Highlights

  • Indonesia peringkat ketiga di Asia Tenggara untuk minat hybrid dan EV (42%)
  • Preferensi kendaraan ICE turun 7% — penurunan terbesar di Asia Tenggara
  • 41% konsumen Indonesia telah ganti merek mobil (switching rate tertinggi di SEA)
  • 90% responden menilai biaya pengisian daya sebagai faktor krusial
  • 81% tertarik pada software-defined vehicle — tertinggi di Asia Tenggara

Minat konsumen Indonesia terhadap kendaraan energi baru (NEV) terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan studi terbaru Deloitte 2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives, ketertarikan terhadap kendaraan hybrid dan listrik di Indonesia telah mencapai 42 persen, menempatkan Tanah Air di posisi ketiga regional, tepat di bawah Thailand dan Singapura.

Studi yang mensurvei lebih dari 1.000 responden di Indonesia dari total 6.013 konsumen di enam negara Asia Tenggara ini mengungkap dinamika menarik: pasar otomotif Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan dari kendaraan konvensional ke era elektrifikasi.

Preferensi Kendaraan ICE Turun Tajam

Meskipun mayoritas pengendara Indonesia masih memilih kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) sebesar 55 persen, angka ini terus menyusut. Indonesia mencatat penurunan preferensi ICE sebesar 7 poin persentase dibandingkan laporan tahun sebelumnya — penurunan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Menariknya, tren ini berlawanan dengan empat dari enam pasar yang disurvei. Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam justru mencatat peningkatan preferensi terhadap kendaraan ICE pada periode yang sama.

90% Konsumen Sangat Peduli Biaya Pengisian Daya

Tantangan utama dalam percepatan adopsi EV di Indonesia adalah keterjangkauan dan infrastruktur. Sebanyak 90 persen responden menyatakan bahwa biaya pengisian daya merupakan pertimbangan penting — angka tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Motivasi utama yang mendorong adopsi NEV meliputi:

  • Biaya bahan bakar lebih rendah (53%)
  • Kecepatan pengisian daya (50%)
  • Pengalaman berkendara (48%)
  • Ketersediaan stasiun pengisian daya (47%)

Meskipun 61 persen calon pembeli NEV berharap mengisi daya di rumah, hanya 54 persen yang memiliki akses ke pengisian daya residensial, dan 34 persen sama sekali tidak memiliki akses pengisian daya di rumah.

Loyalitas Merek di Bawah Tekanan

Salah satu temuan paling mencolok adalah tingginya angka perpindahan merek. Sebanyak 41 persen konsumen Indonesia telah beralih ke merek mobil yang berbeda — tingkat perpindahan merek aktual tertinggi di Asia Tenggara.

Lebih dari itu, 69 persen responden berniat beralih merek lagi pada pembelian berikutnya. Faktor yang mendorong keputusan pembelian meliputi kualitas produk (68%), performa kendaraan (66%), dan harga (54%).

Di sisi lain, media sosial dan ulasan influencer menjadi sumber informasi paling berpengaruh (62%) — tertinggi di regional, diikuti portal media daring (57%) dan kunjungan ke dealer resmi (55%).

Indonesia Paling Antusias dengan Kendaraan Digital

Konsumen otomotif Indonesia termasuk yang paling antusias mengadopsi teknologi kendaraan terhubung di Asia Tenggara:

  • 81% menilai software-defined vehicle (SDV) bermanfaat — tertinggi di SEA
  • 78% tertarik fitur personalisasi berbasis AI (suhu, kursi, pencahayaan otomatis)
  • 68% melihat kendaraan sebagai platform digital terintegrasi
  • 90% bersedia membayar fitur anti-pencurian (anti-theft tracking)
  • 85% membayar untuk layanan bantuan darurat
  • 81% membayar untuk laporan kondisi kendaraan

Insentif Pemerintah Jadi Kunci Percepatan

Pemerintah Indonesia tengah bergerak mengatasi hambatan keterjangkauan. Rencana penerapan insentif kendaraan listrik yang menyasar mobil dan sepeda motor listrik mulai Juni 2026 diharapkan mendorong pergeseran dari minat menjadi adopsi.

"Insentif saja tidak akan cukup untuk menutup celah tersebut. Para pengendara masih menanyakan hal-hal praktis mengenai tempat pengisian daya dan ketersediaan infrastrukturnya — dan pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan solusi tingkat ekosistem yang melampaui sekadar urusan harga," ujar Lee Seong Jin, Automotive Sector Leader, Deloitte Asia Tenggara.

"Perusahaan yang mampu menyelaraskan strategi, teknologi, dan kemitraan ekosistem — mulai dari kepemilikan, servis berkala, pengisian daya, hingga keterlibatan digital — akan berada di posisi terbaik untuk memenangkan pasar Indonesia," tambah Roy David Kiantiong, Consumer Industry Leader, Deloitte Indonesia.

FAQ

Seberapa besar minat konsumen Indonesia terhadap kendaraan listrik?

Berdasarkan studi Deloitte 2026, minat terhadap hybrid dan EV di Indonesia mencapai 42%, peringkat ketiga di Asia Tenggara setelah Thailand dan Singapura.

Mengapa banyak konsumen Indonesia ganti merek mobil?

Sebanyak 41% konsumen telah beralih merek. Faktor utamanya adalah kualitas produk (68%), performa (66%), dan harga (54%). Media sosial dan influencer juga sangat berpengaruh (62%).

Apa tantangan utama adopsi kendaraan listrik di Indonesia?

Biaya pengisian daya (90% responden), keterbatasan infrastruktur pengisian umum, dan rendahnya akses pengisian daya di rumah (34% tidak punya akses sama sekali).

Apa itu software-defined vehicle (SDV)?

SDV adalah kendaraan yang fitur dan fungsinya dapat ditingkatkan melalui perangkat lunak. Sebanyak 81% konsumen Indonesia menilai konsep ini bermanfaat — tertinggi di Asia Tenggara.

Kapan insentif kendaraan listrik di Indonesia mulai berlaku?

Pemerintah Indonesia berencana menerapkan insentif untuk mobil dan sepeda motor listrik mulai Juni 2026 untuk mendorong adopsi NEV.