Industry.co.id - Menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, peran Danantara Indonesia sebagai enabler kebangkitan teknologi nasional semakin strategis. Lembaga ini tidak hanya berinvestasi, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mengubah Indonesia dari negara pengekspor bahan mentah menjadi kekuatan industri berbasis teknologi.
Indonesia memiliki cadangan nikel dan timah terbesar di dunia, serta masuk jajaran 10 besar dunia untuk bauksit, batu bara, emas, dan tembaga berdasarkan data Kementerian ESDM. Namun, kekayaan mineral tersebut belum otomatis menempatkan Indonesia pada posisi kuat dalam rantai nilai material maju.
Teknokrat sekaligus putra sulung Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Ilham Habibie, menekankan bahwa penguasaan teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama agar Indonesia bisa mengoptimalkan kekayaan sumber daya alamnya.
"Tidak ada negara yang dapat menjadi maju hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Indonesia perlu mengubah orientasi pembangunan dari negara berbasis SDA menjadi negara dengan basis industri dan teknologi yang kuat," ujar Ilham.
Danantara Dorong Hilirisasi Mineral Kritis
Dalam konteks transformasi industri nasional, Danantara Indonesia berperan sebagai enabler yang memperkuat ekosistem industri melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, industri, dan akademisi. Fokus utamanya adalah hilirisasi mineral kritis agar Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa Indonesia terlalu lama berhenti di titik ekstraksi. Bahan-bahan seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth sebenarnya menjadi fondasi teknologi masa depan, mulai dari baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, hingga energi bersih.
"Selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat. Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju," kata Rosan.
Transfer Teknologi dan Co-Development Jadi Strategi Utama
Managing Director Industrialization Danantara, Ardy Muawin, menjelaskan bahwa penguasaan material maju menjadi hal penting untuk membangun kapabilitas nasional. Hal ini memungkinkan Indonesia bertransformasi dari resource-rich country menjadi capability-driven country.
Pendekatan Danantara dalam mengajak mitra investasi bukan hanya soal biaya dan waktu, tetapi juga industrial development. Transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset seperti BRIN menjadi bagian dari strategi agar pengembangan teknologi bisa menjadi milik Indonesia.
"Kami ingin ada transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset, sehingga pengembangan lanjutan nantinya bisa menjadi milik Indonesia," ucap Ardy.
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Rantai Pasok Nasional
Visi besar Danantara tersebut mulai diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kolaborasi lintas industri. Advanced Materials Industry Dialogue menjadi salah satu forum yang mendorong arah pengembangan material maju secara lebih terintegrasi.
Upaya tersebut diperkuat melalui penandatanganan kerja sama hilirisasi mineral kritis antara MIND ID, LEN, Krakatau Steel, dan Perminas. Kerja sama ini menjadi contoh awal pembangunan supply-offtake dan pengembangan teknologi bersama untuk mendukung kebutuhan industri strategis nasional.
Investasi jangka panjang Danantara diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan pekerjaan berkualitas, memperkuat kapabilitas industri dan teknologi nasional, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
FAQ
Q: Apa itu Danantara Indonesia?
A: Danantara Indonesia adalah lembaga yang berperan sebagai enabler dalam memperkuat ekosistem industri nasional melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, industri, dan akademisi, dengan fokus pada hilirisasi mineral kritis dan transfer teknologi.
Q: Apa peran Danantara dalam kebangkitan teknologi Indonesia?
A: Danantara mendorong transformasi Indonesia dari negara pengekspor bahan mentah menjadi kekuatan industri berbasis teknologi melalui investasi jangka panjang, transfer teknologi, co-development, dan kolaborasi lintas sektor.
Q: Siapa CEO Danantara?
A: CEO Danantara adalah Rosan Roeslani, yang menekankan pentingnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju.
Q: Apa itu material maju yang dikembangkan Danantara?
A: Material maju mencakup nikel untuk baterai kendaraan listrik, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth yang menjadi fondasi teknologi masa depan seperti semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih.
Q: Bagaimana Danantara melibatkan akademisi dalam pengembangan teknologi?
A: Danantara melibatkan universitas dan lembaga riset seperti BRIN dalam program transfer teknologi dan co-development, sehingga hasil pengembangan teknologi bisa menjadi milik Indonesia.