INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) semakin agresif memperkuat bisnis perbankan melalui strategi hybrid banking. Integrasi layanan digital dan jaringan fisik tak hanya memperluas akses nasabah, tetapi juga mendorong lonjakan aktivitas transaksi sekaligus menopang ekspansi kredit perseroan.

Dalam tiga tahun terakhir, integrasi kanal digital dan fisik BCA telah mendorong volume transaksi nasabah tumbuh hingga 60%. Hingga Juni 2026, jumlah rekening yang dilayani BCA mencapai 42 juta rekening.

Ekosistem tersebut ditopang oleh layanan digital seperti myBCA dan BCA mobile, serta jaringan fisik yang mencakup 1.272 kantor cabang dan lebih dari 20.000 mesin ATM/CRM (Cash Recycling Machines) di seluruh Indonesia.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan perseroan akan terus memperkuat inovasi layanan untuk mengikuti perubahan kebutuhan nasabah.

"BCA akan terus berinovasi untuk memberikan pelayanan berkualitas bagi segenap nasabah,” ujar Hendra Lembong pada Jumat (4/9/2026).

Di sisi bisnis, strategi tersebut berjalan beriringan dengan ekspansi penyaluran kredit. Per Juni 2026, kredit BCA tumbuh 8% secara tahunan menjadi Rp1.036 triliun. Capaian ini sekaligus menandai pertama kalinya penyaluran kredit BCA menembus level Rp1.000 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut ditopang kemampuan perseroan menjaga basis pendanaan, terutama dari dana murah. Giro dan tabungan atau CASA tumbuh 10,2% secara tahunan menjadi Rp1.082 triliun.

Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) BCA mencapai Rp1.284 triliun, naik 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan CASA yang lebih tinggi dibandingkan total DPK menunjukkan kuatnya kemampuan BCA menghimpun dana murah untuk mendukung ekspansi kredit.

Dengan posisi tersebut, BCA memiliki fondasi pendanaan yang relatif solid untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah persaingan industri perbankan dalam menghimpun dana nasabah. Kenaikan kredit ke atas Rp1.000 triliun juga mempertegas besarnya skala bisnis pembiayaan perseroan.

Namun, ekspansi digital dan peningkatan volume transaksi juga membuat aspek keamanan data semakin krusial. Karena itu, BCA memperkuat layanan melalui integrated contact center Halo BCA sekaligus meningkatkan standar perlindungan data nasabah.

Komitmen tersebut diperkuat dengan perolehan dua sertifikasi internasional, yakni ISO Privasi Data (ISO 27701:2019) dan ISO Manajemen Kecerdasan Buatan (ISO 42001:2023).

BCA menjadi bank pertama di Asia Tenggara yang memperoleh sertifikasi ISO Manajemen Kecerdasan Buatan. Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memastikan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, berjalan dengan tata kelola dan standar keamanan yang memadai.

Dengan pertumbuhan kredit yang telah menembus Rp1.000 triliun, CASA lebih dari Rp1.000 triliun, serta volume transaksi yang meningkat hingga 60% dalam tiga tahun, BCA kini tidak sekadar memperluas layanan digital. Perseroan juga berupaya mempertahankan keunggulan melalui kombinasi skala bisnis, kekuatan dana murah, jaringan fisik, dan keamanan teknologi.