Jakarta, 13 Agustus 2026 – Pengelolaan aset negara melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan mengintegrasikan aset dan investasi negara yang sebelumnya tersebar dan terfragmentasi, Danantara memiliki ruang untuk mengelola aset secara lebih strategis sebagai portofolio investasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.

Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli mengatakan, perubahan dari pengelolaan aset yang tersebar menuju orkestrasi yang lebih terintegrasi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas aset negara sekaligus mempercepat agenda pembangunan, sepanjang Danantara memiliki strategi investasi yang jelas.

Menurutnya, aset BUMN perlu dilihat sebagai bagian dari satu portofolio yang dapat dioptimalkan melalui pengembangan, konsolidasi, restrukturisasi, maupun penataan aset yang kurang produktif. Pendekatan ini dapat menciptakan sinergi, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Orkestrasi tersebut selanjutnya dapat diarahkan pada sektor-sektor dengan multiplier effect tinggi. Investasi strategis, kata Dipo, tidak cukup dinilai dari financial return, tetapi juga dari kemampuannya meningkatkan produktivitas, mendorong industrialisasi, memperkuat rantai pasok, dan membangun kapasitas nasional.

"Investasi strategis itu tidak bisa hanya dilihat dari nominalnya. Yang lebih penting adalah seberapa cepat investasi tersebut menghasilkan multiplier effect, menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas, dan mendorong industrialisasi," jelas Dipo saat diwawancarai di Jakarta, Kamis (13/08/2026).

Sejumlah agenda yang tengah dikembangkan Danantara mencerminkan pendekatan tersebut, mulai dari hilirisasi di berbagai sektor, hingga investasi dan kerja sama strategis di dalam maupun luar negeri. Investasi pada sektor-sektor tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan kapasitas, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan industri, serta peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia.

Menjembatani Kebijakan Fiskal dan Investasi

Peran sebagai orkestrator aset, Danantara juga bisa menjadi pelengkap kapasitas fiskal pemerintah. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8–6,5% pada 2027 dan 8% pada 2029 membutuhkan investasi produktif dalam skala lebih besar, termasuk melalui optimalisasi aset negara dan mobilisasi modal swasta maupun investor global.

Dipo menilai, pendekatan tersebut menempatkan Danantara sebagai jembatan antara aset negara, kebutuhan investasi, dan arah kebijakan pembangunan pemerintah.

"Ketika aset negara dikelola secara terintegrasi dan dihubungkan dengan strategi investasi yang jelas, Danantara dapat membantu memperluas sumber pembiayaan pembangunan tanpa menjadikan APBN sebagai satu-satunya instrumen penggerak pertumbuhan," kata Dipo.

Karena itu, Dipo mengingatkan pentingnya pemilihan sektor investasi. Menurutnya, Danantara sebaiknya memprioritaskan industri strategis yang belum mampu dimasuki secara optimal oleh swasta karena membutuhkan modal besar, memiliki risiko tinggi, atau membutuhkan dukungan jangka panjang. Investasi pada sektor yang telah memiliki banyak pemain swasta justru berpotensi menimbulkan crowding out.

Investasi pada sektor yang menjadi bottleneck bagi industri lain, seperti bahan baku dan komponen hilirisasi, dinilai dapat memberikan multiplier effect lebih besar. Dengan demikian, modal negara tidak hanya menghasilkan return dari investasi, tetapi juga dapat menarik investasi lanjutan, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing industri nasional.

Menjaga Keseimbangan

Di sisi lain, fungsi strategis tersebut harus berjalan beriringan dengan mandat pengelolaan kekayaan negara secara prudent. Dipo menilai Danantara perlu menjaga keseimbangan antara financial return dan manfaat ekonomi-sosial.

Hal ini menjadi penting agar fungsi Danantara dalam mendukung agenda pembangunan tidak mengurangi modal inti maupun kapasitasnya untuk membangun dan mengembangkan kekayaan negara dalam jangka panjang. Karena itu, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kualitas proyek, profil risiko dan imbal hasil, kelayakan komersial, serta potensi penciptaan nilai jangka panjang.

Keberhasilan investasi Danantara pada akhirnya tidak cukup diukur dari besarnya aset atau valuasi yang berhasil dikonsolidasikan. Indikatornya perlu mencakup transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri, peningkatan produktivitas, serta peningkatan kapasitas nasional. Termasuk ketika bermitra dengan investor asing, investasi strategis idealnya disertai mekanisme transfer pengetahuan sehingga tenaga kerja Indonesia memperoleh peningkatan keterampilan dan posisi yang lebih besar dalam rantai nilai industri.