INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pasar valuta asing bergerak relatif dinamis pada perdagangan Selasa (11/8/2026), dengan sejumlah mata uang utama menguat terhadap dolar AS. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pekan ini yang diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Tekanan terhadap dolar AS meningkat setelah data ketenagakerjaan AS sebelumnya menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mereda dan memberikan ruang bagi mata uang seperti dolar Australia, euro, pound sterling, hingga dolar Kanada untuk menguat.
Namun, ruang pelemahan dolar AS belum sepenuhnya terbuka. Lonjakan harga minyak akibat ketidakpastian negosiasi AS-Iran dan belum adanya kepastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz kembali menghidupkan risiko inflasi. Jika tekanan harga AS kembali meningkat, The Fed berpotensi mempertahankan sikap hawkish lebih lama.
Dolar Australia menjadi salah satu mata uang yang mencuri perhatian. AUDUSD bergerak menguat ke sekitar 0,7060 setelah Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35% sesuai ekspektasi pasar.
Keputusan tersebut memang tidak mengejutkan karena telah diantisipasi investor. Namun, pasar mencermati nada kebijakan RBA yang tetap mewaspadai risiko inflasi dan membuka kemungkinan penyesuaian kebijakan apabila tekanan harga kembali meningkat.
Sikap tersebut memberikan amunisi bagi dolar Australia. Pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan suku bunga Australia bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama, meski sebelumnya ekspektasi kenaikan suku bunga RBA sempat mereda setelah inflasi Australia lebih rendah dari perkiraan.
Risiko inflasi kembali menjadi perhatian setelah kenaikan harga energi dan perkembangan geopolitik berpotensi memberikan tekanan terhadap harga dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, arah AUDUSD masih sangat bergantung pada perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter RBA.
Secara teknikal, AUDUSD masih mempertahankan momentum positif di sekitar 0,7060. Jika mampu bertahan di atas level psikologis 0,7000, pasangan ini berpeluang menguji resistance 0,7100. Sebaliknya, tekanan jual dapat membawa AUDUSD kembali ke support 0,7000.
Sementara itu, EURUSD bergerak menguat ke sekitar 1,1547, meski masih terbatas di area 1,1545–1,1550. Investor cenderung menahan posisi agresif sambil menunggu perkembangan konflik Timur Tengah dan data inflasi AS.
Pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan menjadi katalis positif bagi euro. Namun, kenaikan harga minyak menjadi ancaman baru karena dapat menghidupkan kembali tekanan inflasi AS.
Ketidakpastian negosiasi AS-Iran dan belum jelasnya pembukaan kembali Selat Hormuz membuat risiko harga energi tetap tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan yang lebih ketat apabila inflasi kembali meningkat.
Pasar pun menunggu data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan menjadi indikator penting untuk membaca arah kebijakan The Fed. EURUSD saat ini memiliki support di 1,1500 dan resistance di 1,1600.
Pound sterling juga melanjutkan penguatan. GBPUSD bergerak di sekitar 1,3512, memperpanjang kenaikan dalam dua sesi perdagangan terakhir. Penguatan pound terjadi meski ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) dalam waktu dekat semakin berkurang.
Dari sisi AS, indeks dolar atau DXY bergerak terbatas di sekitar 99,80. Investor memilih menunggu data inflasi AS sebelum mengambil posisi lebih agresif terhadap dolar.
Sementara dari Inggris, perhatian pasar tertuju pada data awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II dan PDB Juni yang akan dirilis Kamis. Pertumbuhan ekonomi Inggris pada kuartal II diperkirakan melambat menjadi 0,4% dari 0,6% sebelumnya, sedangkan ekonomi secara bulanan diproyeksikan mengalami kontraksi 0,1%.
Data tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi pasar dalam memperkirakan ruang gerak BoE. GBPUSD memiliki support di 1,3450 dan resistance di 1,3550.
Di kawasan Pasifik, NZDUSD bergerak menguat ke sekitar 0,5887, meski masih tertahan di bawah level 0,5900. Pasangan ini telah bergerak dalam kisaran relatif sempit selama sekitar sepekan karena investor menunggu katalis baru.
Data CPI dan PPI AS yang dijadwalkan masing-masing pada Rabu dan Kamis menjadi perhatian utama. Data tersebut berpotensi menentukan arah dolar AS sekaligus mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Di sisi lain, prospek kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang lebih hawkish berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar Selandia Baru. Ekspektasi kenaikan suku bunga RBNZ yang masih meningkat menjadi salah satu faktor yang menjaga NZDUSD.
Meski demikian, risiko inflasi akibat volatilitas harga minyak dan konflik Iran membuat dolar AS masih memiliki daya tarik sebagai aset safe haven. NZDUSD memiliki support di 0,5850 dan resistance di 0,5900.
Berbeda dengan mata uang antipodean, yen Jepang masih berada di bawah tekanan. USDJPY bergerak melemah ke sekitar 159,11 setelah sebelumnya melonjak hampir 1%.
Pergerakan USDJPY cenderung terbatas karena aktivitas pasar Jepang menurun seiring peringatan Hari Gunung. Namun, risiko intervensi otoritas Jepang kembali menjadi perhatian karena yen telah memangkas sebagian besar penguatan yang diperoleh dari intervensi sebelumnya, sementara posisi short terhadap yen masih tinggi.
Potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) juga menjadi faktor penting. Pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September di tengah kekhawatiran inflasi yang bersumber dari pelemahan yen, tingginya harga minyak, serta meningkatnya permintaan terkait kecerdasan buatan.
USDJPY memiliki support di 158,50 dan resistance di 160,00. Jika yen kembali melemah mendekati 160 per dolar AS, risiko intervensi otoritas Jepang berpotensi meningkat.
Di pasar Swiss, USDCHF melemah ke sekitar 0,8096 meski DXY masih bertahan di sekitar 99,75. Pergerakan dolar AS yang terbatas membuat pasangan ini berada di bawah tekanan.
Ketegangan AS-Iran dan belum adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz memang berpotensi menopang dolar AS melalui risiko inflasi dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Namun, franc Swiss juga mendapatkan keuntungan dari statusnya sebagai safe haven ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.
Karena itu, investor kembali menunggu CPI AS pada Rabu dan PPI pada Kamis sebagai penentu arah berikutnya. USDCHF memiliki support di 0,8050 dan resistance di 0,8120.
Sementara itu, dolar Kanada tampil relatif kuat. USDCAD bergerak melemah ke sekitar 1,3930 setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam dua bulan.
Penguatan loonie mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak. Kebuntuan negosiasi AS-Iran yang mengurangi harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat, ditambah terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, membuat kekhawatiran pasokan minyak tetap tinggi.
Sebagai mata uang yang sensitif terhadap pergerakan komoditas, dolar Kanada mendapatkan keuntungan ketika harga minyak meningkat. Data ketenagakerjaan Kanada yang lebih kuat juga turut memperkuat posisi loonie dan menekan USDCAD.
Namun, dolar AS masih memiliki penopang dari sisi risiko inflasi. Kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan harga dan mendorong The Fed mempertahankan sikap hawkish. Pasar bahkan masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga AS setidaknya sekali hingga akhir tahun.
Selanjutnya, rilis CPI dan PPI AS menjadi katalis paling penting bagi pasar. Data tersebut akan menentukan apakah pelemahan dolar AS saat ini berlanjut atau justru berbalik arah.
USDCAD memiliki support di 1,3880 dan resistance di 1,4000. Jika harga minyak terus menguat akibat risiko geopolitik, ruang pelemahan USDCAD masih terbuka.
Secara keseluruhan, pasar forex kini berada di persimpangan antara ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed dan risiko inflasi baru yang dipicu lonjakan harga energi. Data tenaga kerja AS yang melemah memang telah mengurangi tekanan terhadap dolar, tetapi konflik AS-Iran dan ketidakpastian pasokan minyak dapat menjadi kartu truf bagi greenback.
Dengan demikian, data inflasi AS menjadi ujian berikutnya. Jika CPI kembali menunjukkan tekanan harga yang tinggi, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dapat kembali tergerus dan dolar AS berpeluang merebut momentum. Sebaliknya, jika inflasi melandai, tekanan terhadap dolar berpotensi berlanjut dan membuka ruang penguatan lebih besar bagi mata uang utama lainnya.