Anatomi Novel Perdamaian Bagi Indonesia

Oleh : Drs. Christianto Wibisono | Selasa, 05 September 2017 - 11:05 WIB

Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia (Foto Ist)
Christianto Wibisono dari Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) dan Analis Bisnis Terkemuka di Indonesia (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Hari Minggu 3 September di puncak Skye Restaurant top floor Menara BCA saya melanjutkan dialog dengan Bung Karno sambil menikmati cakrawala Jakarta 55 tahun setelah berdirinya Hotel Indonesia dan kembalinya Irian Barat kepangkuan RI setelah Persetujuan New York 15  Agustus 1962.

Christianto Wibisono (CW): Pak, politik dalam negeri Indonesia menghangat dengan kasus Rohingya sehingga memberi amunisi kepada oposisi untuk mengganggu petahana presiden, jadi kita bahas soal ini karena pilpres dan pemilu kan masih “jauh” 2019.

Bung Karno (BK): Kamu salah, politisi itu memang 24 jam 7 hari seminggu politik. Jadi 2 tahun buat mereka juga sudah saban hari kampanye mau menjatuhkan martabat petahana dan meraih kursi 2 tahun lagi. Tapi OK mari kita bedah soal Rohinya dan Nobel 1991 Aung San Su Kyi. Bagaimana kalau kita mulai dengan mawas diri kita sendiri, riwayat nyaris dan “muntup muntupnya” Hadiah Nobel sudah ditangah kita. Tapi kita lepaskan karena kita sendiri “tidak cinta damai” tapi “ doyan kekerasan”.

CW: Tapi yang bisa mawas diri kan beyond superhuman seperti bapak, kalau manusia ya cenderung egois selfish mau menangnya sendiri, apa masih valid dan bermanfaat kotbah sejarah bapak?

BK: “Those who don’t want to learn from  history are condemn to repeat it” kata George Santayana (16 Des 1863- 26-Sep 1952 yang paling sering dikutip elite dimana saja termasuk kita.Tahun 1962 itu setelah gugurnya Yos Sudarso di Aru 15 Januari 1962 tampaknya perang Indonesia Belanda berebut Irian tidak terhindar lagi.  

Soeharto saya angkat jadi Panglima Mandala, KSAU pertama Suryadarma diganti 19 Januari oleh Omar Dani, karena dinilai “tidak mampu” melindungi armada Yos Sudarso. Yang justru tidak berkoordinasi dengan AURI karena operasi rahasia bersaing dengan pasukan Angkaran Darat Benny Moerdani . Ini bagian dari persaingan 3 angkatan.

Tapi Presiden John Kennedy yang sehobby dengan saya, Marilyn Monroe Fans Club, mengutus adiknya Robert Kennedy dan diplomat AS Ellsworth Bunker untuk memfasilitasi negosiasi Indonesia Belanda. Saya tunjuk Dubes Ri di Uni Soviet Adam Malik untuk menandingi Menlu van Royen dan keduanya mencapai kesepakatan akan menyerahkan Irian melalui UNTEA (UN Temporary Authority) pada 1 Juni 1963.

Sedang bendera merah putih sudah boleh berkibar 1 Januari 1963  Nah sebetulnya Menlu Philipina Carlos Romulo sudah mengucapkan selamat kepada saya serta bisikan bahwa kemungkinan perdamaian Irian itu akan memperoleh hadiah Nobel Perdamaian

CW: Tapi sejarah mencatat pemenangnya Linus Pauling satu satunya pemenang 2 Hadiah Nubel yang berbeda bidang: Ia  pakar nuklir  pemenang hadiah Nobel Kimia 1954 dan diplomat perumus Nuclear Ban Treaty yang berlaku 10 Oktober 1963 dan setelah ditunda setahun maka Nobel Perdamaian 1962 diserahkan ke Linus sedang yang tahun 1963 diterima oleh Palang Merah Internasional.

BK: Coba teliti arsip Nobel pasti akan ditemukan perdebatan dan masukan bahwa Sukarno layak dapat Nobel 1962 itu. Tapi memang segera setelah Irian kembali ke RI kan Indonesia melakukan konfrontasi dengan Malaysia dan konflik dengan IOC dan AGf tentang status Asian Games IV di Jakarta 1962. Situasi geopolitik 1962, saya menolak kehadiran Taiwan dan Israel di Asian Games IV. Karena itu ketua AGF GD Sondhi, dari India memicu demo anti India karena AGF Asian Games Federation memperingatkan bahwa kalau Indonesia tetap ngotot tidak mengikutsertakan Taiwan dan Israel maka AG IV itu bisa tidak diakui.

Nah saya malah langsung sewot go to hell AGF dan IOC, kita bikin Olympic tandingan yang saya sebut Games of the New Emerging Forces (GANEFO) November 1963. Gara gara itu Indonesia diskors tidak bisa ikut Olympiade Tokyo yang pertama di Asia 1964. Saya semakin keki dan mau membentuk PBB tandingan bernama Conefo )Conference of the New Emerging Forces) dan membangun gedung megah setara markas besar PBB.

CW: Karena meletus G30S semua berantakan, calon markas PBB tandingan kemudian dijadikan gedung MPR DPR Nobel 1964 juga melayang ke Martin Luther King Jr.. Apa bapak masih punya info confidential lain tentang sejarah Nobel Perdamaian.

BK: Jadi 1962 Hadiah Nobel mestinya bisa jatuh ketangan Sukarno Indonesia, tapi melayang dan elite Indonesia berhura hura, pura pura mengangkat saya menjadi Presiden Seumur Hidup dengan TAP MPRS no III tanggal 15 Mei 1963, yang kemudian diralat pada 1966 membuka jalan kudeta merayap Orde Baru lewat Supersemar 11 Maret 1966, yang dijadikan TAP MPRS no IX/1966.

Soeharto mendekat ke kubu AS Barat dan membekukan hubungan diplomatic dengan RRT. Lucunya AS sendiri 15 Agustus 1971 menerobos ke Beijing dalam keseimbangan Sam Kok, AS, Uni Soviet, RRT. Kissinger menemui Mao dan Zhou Enlai menyiapkan KTT Nixon Mao 1972. Pada Sidang Umum PBB 1971, Menlu Adam Malik menjadi Ketua yang mensahkan pemulihan kembali posisi RRT sebagai pendiri dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB menggantikan Taiwan.

Tahun 1975 Saigon jatuh dan AS meninggalkan Vietnam dan Asia Tenggara daratan dibawah bayang2 komunisme yang tidak solid. Sebab justru setelah AS pergi, RRT membeli pelajaran kepada Vietnam yang dinilai kurang membalas budi RRT dalam perang Vietnam. 1976 Orde Baru Soeharto direstui Gerald Ford menganeksasi Timtim karena takut jadi pangkalan komunis. Setelah 15 tahun dibawah RI mendadak 12 Nov 1991 muncul insiden Santa Cruz penembakan massa yang memicu isu Timtim di medan geoolitik PBB. Aung San Su Kyi memperoleh Nobel 1991.

Kemudian Uskup Bello dan Ramos Horta memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian 1996.

CW: Sebetulnya Jendral Soeharto sempat masuk nominasi karena berani menerima PM Yitzak Rabin di Cendana ketika menjadi ketua GNB periode 1992-1994. Apa yang bapak bisa share tentang KTT Rabin Soeharto.

BK: Betul itu Rabin tidak dikawal samasekali dari Halim ke Cendana supaya tidak mencolok. Setelah itu Rabin juga sowan Ketua GNB di New York  di sela sela sidang MU PBB. Memang Arafat sedang berunding dengan Rabin di Oslo, saying bahwa Soeharto tidak berani menawarkan dan mendamaikan Israel Palestina di Jakarta,  maka hadiah Nobel diberikan untuk Perdamaian Oslo antara Rabin Perez dan Arafat.

CW: Bagaimana Habibie kehilangan Nobel  Perdamaian 1999?

BK: Seandainya pasca referendum tidak terjadi insiden penjarahan dan pembantaian Dilli pasca referendum 30 Agustus 1999, Habibie layak dapat Nobel. Tapi PBB harus turun tangan mengatasi jadi kalau  1962 PBB melalui UNTEA (United Nations Temporary Authority) menyerahkan Irian Barat ke Republik Indonesia maka pada 1999-2000 PBB melalui UNTAET (UN Temporarity Authority of East Timor. Hadiah Nobelnya melayang ke Dokter Tanpa Batas (Medicine sans Frontiers).

CW: Presiden ke-4 Gus Dur dan Presiden ke 5 Megawati sempat nyrempet dapat Nobel pak?

BK: Gus Dur tidak sempat bikin gebrakan juru damai Israel Palestine meski dia salah satu elite langka yang berani ke Israel. Sebab Negara Negara Arab waktu dulu saya bela di Asian Games IV 1962, ketika kita diskors di Olympiade Tokyo juga malah lenggang kangkung ikut di stadion Tokyo sedang atlet kita “kleleran” tidak boleh ikut gara gara Ganefo.

Persis Jokowi kecewa Arab Saudi investasi berlipat kali di Tiongkok dan Malaysia, sedang di Indonesia malah paling kecil. Megawati juga hanya 3 tahun, kurang waktu bermanuver, meski sebetulnya dia merupakan presiden pertama yang mengunjungi AS pasca terror WTC 11 September 2001 bertemu Presiden George W Bush.

CW: Ya saya masih di Washington DC waktu itu pak.Terakhir apa Presiden SBY dan wapres Kalla atau  Boediono mengalami lost opportunity juga untuk memperoleh Nobel Perdamaian?

BK: Ya sebetulnya Perdamaian Helsinki 15 Agustus 2005 itu setara dengan Persetujuan New York Irian Barat 15 Agustus 1962. Dan memang SBY sendiri atau SBY Kalla layak dapat Nobel 2006. Tapi sebulan sebelum pengumuman Nobel 10 Oktober 2006,  Tibo di eksekusi 22 Sep 2006 mendahului pelaku bom Bali. Sedang seminggu sebelum pengumuman 3 Okt 2006 Polycarpus dibebaskan dari tuduhan kasus kematian Munir. Maka melayanglah Hadiah Nobel Perdamaian ke Mohamad Junus dari Grameen Bank. Itu karena tergesa gesa mencari pemenang, karena memang  Nobel Perdamaian 2006 sudah dicadangkan untuk Indonesia: SBY dan atau SBY Kalla.

Jadi kalau sekarang ini ada demo emosional mau lebih Rohingya dari Rohingya, saya ingin memperingatkan jangan sampai Indonesia ini melakukan kekonyolan diplomasi yang “absurd” dan “bunuh diri”. Mau bukti:
1. Kita “lebih dari Arab” menolak Israel dari Asian Games IV 1962 akibatnya diskors dari Olympiade Tokyo 1964. Eh Arabnya lenggang kangkung ikut tanding di Tokyo.

2 Kita mau bikin Conefo sebagai PBB tandingan, tapi RRT sendiri malah mau status pendiri dan Permanen V DK PBB yg harus dikonfirmasi oleh Adam Malik. Perlu tunggu 100 tahun lebih untuk bergilir jadi Ketua Majelis Umum PBB rotasi satu Negara tiap tahun.

Jangan sampai kita lebih Balkan dari Baklan, lebih Yugo dari Yugo, lebih Uni Soviet dari Uni Soviet dalam menyikapi Rohingya dan Aung San Su Kyi. Kita ucapkan selamat pada Bung Marzuki Darusman, Ketua Tim Pencari Fakta Myanmar Sekjen PBB. Semoga Indonesia benar benar bisa jadi jurudamai dan ketimbang demo anti Nobel, justru Marzuki Darusman berpeluang  memperoleh Nobel Perdamaian pertama untuk Indonesia setelah 6 presiden nyrempet nyrempet tapi lolos dari hadiah Nobel Perdamaian 1962, 1994 (Rabin Soeharto) 1999 Referendum Timtim dan 2006 untuk Helsinki 15 Agustus 2005.

CW: Terimakasih pencerahan tuntas tentang Nobel dan kita pak. Semoga bermanfaat bagi elite kita.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:45 WIB

Lindungi Industri Tekstil Nasional, API Segera Ajukan Safeguard

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat akan mengajukan tarif safeguard untuk produk tekstil impor sebesar 2,5%-18%. Pengajuan ini untuk melindungi produk tekstil dalam negeri…

Para finalis Miss Grand Indonesia dari 34 wilayah di Indonesia mengikuti pembekalan materi oleh Bupati Kabupaten Bogor di RM Bumi Aki Cibinong, Rabu (21/8).(Ist)

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:27 WIB

Miss Grand Indonesia 2019 Dukung Program Pariwisata Kabupaten Bogor

Selain pembekalan materi seputar wanita dan karier dari Bupati Bogor, para finalis juga dibekali materi kepribadian yang di sampaikan oleh Ahmad Zulfikar Priyatna. S.E.

Agus Mulyana, Direktur Kepatuhan Bank bjb saat menerima penghargaan

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:14 WIB

Bank bjb Raih Penghargaan TOP GRC 2019

Jakarta – Pengelolaan risiko yang baik menjadi salah satu kiat kunci yang harus dipraktikkan dalam setiap usaha bisnis. Peran manajemen risiko yang lebih banyak berada di balik layar ini tak…

Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana dan Blibli.com jalin kerjasama

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:05 WIB

Bank Muamalat Tebar Hadiah di Muka Bagi Penabung

Jakarta - Bank Muamalat memberikan program hadiah bagi penabung baik yang lama dan yang baru. Uniknya hadiah diberikan diawal saat akan menabung, ini hal yang berbeda dan sangat menarik bagi…

Marmer Batu Aalam

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:03 WIB

Penjualan Produk Marmer Turun Dampak Lesunya Sektor Properti

Penjualan produk marmer dan batu alam di dalam negeri mengalami penurunan di tahun ini. Penurunan tersebut merupakan imbas dari lesunya sektor properti.