INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Ancaman serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi risiko serius bagi industri Indonesia. Perusahaan manufaktur hingga organisasi yang mengelola infrastruktur penting menghadapi ancaman yang bergerak semakin cepat, sementara kemampuan mendeteksi dan merespons serangan masih tertinggal.

Kaspersky memperingatkan bahwa perkembangan AI telah mengubah lanskap serangan siber di Asia Pasifik (APAC). Penyerang kini tidak hanya menggunakan AI untuk mempercepat serangan, tetapi juga menyasar lingkungan teknologi informasi (TI) dan teknologi operasional (OT) yang terhubung dengan aktivitas fisik perusahaan.

Kondisi ini membuat sektor manufaktur menjadi salah satu bidang yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Serangan terhadap sistem industri tidak lagi berhenti pada pencurian data. Ketika sistem produksi, logistik, hingga infrastruktur operasional ikut terhubung, satu celah keamanan dapat berujung pada gangguan aktivitas bisnis dan produksi.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, mengatakan kecepatan penyerang yang memanfaatkan AI kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi organisasi.

“Seiring kecepatan dan konektivitas membentuk kembali lanskap perusahaan dan organisasi modern di kawasan ini, yang terutama didorong oleh AI dan aplikasinya, tim keamanan menghadapi titik buta yang semakin besar di seluruh lingkungan TI dan OT. Akibatnya, keamanan siber saat ini bukan lagi hanya perlombaan melawan waktu. Ini adalah perlombaan melawan ketidakjelasan,” kata Hia.

Kaspersky mencatat telah mendeteksi dan memblokir sekitar setengah juta file berbahaya unik setiap hari pada tahun lalu. Jumlah tersebut meningkat 7% dibandingkan 2024, menunjukkan bahwa volume ancaman digital terus menanjak seiring semakin luasnya permukaan serangan.

Di kawasan APAC, ancaman tersebut mulai menunjukkan dampak langsung terhadap kegiatan operasional. Kaspersky menyoroti serangan terhadap Nichirei Corp yang mengganggu jaringan logistik perusahaan. Sementara itu, manufaktur India juga menjadi salah satu sasaran ransomware industri yang secara konsisten berupaya melumpuhkan aktivitas pabrik dan layanan TI industri.

Situasi ini menjadi peringatan bagi industri Indonesia. Semakin banyak mesin, sistem produksi, rantai pasok, dan infrastruktur industri yang terkoneksi secara digital, semakin besar pula konsekuensi ketika sistem tersebut berhasil ditembus.

Ancaman bahkan semakin kompleks dengan munculnya agen AI. Teknologi yang seharusnya membantu produktivitas perusahaan justru membuka lapisan baru dalam rantai pasok digital ketika organisasi tidak mampu mengendalikan ketergantungan terhadap perangkat lunak, API, plugin, dan kerangka kerja pihak ketiga.

“Agen AI memperkenalkan lapisan rantai pasokan baru—tahun ini saja, Kaspersky telah mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agen,” ujar Hia.

Menurut dia, ketergantungan terhadap komponen pihak ketiga membuat satu kompromi pada rantai pasok bagian hulu berpotensi menyebar ke sistem hilir. Dampaknya, permukaan serangan untuk sabotase maupun spionase siber menjadi semakin luas.

“Karena ancaman menjadi asli AI dan pertahanan didukung AI, organisasi di kawasan ini harus melihat lebih dari sekadar cara bagaimana menghentikan serangan tetapi juga harus proaktif mengevaluasi apakah mereka benar-benar memiliki visibilitas mendalam terhadap sistem dan ekosistem bisnis mereka,” tambah Hia.

Masalahnya, banyak perusahaan sebenarnya telah menggelontorkan investasi untuk teknologi keamanan siber. Namun, investasi tersebut belum tentu membuat perusahaan mampu mengetahui apakah telah terjadi kompromi di dalam sistem.

Data terbaru Kaspersky Compromise Assessment menunjukkan 31% insiden yang dianalisis memiliki aktivitas berbahaya yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Lebih mengkhawatirkan, 52% pelanggaran dengan tingkat keparahan tinggi baru ditemukan setelah lebih dari 90 hari tidak terdeteksi.

Bahkan, insiden tertua yang ditemukan sepanjang tahun lalu telah berlangsung selama empat tahun tanpa terdeteksi.

Bagi industri manufaktur, keterlambatan tersebut bisa menjadi persoalan serius. Semakin lama penyerang berada di dalam sistem, semakin besar peluang mereka bergerak secara lateral, meningkatkan hak akses dan menyasar aset-aset kritis yang menopang kegiatan operasional.

“Laporan terbaru kami menyoroti mengapa SOC modern dan terpadu menjadi sangat penting bagi bisnis. Ketika organisasi mengandalkan praktik keamanan reaktif atau kurangnya pemantauan berkelanjutan, penyerang mendapatkan waktu berharga untuk bergerak secara lateral, meningkatkan hak akses, dan membahayakan aset penting,” kata Hia.

Karena itu, Kaspersky mendorong perusahaan memperkuat Security Operations Center (SOC) yang mampu menggabungkan kecerdasan buatan dengan keahlian manusia. SOC dinilai penting untuk mempersempit waktu antara masuknya serangan, deteksi, investigasi dan respons.

Di tengah serangan yang semakin banyak memanfaatkan AI, Kaspersky sendiri menyatakan telah mengembangkan teknologi machine learning sejak 2004. Model tersebut dilatih menggunakan telemetri global anonim yang dikumpulkan dari jutaan titik akhir.

“AI bukanlah tambahan di Kaspersky. Selama 20 tahun terakhir, AI telah tertanam di seluruh lapisan teknologi kami, memungkinkan deteksi lebih cepat, otomatisasi lebih cerdas, dan perlindungan yang lebih konsisten,” jelas Hia.

Kaspersky menilai kolaborasi AI dan manusia akan menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman siber generasi baru. Teknologi dapat mempercepat deteksi dan mengolah volume data yang besar, sementara keahlian manusia tetap diperlukan untuk mengambil keputusan dan merespons ancaman berdasarkan konteks bisnis.

Untuk perusahaan dengan infrastruktur TI kompleks, Kaspersky menawarkan lini KasperskyNext yang mencakup perlindungan waktu nyata, visibilitas ancaman serta kemampuan deteksi dan respons EDR/XDR. Kaspersky juga menyediakan layanan Compromise Assessment, MDR, Incident Response dan SOC Consulting untuk membantu perusahaan membangun kemampuan keamanan yang lebih menyeluruh.

Bagi industri Indonesia, ancaman ini datang ketika transformasi digital dan konektivitas manufaktur terus berkembang. Ketika mesin produksi, sistem logistik, rantai pasok dan layanan perusahaan semakin bergantung pada sistem digital, serangan siber berbasis AI berpotensi berubah dari sekadar masalah teknologi menjadi risiko langsung terhadap kelangsungan bisnis.

Dengan kata lain, ancaman terbesar bagi industri bukan hanya ketika serangan terjadi. Risiko yang lebih mahal adalah ketika serangan sudah berada di dalam sistem, tetapi perusahaan tidak menyadarinya.