INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja penjualan eceran nasional mulai menunjukkan perbaikan pada Juni 2026, meski secara tahunan masih berada di zona kontraksi. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang disampaikan Direktur Eksekutif BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers Selasa (11/8/2026), Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 tercatat sebesar 225,0 atau terkontraksi 3,0% secara tahunan (year on year/yoy).

Angka tersebut membaik dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya yang mencapai 3,9% yoy. BI menilai kondisi tersebut menunjukkan kinerja penjualan eceran relatif stabil di tengah dinamika konsumsi masyarakat.

“Survei Penjualan Eceran (SPE) Juni 2026 mengindikasikan kinerja penjualan eceran relatif stabil,” kata Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers BI, Selasa (11/8/2026).

Perbaikan terutama ditopang oleh sejumlah kelompok barang yang masih mampu mencatat pertumbuhan. Kelompok Suku Cadang dan Aksesori menjadi salah satu penopang utama dengan indeks 155,7 dan pertumbuhan 18,8% yoy. Selanjutnya, Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya mencatat pertumbuhan 2,8% yoy dengan indeks 84,5, sedangkan Kelompok Barang Lainnya tumbuh 1,1% yoy dengan indeks 83,6.

Di sisi lain, tekanan konsumsi masih terlihat pada sejumlah kelompok utama. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau masih terkontraksi 3,6% yoy dengan indeks 318,4. Subkelompok Sandang juga masih berada di zona kontraksi dengan penurunan 3,1% yoy dan indeks 85,7.

Jika dilihat secara bulanan, kondisi penjualan eceran justru mulai berbalik arah. Pada Juni 2026, penjualan eceran tumbuh 0,7% secara bulanan (month to month/mtm), berbalik dari kontraksi 1,5% mtm pada Mei 2026.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh Kelompok Barang Lainnya yang tumbuh 6,9% mtm. Kemudian, Kelompok Suku Cadang dan Aksesori meningkat 3,7% mtm dan Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya tumbuh 2,8% mtm. Ketiganya membalikkan kinerja pada bulan sebelumnya yang masing-masing terkontraksi 9,2%, 4,7%, dan 0,7%.

Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor juga mencatat pertumbuhan 3,5% mtm, sementara Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh tipis 0,1% mtm.

BI menyebut perbaikan tersebut tidak terlepas dari terjaganya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Memasuki Juli 2026, BI melihat sinyal yang lebih positif. IPR Juli 2026 diprakirakan tumbuh 0,9% yoy dengan indeks 224,4. Pertumbuhan terutama diperkirakan berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang tumbuh 1,6% yoy, disusul Kelompok Suku Cadang dan Aksesori sebesar 10,8% yoy serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya sebesar 2,5% yoy.

Namun, secara bulanan penjualan eceran Juli masih diproyeksikan terkontraksi 0,3% mtm. Meski demikian, kontraksi tersebut jauh lebih ringan dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 4,1% mtm.

Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya diperkirakan tumbuh 9,5% mtm, sedangkan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi diproyeksikan meningkat 5,3% mtm. BI menilai masuknya periode sekolah pada Juli 2026 menjadi salah satu faktor yang menopang konsumsi.

Sementara itu, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau diperkirakan masih terkontraksi 0,9% mtm. Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi juga diproyeksikan turun 1,8% mtm sehingga masih menahan laju pemulihan penjualan eceran secara keseluruhan.

Dari sisi wilayah, geliat konsumsi terlihat lebih kuat di sejumlah kota. Pada Juni 2026, Manado mencatat pertumbuhan penjualan eceran tertinggi secara tahunan sebesar 17,2% yoy. Selanjutnya, Semarang tumbuh 9,7% yoy dan Medan meningkat 6,6% yoy.

Secara bulanan, Medan dan Surabaya menjadi kota dengan perbaikan yang cukup signifikan. Penjualan eceran di Medan tumbuh 2,0% mtm setelah pada periode sebelumnya terkontraksi 0,8% mtm. Sementara Surabaya tumbuh 1,7% mtm, berbalik dari kontraksi 5,0% mtm pada Mei 2026.

Untuk Juli, BI memperkirakan pertumbuhan penjualan eceran secara tahunan terjadi di mayoritas kota cakupan survei. Manado diproyeksikan kembali mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 24,7% yoy, diikuti Medan 15,6%, Bandung 9,8%, dan Denpasar 7,6%.

Secara bulanan, Manado diperkirakan tumbuh 6,1% mtm, Surabaya 4,2%, dan Makassar 3,7%. Namun, tekanan konsumsi belum sepenuhnya mereda. Bandung diperkirakan terkontraksi 10,0% mtm, Jakarta 1,2% mtm, dan Banjarmasin 0,9% mtm.

Prospek konsumsi juga belum sepenuhnya solid hingga akhir tahun. Responden SPE memperkirakan penjualan eceran pada September 2026 akan melemah. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) September yang turun menjadi 148,3 dari sebelumnya 159,8.

BI menyebut pelemahan ekspektasi tersebut dipengaruhi oleh normalisasi aktivitas setelah rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, konsumsi diperkirakan kembali menguat menjelang akhir tahun. IEP Desember 2026 tercatat 171,6, naik dari 153,8 pada November 2026. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal.

Dari sisi harga, pelaku usaha memperkirakan tekanan inflasi akan menurun pada September 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September tercatat 155,2, turun cukup tajam dibandingkan IEH Agustus sebesar 178,0.

Namun, tekanan harga diperkirakan kembali meningkat pada Desember. IEH Desember 2026 diproyeksikan mencapai 168,1, sedikit lebih tinggi dibandingkan November yang sebesar 167,5.

Gambaran tersebut menunjukkan pemulihan konsumsi domestik mulai mendapatkan pijakan, tetapi belum merata. Kontraksi tahunan penjualan eceran pada Juni masih memperlihatkan bahwa daya beli belum sepenuhnya pulih, sementara perbaikan secara bulanan dan prospek pertumbuhan pada Juli memberikan sinyal bahwa konsumsi mulai menemukan momentum.

Bagi perekonomian Indonesia, perkembangan penjualan eceran menjadi indikator penting untuk membaca kekuatan konsumsi rumah tangga. Jika tren perbaikan berlanjut hingga paruh kedua 2026, konsumsi domestik berpeluang kembali menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi, meski tekanan pada sejumlah kelompok barang dan ekspektasi penjualan pada September masih menjadi perhatian.