INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga emas kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (7/9/2026). Harga emas dibuka di level US$4.430 per troy ons, melanjutkan koreksi setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan pasar tenaga kerja masih lebih kuat dari perkiraan.

Tekanan terhadap emas menguat setelah laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus menunjukkan ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan. Angka tersebut jauh melampaui konsensus pasar yang berada di kisaran 55.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran AS bertahan di 4,1%.

Data tersebut menjadi sinyal bahwa ketahanan ekonomi AS masih cukup kuat. Alhasil, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed kembali bergeser menjelang pertemuan 15–16 September mendatang.

Sebelumnya, pasar sempat mendapatkan angin segar dari komentar dovish Gubernur The Fed Christopher Waller yang mendorong penguatan harga emas. Namun, sentimen tersebut berbalik setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih resilien.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed turut menopang dolar AS dan yield Treasury. Bagi emas, kondisi tersebut menjadi tekanan ganda karena kenaikan imbal hasil aset berbasis dolar membuat biaya peluang memegang emas semakin tinggi. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika yield obligasi meningkat.

Pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi AS yang akan menjadi katalis penting bagi pergerakan emas sepanjang pekan ini. Data Producer Price Index (PPI) akan dirilis pada Kamis (10/9), kemudian disusul Consumer Price Index (CPI) pada Jumat (11/9).

Konsensus pasar memperkirakan inflasi headline AS pada Agustus mencapai 3,4% secara tahunan atau year on year (YoY), dengan kenaikan sekitar 0,4% secara bulanan atau month on month (MoM). Sementara inflasi inti atau core CPI diproyeksikan berada di sekitar 2,4% YoY dan 0,2% MoM.

Pergerakan inflasi tersebut akan menjadi penentu penting bagi ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ruang bagi The Fed untuk mengambil kebijakan yang lebih longgar dapat semakin terbatas. Kondisi itu berpotensi kembali mengangkat dolar AS dan yield Treasury sekaligus memperpanjang tekanan terhadap emas.

Di luar faktor moneter AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga patut dicermati. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi AS dan global. Jika risiko tersebut terealisasi, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Dari sisi teknikal, harga emas saat ini menghadapi sejumlah level penting. Support terdekat berada pada kisaran US$4.367 hingga US$4.303 per troy ons. Jika tekanan jual semakin kuat dan area tersebut ditembus, harga emas berpeluang menguji support lebih dalam di sekitar US$4.178 per troy ons.

Sebaliknya, ruang pemulihan harga emas akan menghadapi resistance pada kisaran US$4.492 hingga US$4.553 per troy ons. Sementara untuk jangka menengah, resistance berada di area US$4.678 per troy ons.

Dengan demikian, arah emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi data inflasi AS, pergerakan dolar dan yield Treasury, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed pada pertengahan September.