INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong industri otomotif nasional untuk terus memperkuat kinerja ekspor dengan memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan yang telah dimiliki Indonesia dengan negara-negara mitra.

Menurut Mendag Busan, keberadaan perjanjian dagang menjadi modal strategis bagi pelaku usaha untuk memperluas akses pasar sekaligus membuka peluang baru bagi produk Indonesia di pasar global.

Hal tersebut disampaikan Mendag Busan saat menerima perwakilan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa (11/8). 

Pertemuan tersebut membahas perkembangan ekspor otomotif nasional, peluang perluasan pasar, serta berbagai tantangan yang masih dihadapi industri dalam meningkatkan ekspor.

“Kami terus mendorong produk Indonesia untuk hadir di pasar global melalui berbagai kerja sama perdagangan yang telah dijalin dengan negara mitra. Perluasan akses pasar ini diharapkan dapat membuka peluang lebih besar untuk meningkatkan ekspor dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Mendag Busan usai pertemuan.

Ia menambahkan, kerja sama perdagangan dengan negara mitra juga menjadi instrumen penting untuk memperkuat penetrasi produk Indonesia di sejumlah tujuan ekspor utama. Salah satunya adalah kawasan Teluk.

Pemerintah, lanjutnya, masih terus mendorong penyelesaian kerja sama perdagangan dengan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC). Penyelesaian kerja sama tersebut ditargetkan dapat rampung pada tahun ini.

“Kami terus mendorong penyelesaian kerja sama perdagangan dengan GCC. Kami harapkan prosesnya dapat selesai paling lambat November ini sehingga akses pasar bagi produk Indonesia di kawasan Teluk dapat semakin diperkuat,” ujar Mendag Busan.

Dalam pertemuan tersebut, Mendag Busan didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi. Adapun delegasi TMMIN dipimpin Presiden Direktur PT TMMIN Nandi Julyanto.

Nandi menyampaikan sejumlah masukan terkait pengembangan ekspor otomotif Indonesia, termasuk peluang untuk memperluas pasar ke kawasan Amerika Latin. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi yang besar bagi pengembangan ekspor otomotif nasional.

Namun, peluang tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya dalam mengakses pasar Meksiko. Indonesia hingga kini belum memiliki perjanjian perdagangan dengan negara tersebut sehingga akses pasar menjadi salah satu perhatian bagi pelaku industri.

Nandi menegaskan, TMMIN akan terus memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia untuk memperkuat kontribusi ekspor Indonesia. Komitmen tersebut sejalan dengan upaya Toyota mempertahankan Indonesia sebagai supply hub bagi berbagai pasar sekaligus menjajaki tujuan ekspor baru.

Menanggapi masukan tersebut, Mendag Busan mendorong TMMIN untuk mengoptimalkan pasar-pasar yang telah memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia. Salah satunya adalah Peru melalui skema Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA) yang saat ini telah diimplementasikan.

Selain membuka akses pasar, pemerintah juga terus melakukan penyederhanaan proses ekspor, terutama dalam pemanfaatan fasilitas tarif yang tersedia melalui berbagai perjanjian perdagangan.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan sistem elektronik Surat Keterangan Asal (e-SKA). Sistem ini memungkinkan pemanfaatan SKA preferensi dilakukan secara otomatis sehingga diharapkan dapat mempermudah pelaku usaha dalam memperoleh fasilitas perdagangan.

Saat ini, fitur otomatisasi tersebut telah diterapkan untuk kegiatan ekspor ke Uni Emirat Arab, Hong Kong, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.

Mendag Busan menegaskan pemerintah akan terus membuka ruang dialog dengan dunia usaha untuk memastikan berbagai hambatan yang muncul dapat segera ditangani.

“Kami selalu terbuka menerima masukan dari pelaku usaha. Kalau ada kendala yang dihadapi, sampaikan kepada pemerintah agar dapat segera kami tindak lanjuti dan koordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait,” ujar Mendag Busan.