INDUSTRY.co.id - Jakarta – Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) berharap tingkat kepercayaan dan loyalitas pelanggan terhadap layanan transportasi daring tetap terjaga di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax. Para mitra pengemudi menilai keberlanjutan jumlah pesanan menjadi faktor penting untuk menjaga pendapatan sehari-hari dan menopang ekonomi keluarga.

Advertisement

Saputra, pengemudi Gojek asal Depok, mengatakan kenaikan harga Pertamax memang belum berdampak langsung terhadap dirinya karena masih menggunakan Pertalite. Namun, ia khawatir kenaikan harga BBM non-subsidi akan memicu efek berantai pada sektor lain yang pada akhirnya mempengaruhi daya beli masyarakat dan jumlah pesanan.

“Bagi saya, jika dalam sehari jumlah order tidak mencapai sekitar 10 pesanan, kondisi tersebut sudah cukup berpengaruh terhadap pendapatan. Oleh sebab itu, keberlangsungan order menjadi faktor utama yang menentukan kemampuan mitra driver dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Saputra.

Advertisement

Menurutnya, pelanggan yang tetap setia menggunakan layanan transportasi online memiliki peran besar dalam menjaga kestabilan penghasilan para mitra. Ia menegaskan setiap pesanan yang masuk sangat berarti karena menjadi sumber pendapatan utama.

“Setiap pesanan yang masuk sangat berarti bagi mitra driver karena menjadi sumber penghasilan utama. Dengan adanya pelanggan yang terus menggunakan layanan secara rutin, pendapatan mitra dapat lebih terjaga meskipun kondisi ekonomi sedang menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.

Advertisement

Pengguna Honda Genio tersebut mengakui kenaikan harga Pertamax belum memberikan dampak langsung terhadap biaya operasionalnya. Namun, ia meyakini dampak tersebut akan terasa dalam jangka panjang. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menjaga ketersediaan Pertalite agar tidak terjadi kelangkaan seiring meningkatnya permintaan.

“Kepada pemerintah, saya berharap kondisi mitra driver dapat lebih diperhatikan, terutama dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan BBM karena kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap biaya operasional kami,” katanya.

Advertisement

Saputra juga berharap perusahaan aplikator dapat menghadirkan lebih banyak program insentif dan bonus bagi para mitra. “Harapannya semoga Pertalite tidak berubah harganya dan jangan sampai barangnya kosong,” katanya.

Senada dengan itu, pengemudi Gojek lainnya asal Depok, Nur Aziz, mengungkapkan bahwa menjaga tingkat pesanan tetap tinggi menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan ekonomi saat ini. Pria berusia 43 tahun tersebut mengaku mulai merasakan penurunan jumlah order setelah kenaikan harga BBM karena sebagian pelanggan mulai mencari alternatif lain.

“Dari sisi pendapatan, saya merasakan adanya sedikit penurunan jumlah order setelah kenaikan harga BBM. Beberapa pelanggan yang sebelumnya cukup loyal mulai mencari alternatif lain, sehingga frekuensi pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” kata Nur Aziz.

Ia menambahkan, selain biaya bahan bakar, pengeluaran untuk perawatan kendaraan juga semakin membebani. Harga oli yang sebelumnya sekitar Rp50.000 kini naik menjadi sekitar Rp75.000, sementara harga suku cadang lainnya serta kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan.

“Di sisi lain, harga kebutuhan pokok juga ikut meningkat sehingga semakin mempengaruhi kondisi ekonomi sehari-hari,” ujarnya.

Nur Aziz menilai loyalitas pelanggan menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlangsungan pendapatan para pengemudi. “Semakin banyak pelanggan yang tetap mempercayakan kebutuhannya kepada layanan transportasi online, semakin terjaga pula keberlangsungan penghasilan para mitra driver,” katanya.