INDUSTRY.co.id - Jakarta - Hubungan Indonesia dan Rusia memasuki babak baru. Memanfaatkan momentum keanggotaan Indonesia di BRICS, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai memperkuat kerja sama strategis dengan Rusia untuk mendorong investasi, perdagangan, hingga pengembangan teknologi industri masa depan.

Advertisement

Langkah ini mengemuka dalam pertemuan bilateral Indonesia-Rusia di sela-sela BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) Forum 2026 yang berlangsung di Xiamen, China. 

Pertemuan tersebut menjadi ajang penting bagi kedua negara untuk memperluas kolaborasi di berbagai sektor industri strategis.

Advertisement

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, forum BRICS PartNIR memiliki arti penting bagi Indonesia, terutama setelah resmi bergabung sebagai anggota BRICS.

"Forum BRICS tentang PartNIR sangat penting bagi kami. Kami sangat menghargai dukungan Pemerintah Rusia terhadap keanggotaan Indonesia di BRICS," ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Advertisement

Menurut Agus, keanggotaan Indonesia di BRICS membuka peluang besar untuk memperluas kerja sama ekonomi dan industri dengan negara-negara anggota, termasuk Rusia yang selama ini menjadi salah satu mitra strategis Indonesia.

Hubungan ekonomi kedua negara juga menunjukkan tren positif. Pada triwulan I-2026, nilai perdagangan bilateral nonmigas Indonesia-Rusia mencapai sekitar US$ 1 miliar, meningkat 1,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Advertisement

Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia sepanjang 2024 tercatat mencapai US$ 3,3 miliar, atau naik 13,38% secara tahunan.

Sejumlah produk unggulan Indonesia yang diminati pasar Rusia antara lain produk karet, kopi, kakao dan teh, alas kaki, komponen elektronik, hingga produk kimia.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy mengatakan, penguatan kemitraan internasional menjadi langkah penting untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing industri nasional.

"Sinergi Indonesia dan Rusia diharapkan mampu membuka peluang kerja sama konkret yang memberikan nilai tambah bagi pengembangan industri kedua negara," kata Tri.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga menegaskan partisipasinya sebagai Partner Country pada Pameran Industri Internasional INNOPROM 2026 yang akan digelar pada 6-9 Juli 2026 di Ekaterinburg, Rusia.

Ajang ini dinilai strategis untuk mempromosikan industri manufaktur Indonesia ke pasar Eurasia sekaligus menarik minat investor asing.

Selain itu, Indonesia menyambut positif perkembangan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditandatangani pada Desember 2025 di St. Petersburg. 

Kesepakatan perdagangan bebas ini diyakini dapat memperluas akses pasar dan meningkatkan arus investasi antara Indonesia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).

Tri optimistis penguatan hubungan Indonesia-Rusia melalui BRICS akan membawa dampak besar bagi industri nasional.

"Indonesia berharap dapat memperluas perannya sebagai bagian penting dalam rantai pasok industri dunia sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi dan basis produksi manufaktur global," ujarnya.