antara ekspektasi suku bunga dan risiko ekonomi global, emas masih mendapatkan sokongan dari ketidakpastian geopolitik. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS serta potensi pelemahan nilai dolar dalam jangka panjang juga menjadi faktor yang menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Secara teknikal, harga emas memiliki level support terdekat di kisaran US$4.558 hingga US$4.525 per troy ons. Sementara itu, area resistance terdekat berada pada rentang US$4.649 hingga US$4.707 per troy ons.
Jika tekanan jual meningkat dan harga menembus area support tersebut, emas berpotensi menguji support lebih dalam di US$4.434. Sebaliknya, apabila mampu melewati resistance terdekat, harga emas berpeluang bergerak menuju resistance jangka menengah di area US$4.798 per troy ons.
Dengan demikian, arah harga emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada kombinasi sinyal kebijakan The Fed, perkembangan inflasi AS, pergerakan dolar, serta sentimen risiko global.