INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indonesia mulai memainkan peran yang semakin strategis dalam kerja sama industri negara-negara BRICS. 

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional melalui kolaborasi internasional yang lebih konkret di bidang inovasi teknologi, industri hijau, hingga penguatan rantai pasok.
 
Komitmen tersebut ditegaskan dalam 4th BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) Advisory Group Meeting yang berlangsung di New Delhi, India. 
 
Dalam forum tersebut, Indonesia berkontribusi dalam penyusunan Joint Declaration yang akan menjadi arah kerja sama industri BRICS di bidang transformasi manufaktur, inovasi, pengembangan kompetensi, dan ketahanan industri.
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, BRICS PartNIR menjadi platform penting bagi Indonesia untuk menyelaraskan strategi transformasi industri nasional dengan agenda pembangunan industri negara-negara BRICS.
 
“Indonesia memandang PartNIR sebagai platform penting untuk menyelaraskan strategi industri nasional dengan kapabilitas kolektif negara-negara BRICS. Dengan menyatukan kekuatan dan saling berbagi strategi terbaik, kita dapat menjawab tantangan bersama serta memastikan kemajuan teknologi yang memberikan manfaat yang setara bagi seluruh negara peserta,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
 
Menurut Agus, ketahanan industri saat ini tidak lagi ditentukan semata oleh kemampuan masing-masing negara, melainkan oleh kekuatan kolaborasi internasional dalam menghadapi disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan dinamika ekonomi global.
 
Dalam forum tersebut, Indonesia memaparkan tiga agenda utama transformasi industri nasional yang dinilai sejalan dengan prioritas BRICS PartNIR.
 
Pertama, penguatan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui program IKM 4.0 dan akselerasi startup agar semakin adaptif terhadap teknologi digital serta mampu bersaing di pasar global.
 
Kedua, percepatan transisi menuju industri hijau melalui penerapan dekarbonisasi industri, ekonomi sirkular, pemanfaatan energi terbarukan, dan teknologi digital.
 
Ketiga, penguatan sistem rantai pasok industri berbasis data melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) guna mendukung perdagangan lintas negara dan meningkatkan ketahanan industri nasional.
 
Menperin Agus menegaskan, Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian BRICS PartNIR, mulai dari pertemuan pertama hingga keempat, termasuk berbagai sesi intersessional yang membahas penyusunan Joint Declaration.
 
Peresmian deklarasi tersebut dilakukan pada agenda Industry Ministers Meeting di Jaipur, India, pada 6 Juli 2026.
 
Selain memaparkan berbagai inisiatif nasional, Indonesia juga melihat peluang besar dari platform kerja sama BRICS yang telah dibentuk.
 
Melalui BRICS Centre for Industrial Competencies (BCIC), Indonesia ingin memperkuat pengembangan kompetensi sumber daya manusia melalui pelatihan bersama dan pertukaran keahlian.
 
Sementara itu, BRICS PartNIR Innovation Center (BPIC) diharapkan menjadi wadah untuk mengembangkan kolaborasi menjadi proyek-proyek inovasi dan kemitraan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi negara-negara anggota.
 
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy mengatakan, partisipasi aktif Indonesia di BRICS PartNIR merupakan langkah penting untuk memperluas jejaring kerja sama industri sekaligus mempercepat transformasi sektor manufaktur nasional.
 
“Ke depan, Indonesia ingin meningkatkan keterlibatan yang selama ini telah terjalin menjadi kolaborasi yang lebih konkret, baik melalui pelatihan bersama, pertukaran keahlian, maupun kemitraan teknologi yang memberikan manfaat bagi seluruh negara anggota BRICS,” kata Tri.
 
Melalui keterlibatan aktif dalam BRICS PartNIR, Indonesia menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak berhenti pada pertukaran gagasan. 
 
Pemerintah menargetkan kolaborasi tersebut dapat diwujudkan dalam pengembangan kompetensi, inovasi teknologi, dan transformasi industri yang mampu meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia di tingkat global.