INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Perusahaan keamanan siber global, Fortinet, mengumumkan akuisisi terhadap Virtue AI, perusahaan yang mengembangkan teknologi perlindungan runtime AI, validasi AI otomatis, dan keamanan untuk sistem kecerdasan buatan (AI) otonom. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat strategi Security for AI Fortinet di tengah meningkatnya adopsi aplikasi AI dan autonomous agents oleh perusahaan.
Akuisisi tersebut juga melengkapi portofolio keamanan AI yang telah dimiliki Fortinet, termasuk FortiGate Hyperscale Firewall dan FortiAIGate, yang dirancang untuk melindungi lingkungan enterprise berbasis agentic AI.
Fortinet menilai perkembangan penggunaan AI di perusahaan telah memperluas permukaan serangan siber yang sebelumnya hanya mencakup jaringan, pengguna, endpoint, aplikasi, dan beban kerja cloud. Kini, risiko juga muncul dari prompt AI, model, agent, tools berbasis Model Context Protocol (MCP), panggilan API, hingga infrastruktur AI.
Sebelumnya, Fortinet telah meluncurkan FortiAIGate untuk melindungi large language models (LLM) dari ancaman seperti prompt injection, kebocoran data, model poisoning, konsumsi sumber daya berlebihan, dan berbagai risiko AI lainnya. Dengan bergabungnya Virtue AI, cakupan perlindungan diperluas hingga mencakup model AI, aplikasi, dan sistem agentic AI sejak tahap pengembangan hingga operasional.
Teknologi Virtue AI menghadirkan sejumlah kemampuan, antara lain pengujian keamanan (red-teaming) terhadap sistem AI otonom di lebih dari 50 lingkungan sandbox dan 14 domain berisiko tinggi, termasuk simulasi serangan prompt injection dan serangan berbasis MCP. Selain itu, platform ini memberikan visibilitas terhadap agent dan tools AI yang berjalan di lingkungan organisasi, mendeteksi aplikasi AI yang tidak disetujui, memindai kode sumber dan tools MCP untuk menemukan risiko tersembunyi, serta memblokir panggilan tool berbahaya sebelum dijalankan.
Virtue AI juga menawarkan validasi AI berkelanjutan melalui pengujian otomatis terhadap ratusan vektor serangan dan lebih dari 1.000 kategori risiko, serta menyediakan bukti audit untuk mendukung kepatuhan dan tata kelola keamanan. Di sisi lain, fitur guardrail real-time memungkinkan perusahaan menerapkan kebijakan keamanan terhadap teks, gambar, video, audio, dan kode yang dihasilkan AI guna mencegah penyebaran konten berbahaya, kebocoran data sensitif, hingga kode yang rentan.
Founder, Chairman of the Board, dan Chief Executive Officer Fortinet Ken Xie mengatakan transformasi AI di lingkungan enterprise menuntut pendekatan keamanan yang berkembang dengan kecepatan yang sama.
“AI pada dasarnya sedang mengubah komputasi enterprise, dan keamanan harus berkembang dengan kecepatan yang sama. Teknologi Virtue AI akan memajukan visi kami mengenai continuous AI assurance, membantu pelanggan mengatur dan melindungi sistem AI di sepanjang siklus hidupnya sekaligus mengoperasikannya dengan percaya diri dalam skala enterprise,” ujar Ken Xie.
Fortinet menilai prospek pasar keamanan AI akan terus berkembang pesat. Mengutip Gartner, pasar solusi keamanan untuk ekosistem AI dan AI agents diperkirakan meningkat dari US$2,8 miliar pada 2026 menjadi US$16,4 miliar pada 2030.
Perusahaan meyakini proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri untuk mengamankan penggunaan AI yang semakin luas. Dengan integrasi teknologi Virtue AI ke dalam AI-Native Security Fabric milik Fortinet, pelanggan diharapkan memperoleh perlindungan yang lebih menyeluruh mulai dari jaringan, endpoint, cloud, aplikasi, hingga implementasi AI.
Fortinet menyatakan kombinasi antara kemampuan validasi otomatis dan perlindungan real-time dari Virtue AI dengan threat intelligence FortiGuard Labs akan membantu organisasi mengamankan sistem AI sepanjang siklus hidupnya. Meski demikian, perusahaan tidak mengungkapkan nilai transaksi akuisisi tersebut dan menyebut nilainya tidak material terhadap bisnis Fortinet secara keseluruhan.