INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kelebihan stok pada bisnis omnichannel ecommerce jarang muncul dari satu keputusan besar. Masalah ini biasanya terbentuk dari banyak pemesanan kecil yang tidak terkendali, dan risikonya makin besar karena penjualan tersebar di berbagai kanal berbeda sehingga pengendalian stok menjadi lebih kompleks.
Menurut CAPS Research 2024, akurasi persediaan rata-rata bisnis saat ini masih berada di bawah target umum yang ditetapkan banyak perusahaan, apalagi dibandingkan level terbaik yang bisa dicapai. Pengendalian stok sangat bergantung pada data yang akurat, dan di sinilah peran Alternatif platform omnichannel dengan harga terjangkau seperti Mekari Desty dibutuhkan. Hal ini karena software inventory control dapat memastikan stok dicatat dengan tepat dan terkini.
Ketujuh prinsip berikut dapat diterapkan secara bertahap tanpa perlu merombak seluruh sistem operasional sekaligus.
1. Permintaan Dihitung dari Penjualan Gabungan Semua Kanal
Perkiraan kebutuhan stok sebaiknya didasarkan pada penjualan nyata dari periode sebelumnya, bukan pada target penjualan yang ingin dicapai. Menggunakan target sebagai acuan berisiko menyebabkan kelebihan stok jika target tersebut tidak terpenuhi.
Data yang digunakan juga harus berasal dari seluruh kanal penjualan secara bersamaan. Jika masing-masing kanal melakukan pemesanan sendiri-sendiri dengan penyangga (buffer) masing-masing, total penyangga tersebut bisa menumpuk dan justru menghasilkan stok yang berlebihan.
2. Periode Kampanye Dihitung Terpisah dari Hari Biasa
Lonjakan penjualan pada masa kampanye tidak dapat dijadikan gambaran permintaan normal pada hari biasa. Jika data kampanye digabungkan ke dalam rata-rata penjualan umum, pemesanan untuk periode setelah kampanye berisiko berlebihan.
Acuan untuk periode kampanye sebaiknya memakai data penjualan kampanye sebelumnya pada kanal yang sama. Penting juga mengevaluasi sisa stok dari kampanye sebelum melakukan pemesanan reguler berikutnya, supaya tidak terjadi penumpukan barang.
3. Titik Pemesanan Ulang Memperhitungkan Lead Time
Titik pemesanan ulang (reorder point) idealnya dihitung dari rata-rata penjualan harian dikalikan lead time supplier. Lead time ini mencakup waktu dari pemesanan hingga barang benar-benar siap dijual, termasuk proses pemeriksaan dan pengecekan.
Karena lead time bisa berubah mengikuti kondisi supplier dan musim, angka yang dipakai untuk menentukan titik pemesanan ulang perlu diperbarui secara berkala agar pemesanan tidak dilakukan terlalu dini atau terlambat.
4. Batas Atas dan Batas Bawah Stok per SKU
Setiap produk (SKU) sebaiknya memiliki batas bawah untuk menjaga ketersediaan barang dan batas atas untuk mencegah penumpukan stok. Penetapan batas ini perlu dilakukan per SKU karena kecepatan penjualan tiap produk berbeda-beda.
Batas atas stok juga berfungsi sebagai rem ketika ada tawaran pembelian dalam jumlah besar. Jika pembelian melebihi batas atas yang ditentukan, diperlukan persetujuan khusus agar stok tidak membengkak tanpa kendali.
5. Prioritas Pengawasan Mengikuti Analisis ABC
Kontribusi setiap SKU terhadap nilai penjualan sangat bervariasi, dan analisis ABC mengelompokkan barang berdasarkan nilai kontribusi penjualan atau nilai persediaannya.
Pengawasan stok kemudian disesuaikan dengan kelompok tersebut. Produk kelompok A, yang memberikan kontribusi terbesar, dipantau dengan ketat, sementara kelompok C, yang kontribusinya paling kecil, cukup dipantau dengan siklus pengawasan yang lebih longgar.
6. Cycle Count Rutin Menjaga Angka Tetap Akurat
Jika angka stok di sistem lebih kecil dibandingkan jumlah nyata barang di gudang, hal ini bisa memicu pemesanan ulang yang sebenarnya tidak diperlukan. Untuk menghindarinya, dilakukan cycle count, yaitu penghitungan sebagian stok secara bergilir sehingga selisih dapat ditemukan lebih cepat.
Frekuensi penghitungan sebaiknya disesuaikan menurut kelompok barang, agar selisih stok dapat terdeteksi selagi transaksi masih bisa ditelusuri kembali.
7. Indikator Kinerja Persediaan Ditinjau Berkala
Pengendalian stok menuntut adanya ukuran kinerja yang konsisten dari periode ke periode. Indikator yang biasa dipakai antara lain perputaran persediaan (harga pokok penjualan dibagi rata-rata persediaan), hari persediaan (dihitung dari angka perputaran tersebut), serta persentase akurasi stok.
Melalui tinjauan berkala, angka-angka tersebut dapat diubah menjadi tindakan nyata. Misalnya, jika ada SKU yang perputarannya konsisten lebih rendah dari target, batas atas stok produk tersebut bisa diturunkan untuk mencegah penumpukan.
Ketujuh prinsip ini membantu menjaga stok bisnis omnichannel ecommerce agar tetap cukup untuk melayani semua kanal tanpa mengunci modal secara berlebihan. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menyatukan data penjualan dari semua kanal, lalu menetapkan batas atas dan batas bawah stok untuk produk kelompok A. Namun, seluruh prinsip ini pada akhirnya bergantung pada satu fondasi yang sama, yaitu data stok yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan.
Mekari Desty adalah platform omnichannel marketplace untuk membantu pebisnis online, admin e-commerce, dan tim operasional menyederhanakan dan mengelola operasional penjualan multi-channel dalam satu sistem terpusat secara lebih efisien sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis.
Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, Mekari Desty juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti Mekari Talenta, Mekari Flex, Mekari Jurnal, Mekari Expense, Mekari Qontak, Mekari Klikpajak, Mekari Sign, Mekari POS, Mekari Officeless, dan Mekari Airene untuk mendukung automasi operasional bisnis secara end-to-end.