INDUSTRY.co.id - Jakarta, Permintaan terhadap prosedur estetika medis yang menghasilkan tampilan natural, minim invasif, serta memiliki waktu pemulihan relatif singkat terus meningkat.
Seiring bertambahnya populasi lanjut usia di Indonesia, kebutuhan terhadap perawatan yang tidak hanya berfokus pada penampilan, tetapi juga kualitas kulit, keamanan tindakan, dan kompetensi tenaga medis semakin mendapat perhatian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia telah memasuki kelompok lansia.
Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 20 persen pada 2045, sehingga kebutuhan terhadap layanan peremajaan wajah berbasis pendekatan ilmiah diperkirakan akan terus bertambah.
Menjawab perkembangan tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama CGBIO kembali menggelar Korean Faculty Training Series melalui sesi edukasi klinis di The Clinic Beautylosophy, Cipete, Jakarta Selatan, pada 11 Juli 2026.
Kegiatan ini diikuti dokter estetika medis dari berbagai klinik di Indonesia dengan fokus pembahasan mengenai kombinasi HA filler dan CaHA collagen stimulator melalui produk DCLASSY.
Dalam literatur medis Indonesia, dermal filler dikenal sebagai salah satu terapi modern untuk peremajaan wajah yang banyak diterapkan di bidang dermatologi karena bersifat minim invasif.
Berbagai jenis filler memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi durasi kerja, indikasi, profil keamanan, maupun teknik aplikasinya.
Sementara itu, publikasi Cermin Dunia Kedokteran tahun 2025 menyebutkan bahwa collagen stimulator berbasis calcium hydroxylapatite (CaHA) semakin banyak dimanfaatkan dalam praktik estetika karena mampu merangsang pembentukan kolagen alami sehingga mendukung hasil yang tampak lebih natural dan bertahan lebih lama.
Pada sesi pelatihan tersebut, Director of View Plastic Surgery Clinic, Korea Selatan, dr. Lee Seung Hyun, memaparkan pendekatan klinis dalam mengombinasikan HA filler dan CaHA collagen stimulator sebagai bagian dari satu rencana perawatan.
Menurutnya, proses penuaan wajah tidak hanya ditandai berkurangnya volume, tetapi juga melibatkan perubahan kualitas kulit dan jaringan penyangga sehingga memerlukan evaluasi yang menyeluruh.
“Penuaan wajah tidak hanya terlihat sebagai hilangnya volume, tetapi juga berkaitan dengan penurunan elastisitas, perubahan kualitas kulit, dan melemahnya dukungan jaringan. Karena itu, dokter perlu melihat wajah secara menyeluruh sebelum menentukan strategi perawatan. HA filler dan CaHA collagen stimulator dapat digunakan untuk tujuan yang saling melengkapi, selama indikasi dan teknik aplikasinya ditentukan dengan tepat,” ujar dr. Lee.
Pendekatan yang diterapkan melalui DCLASSY mengombinasikan dua mekanisme kerja berbeda.
HA filler memberikan koreksi volume dan pembentukan kontur yang dapat terlihat lebih cepat, sedangkan CaHA collagen stimulator bekerja secara bertahap dengan merangsang pembentukan kolagen sehingga membantu meningkatkan kekencangan kulit serta kualitas jaringan dalam jangka panjang.
Strategi tersebut dinilai sesuai bagi pasien yang menginginkan hasil lebih komprehensif, tidak hanya memperbaiki bentuk wajah secara instan, tetapi juga mendukung perbaikan kualitas kulit secara berkelanjutan.
Dalam berbagai publikasi ilmiah internasional, kombinasi HA dan CaHA juga semakin banyak dibahas sebagai pendekatan yang mampu mendukung struktur jaringan, membantu reposisi jaringan lunak, sekaligus memperbaiki kualitas kulit dari waktu ke waktu.
Karena itu, pemahaman dokter mengenai karakteristik material, teknik injeksi, dosis, hingga pemilihan area tindakan menjadi aspek penting dalam praktik klinis.
Selain membahas filler berbasis hyaluronic acid, Korean Faculty Training Series juga menjadi forum pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan estetika medis terkini dari Korea Selatan.
Salah satu materi disampaikan oleh dokter estetika asal Korea Selatan, dr. Chang Doo Yeol, yang menilai tren estetika global kini mengarah pada hasil yang lebih natural dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
Dokter Chang menjelaskan, "untuk hasil yang optimal dari tindakan penggunaan botulinum toxin, tentu dipengaruhi oleh kualitas produk, keahlian dokter, serta penyuntikan yang presisi, karena setiap pasien memiliki karakteristik wajah yang unik, penilaian yang komprehensif serta perencanaan perawatan yang dipersonalisasi sangat penting untuk mencapai hasil yang aman, alami, dan sesuai dengan kebutuhan masing- masing individu".
Ia juga memperkenalkan metode perawatan Naboglow yang menggunakan cairan injeksi botulinum toxin.
"Treatment Naboglow yang menarik perhatian banyak orang, salah satu metode perawatan estetika menggunakan cairan injeksi botulinum toxin. Naboglow yang dapat mengubah bentuk wajah, mengecilkan pori-pori, mengurangi produksi minyak di wajah, kulit menjadi lebih halus, serta meningkatkan pancaran kulit secara keseluruhan, juga tetap mempertahankan gerakan wajah yang alami," tambahnya.
Menurut dr. Chang, tidak terdapat batasan usia mutlak dalam penggunaan Naboglow karena seluruh tindakan tetap mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien, termasuk anatomi wajah, kualitas kulit, serta tanda-tanda penuaan yang dimiliki.
Dalam kesempatan yang sama, ia turut memperkenalkan DOOTH, produk thread lift terbaru asal Korea Selatan.
" DOOTH memiliki desain yang unik, yaitu berbentuk huruf "T". Menurut saya, penggunaan DOOTH ini mampu memberikan efek pengencangan yang lebih kuat dan lebih tahan lama. Itulah perbedaan terbesar antara DOOTH dibandingkan tread lift yang sudah ada saat ini". Ujarnya.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Korean Faculty Training Series yang diselenggarakan Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama CGBIO di sejumlah klinik estetika di Jakarta pada 9–12 Juli 2026.
Melalui program edukasi berkelanjutan ini, kedua perusahaan berupaya memperluas akses dokter estetika Indonesia terhadap pembelajaran klinis berstandar global secara langsung di dalam negeri.
Dengan demikian, diharapkan kualitas layanan estetika medis serta aspek keamanan pasien dapat terus meningkat tanpa harus bergantung pada pelatihan di luar negeri.