INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat kinerja fundamental yang solid hingga semester I 2026. Di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan serta dinamika ekonomi dan geopolitik global, BNI mampu menjaga pertumbuhan kredit, memperkuat struktur pendanaan, mempertahankan kualitas aset, sekaligus meningkatkan pendapatan inti.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan terus mengarahkan strategi bisnis pada pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat bisnis inti serta menjalankan transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat,” kata Putrama.

Menurut dia, strategi tersebut memungkinkan BNI menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi produk dan layanan bagi nasabah di berbagai segmen. 

Arah pengembangan ini juga sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menekankan penguatan fundamental, tata kelola profesional, dan penciptaan nilai jangka panjang.

Digitalisasi dan BRAVE Dorong Produktivitas 

Transformasi digital menjadi salah satu motor utama pertumbuhan BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna wondr by BNI telah mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi melonjak 110% secara tahunan.

Di segmen wholesale, pengguna BNIdirect tercatat sekitar 280 ribu. Volume transaksi melalui kanal tersebut tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

Pertumbuhan ini menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI, baik oleh nasabah ritel maupun korporasi.

Selain digitalisasi, BNI juga memperkuat jaringan melalui implementasi BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) yang kini telah diterapkan di seluruh wilayah operasional.

Program tersebut dirancang untuk memperkuat peran kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi ekonomi di masing-masing daerah.

“Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis,” ujar Putrama.

Integrasi antara jaringan fisik dan kapabilitas digital diharapkan mampu mempercepat akuisisi nasabah, memperluas transaksi, serta memperkuat kualitas hubungan dengan nasabah.

Kredit Tumbuh 24,4 Persen

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyampaikan, kredit BNI hingga akhir Juni 2026 tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi, mencakup segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer. Ekspansi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko masing-masing debitur.

Di sisi pendanaan, CASA tumbuh 11,2% secara tahunan sehingga rasio CASA tetap terjaga di level 65,4%. Perbaikan struktur dana tersebut turut menekan biaya dana pihak ketiga menjadi 2,56%, dari 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan,” kata Paolo.

Kinerja bisnis inti juga tercermin dari pertumbuhan pendapatan. Net interest income (NII) meningkat 14,2% menjadi Rp22,3 triliun, sedangkan fee-based income (FBI) tumbuh 14,2% menjadi Rp9 triliun.

Kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga dan nonbunga tersebut mendorong pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, atau menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp10,8 triliun.

Paolo menilai pertumbuhan profitabilitas tersebut semakin menunjukkan kuatnya kontribusi bisnis inti BNI.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya,” ujarnya.

Kualitas Aset Tetap Terjaga

Di tengah ekspansi kredit, BNI tetap menjaga kualitas aset melalui penerapan manajemen risiko secara disiplin. Hingga akhir Juni 2026, loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,1%, dari 11,0% pada periode sebelumnya. Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) berada pada level 1,9%.

BNI juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif untuk memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi ekspansi bisnis secara prudent.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset tersebut merupakan hasil dari penerapan manajemen risiko di seluruh tahapan proses bisnis.

“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit,” ujar David.

BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar perubahan profil risiko debitur dapat teridentifikasi dan ditangani lebih cepat.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan melanjutkan penguatan struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui manajemen risiko dan pencadangan yang disiplin.

Transformasi BRAVE dan digitalisasi juga akan terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan.