INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Harga minyak kembali bergerak menguat pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Penguatan harga minyak dipicu oleh meningkatnya kembali risiko geopolitik, setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang serta membuka kembali Selat Hormuz menunjukkan tanda-tanda kebuntuan.

Selain ketidakpastian hubungan AS-Iran, pasar minyak juga dibayangi potensi gangguan pasokan dari Libya serta ancaman keamanan yang masih berlangsung di kawasan Laut Merah. Kombinasi faktor tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak global.

Presiden AS Donald Trump pada Senin (10/8) menyatakan akan menuntut kompensasi dari Iran atas korban jiwa dan luka-luka dalam perang melawan Teheran. Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap tuntutan Iran yang sebelumnya meminta AS membayar ganti rugi atas kerusakan akibat konflik selama lima bulan sebagai salah satu syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sikap saling tuntut kompensasi tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran dan memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz kembali menemui jalan buntu. Bagi pasar minyak, kondisi ini menjadi katalis positif karena memperbesar risiko gangguan terhadap salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Risiko pasokan juga datang dari Libya. National Oil Corporation (NOC) pada Selasa dini hari melaporkan adanya serangan drone terbaru yang menghantam fasilitas minyak di Zawiya, Libya bagian barat. Insiden tersebut menjadi serangan ketiga yang terjadi sejak Minggu.

NOC bahkan memperingatkan bahwa jika serangan berlanjut, perusahaan berpotensi menyatakan status force majeure dan menghentikan seluruh operasi di kilang Zawiya. Kilang tersebut memiliki kapasitas yang berkaitan dengan sekitar 4,5 juta liter bensin, sehingga penghentian operasi berpotensi semakin menekan sisi pasokan energi regional.

Tekanan geopolitik juga masih berasal dari Laut Merah. Militer Yaman melaporkan tujuh orang, termasuk personel militer dan warga sipil, tewas serta 30 lainnya terluka dalam serangan terbaru Houthi yang menyasar kota pelabuhan Mocha, infrastruktur sipil, dan angkatan bersenjata.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyampaikan laporan tersebut pada Senin. Eskalasi ini menjadi sinyal bahwa risiko keamanan di jalur Laut Merah belum sepenuhnya mereda dan masih berpotensi mengganggu arus perdagangan energi global.

Meski demikian, penguatan harga minyak berhadapan dengan sentimen bearish dari sisi pasokan OPEC. Produksi minyak OPEC kembali meningkat pada Juli 2026. Berdasarkan survei Reuters, produksi OPEC melonjak 1,17 juta barel per hari menjadi 19,85 juta barel per hari.

Irak mencatat kenaikan produksi terbesar, disusul Kuwait. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk mulai memulihkan pasokan yang sebelumnya sempat terganggu akibat konflik Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz.

Kenaikan produksi OPEC menjadi penahan bagi reli harga minyak yang dipicu sentimen geopolitik. Pasar kini harus menimbang dua kekuatan yang berlawanan, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik dan pemulihan produksi dari negara-negara produsen.

Dari sisi teknikal, ruang penguatan harga minyak masih terbuka, tetapi pasar menghadapi resistance penting di sekitar US$85 per barel. Jika mampu menembus level tersebut, momentum bullish berpotensi semakin kuat.

Sebaliknya, apabila katalis negatif kembali mendominasi pasar, harga minyak berpotensi terkoreksi menuju support terdekat di US$80 per barel.

Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta kemampuan produsen di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menjaga kelancaran pasokan. Pasar kini tidak hanya memperhitungkan fundamental permintaan dan produksi, tetapi juga memasukkan kembali premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.