INDUSTRY.co.idBogor – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pendidikan vokasi sebagai langkah strategis untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, siap kerja, dan mampu bersaing di tingkat global. Hasilnya, mayoritas lulusan sekolah vokasi di bawah pembinaan Kemenperin telah langsung terserap di dunia industri.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Doddy Rahadi mengungkapkan, hingga Juli 2026 sebanyak 1.483 lulusan atau 63,70 persen dari total 2.369 lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI telah diterima bekerja di berbagai perusahaan manufaktur nasional.

"Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kementerian Perindustrian sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," ujar Doddy pada kegiatan Pelepasan Lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI serta Studium Generale Serentak Tahun 2026 di SMK-SMAK Bogor, Kamis (16/7).

Menurut Doddy, lulusan yang belum memperoleh pekerjaan tidak akan dilepas begitu saja. BPSDMI bersama sekolah akan memberikan pendampingan selama tiga bulan melalui asistensi pencarian kerja.

Apabila dalam enam bulan lulusan belum terserap di dunia industri, Kemenperin akan memberikan program peningkatan kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan, termasuk fasilitasi magang untuk mempercepat penempatan kerja.

Lulusan sekolah vokasi Kemenperin telah bekerja di berbagai perusahaan nasional, antara lain PT Mayora Indah Tbk, PT Panasonic Gobel Energy Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Sucofindo, PT LAPI Laboratories, PT Alamanda Global Health, serta sejumlah perusahaan manufaktur lainnya.

Tingginya tingkat penyerapan lulusan dinilai menjadi indikator bahwa kurikulum pendidikan vokasi yang disusun Kemenperin telah selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Selain memiliki tingkat penyerapan kerja yang tinggi, sekolah vokasi Kemenperin juga semakin diminati masyarakat.

Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1 banding 12,2, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 1 banding 10,7. Artinya, setiap satu kursi di SMK Kemenperin diperebutkan oleh sekitar 12 calon peserta didik.

Doddy menilai tingginya minat masyarakat menjadi dorongan bagi BPSDMI untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan vokasi.

Ke depan, Kemenperin akan memperkuat pembinaan dan evaluasi terhadap SMK-SMAK dan SMK-SMTI guna menjaga mutu pendidikan, meningkatkan tata kelola sekolah, serta memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri nasional maupun global.